Kamis, 29 Oktober 2026
13:34 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Joanico da Costa

Bagikan:

Joanico Césario da Costa atau Juaniku (lahir di Bahu, Baucau, Timor Portugis, 1963;[1] juga Joanico Césario Belo)[2] adalah seorang bintara (sersan) dari Kopassus.[3][4][5]

Selama masa kecilnya ia adalah seorang pembantu di militer Indonesia (TBO) di Timor Timur yang diduduki.[5] Joanico kemudian menjadi wakil pemimpin milisi pro- Indonesia (Wanra) Saka (atau Sera) yang dibentuk pada tahun 1983, yang beroperasi di Baucau dari pangkalannya di Sorulai. Ketika bos Saka terbunuh pada tahun 1994, Joanico mengambil alih.[3] Dalam konteks referendum kemerdekaan di Timor Timur tahun 1999, milisi mengancam para pendukung kemerdekaan.[3][5][6] Joanico juga pernah menjadi Kepala Pasukan Pejuang Integrasi Timor Timur (PPI) di Sektor A (Baucau, Manatuto, Lospalos dan Viqueque).[1]

Saka disalahkan atas beberapa pembunuhan[2] dan pembakaran gedung, tetapi dianggap lebih moderat berkat Joanico. Milisi dikatakan memiliki keterlibatan yang terbatas dalam gelombang kekerasan tahun 1999 . Joanico kemudian melarikan diri ke Kupang.[7] Pada bulan Maret 2000, Joanico mencoba kembali ke tanah airnya. Dicampakkan oleh militer Indonesia, ia mengungkapkan kepada wartawan asing pada Oktober 2000 bahwa 200 anggota milisinya dilatih oleh Kopassus di Aileu dan di Cijantung.[3] Pada tahun 2003, Joanico diadili secara in absentia atas kejahatan yang dilakukan oleh milisi Special Panels for Serious Crimes (SPSC) di Dili.[1]

Joanico juga diyakini terlibat dalam penangkapan pemimpin gerilya Timor Leste Xanana Gusmão pada 1992.[8]

Referensi

  1. 1 2 3 SPECIAL PANEL FOR SERIOUS CRIMES: Indictment Case 33/2003, 7. Oktober 2003, diakses 4 Agustus 2019.
  2. 1 2 „Chapter 7.2 Unlawful Killings and Enforced Disappearances“, S. 246 (PDF; 2,5 MB) dari laporan "Chega!" CAVR (Bahasa Inggris)
  3. 1 2 3 4 Hamish McDonald, Desmond Ball, James Dunn, Gerry van Klinken, David Bourchier, Douglas Kammen, Richard Tanter: Masters of Terror, ANU 2002, diakses 5 Agustus 2019.
  4. ↑ John Braithwaite, Hilary Charlesworth, Adérito Soares: Networked Governance of Freedom and Tyranny: Peace in Timor-Leste, S. 100, ANU press 2012.
  5. 1 2 3 „Part 3: The History of the Conflict“, S. 128 (PDF; 1,4 MB) dari laporan "Chega!" CAVR (Bahasa Inggris)
  6. ↑ Child Soldiers Global Report 2001 - East Timor, diakses 4 Agustus 2019.
  7. ↑ The Australian: Torment of Timor's Damned, 16 November 1999, diakses 4 Agustus 2019.
  8. ↑ Human Rights Watch: Backgrounder: The Indonesian Army and Civilian Militias in East Timor April 1999, diakses 4 Agustus 2019.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan