Sabtu, 03 Oktober 2026
20:16 WIB
TERKINI
Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan

Jeong Duwon

Bagikan:
Ini adalah nama Korea; marganya adalah Jeong.
Jeong Duwon
Nama Korea
Hangul: 정두원
Hanja: 鄭斗源
Alih aksara
- Romanisasi: Jeong Duwon
- McCune-Reischauer: Chŏng Tu-wŏn

Jeong Duwon (b. 1581), juga dikenal sebagai Chong Tuwon,[1] adalah seorang mandarin dan diplomat Korea. Kesempatannya bertemu dengan seorang anggota misi Tiongkok Yesuit yang murah hati sangat memperluas pengetahuan bangsa Korea mengenai ilmu pengetahuan barat, teknologi, pengetahuan geografi, dan budaya berabad-abad sebelum Korea membuka perbatasannya bagi pengunjung sebenarnya dari luar negeri.

Kehidupan

Semasa misi diplomatik ke Ming di Beijing pada awal tahun 1631,[2] Jeong singgah di Dengzhou (kini Penglai) di pantai utara Shandong.[a] Rute normala adalah melalui darat, tetapi orang-orang Korea diwajibkan untuk melakukan perjalanan secara langsung menyeberangi Laut Kuning karena zona perang utara dibentuk oleh fase awal penaklukan Ming oleh Qing.[4] Di sana, dia bertemu dengan gubernur Kristen provinsi tersebut di bawah Ming, Ignatius Sun, yang memperkenalkannya kepada penerjemah Yesuit, João Rodrigues. Rodrigues bekerja dengan Gonçalo Teixeira-Correa untuk melatih pasukan Sun dalam penggunaan meriam bergaya Eropa. Dia memberikan sebuah kado pribadi berupa teleskopnya untuk Jeong,[1] yang menjadi alat serupa pertama yang dikenal di Korea.[5]

Dia juga memuatkan naskah-naskah Yesuit kepada Jeong mengenai astronomi dan sains lainnya[1] termasuk Catatan tentang Negeri-Negeri Asing karya Alenio (bahasa Korea:직방외기, Chikpang Oegi);[6][7] sebuah risalah mengenai artileri dan penggunaannya; dan sebuah panduan mengenai kebiasaan dan tata krama orang Eropa, serta karya-karya mengenai Kekristenan. Meskipun juga menerima beberapa senjata api Eropa,[b] Jeong paling menyanjung teleskop tersebut, karena dia mengerti arti pentingnya untuk peperangan.[1] Dia juga meminta kedua asistennya, Yi Yeonghu (이영후, 李栄後) dan Kolonel Jeong Hyogil (정효길, 鄭孝吉) berbicara dengan Rodrigues secara lebih terperinci, Yi mengenai geografi dan Kol. Jeong mengenai senjata api dan meriam Barat.[4] Sebuah catatan mengenai percakapan Yi masih bertahan . Dia sangat penasaran mengenai apakah benar atau tidak, Tiongkok—yang nama aslinya Zhōngguó (中國), secara harfiah berarti "Negeri (Kerajaan) Pusat (Tengah)"—nyata-nyata memang menempati bagian tengah (pusat) bumi. Rodrigues menjawab bahwa, karena bumi adalah sebuah bola, setiap negara sesungguhnya dapat mengklaim negeri mereka sebagai pusat bumi.[9]

Warisan

Yi Su-gwang telah mengumpulkan bahan yang cukup dari Yesuit selama kunjungan diplomatiknya sendiri pada tahun 1590-an sehingga dia dapat menyusun ensiklopedia Jibong yuseol. Seorang diplomat lain kembali bersama sebuah salinan peta dunia karya Ricci pada tahun 1603.[8] Meskipun demikian, bahan tambahan yang diberikan kepada Jeong tetap dihargai bersama pengenalan metode astronomi Barat berskala penuh[10] dan yurisprudensi[6][7] ke Korea. Misi Jeong masih diajarkan kepada anak-anak sekolah Korea sebagai perkenalan negara mereka terhadap ilmu pengetahuan, agama, dan budaya Barat.[8]

Lihat juga

Catatan

  1. ↑ Pertemuan ini kadang secara keliru dilaporkan terjadi di Beijing atau Nanjing (sebagaimana dalam Hulbert).[3]
  2. ↑ Senjata yang diberikan kepada Jeong secara beragam digambarkan sebagai sebuah meriam,[3] meriam lapangan kecil,[1] sebuah senapan lontak,[8] dan sepasang pistol.[3]

Referensi

Kutipan

  1. 1 2 3 4 5 Needham & al. (1986), hlm. 176.
  2. ↑ Needham & al. (1986), hlm. 175.
  3. 1 2 3 Hulbert (1905), hlm. 88.
  4. 1 2 Park (2000b), hlm. 33.
  5. ↑ Park (2000a).
  6. 1 2 Choi (1981).
  7. 1 2 Choi (1989), hlm. 4.
  8. 1 2 3 Park (2000b), hlm. 32.
  9. ↑ Park (2000), hlm. 33. sfnp error: tanpa target: CITEREFPark2000 (bantuan)
  10. ↑ Huh (2001).

Bibliografi

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan