Jumat, 30 Oktober 2026
14:05 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Jeong Duwon

Bagikan:
Ini adalah nama Korea; marganya adalah Jeong.
Jeong Duwon
Nama Korea
Hangul: 정두원
Hanja: 鄭斗源
Alih aksara
- Romanisasi: Jeong Duwon
- McCune-Reischauer: Chŏng Tu-wŏn

Jeong Duwon (b. 1581), juga dikenal sebagai Chong Tuwon,[1] adalah seorang mandarin dan diplomat Korea. Kesempatannya bertemu dengan seorang anggota misi Tiongkok Yesuit yang murah hati sangat memperluas pengetahuan bangsa Korea mengenai ilmu pengetahuan barat, teknologi, pengetahuan geografi, dan budaya berabad-abad sebelum Korea membuka perbatasannya bagi pengunjung sebenarnya dari luar negeri.

Kehidupan

Semasa misi diplomatik ke Ming di Beijing pada awal tahun 1631,[2] Jeong singgah di Dengzhou (kini Penglai) di pantai utara Shandong.[a] Rute normala adalah melalui darat, tetapi orang-orang Korea diwajibkan untuk melakukan perjalanan secara langsung menyeberangi Laut Kuning karena zona perang utara dibentuk oleh fase awal penaklukan Ming oleh Qing.[4] Di sana, dia bertemu dengan gubernur Kristen provinsi tersebut di bawah Ming, Ignatius Sun, yang memperkenalkannya kepada penerjemah Yesuit, João Rodrigues. Rodrigues bekerja dengan Gonçalo Teixeira-Correa untuk melatih pasukan Sun dalam penggunaan meriam bergaya Eropa. Dia memberikan sebuah kado pribadi berupa teleskopnya untuk Jeong,[1] yang menjadi alat serupa pertama yang dikenal di Korea.[5]

Dia juga memuatkan naskah-naskah Yesuit kepada Jeong mengenai astronomi dan sains lainnya[1] termasuk Catatan tentang Negeri-Negeri Asing karya Alenio (bahasa Korea:직방외기, Chikpang Oegi);[6][7] sebuah risalah mengenai artileri dan penggunaannya; dan sebuah panduan mengenai kebiasaan dan tata krama orang Eropa, serta karya-karya mengenai Kekristenan. Meskipun juga menerima beberapa senjata api Eropa,[b] Jeong paling menyanjung teleskop tersebut, karena dia mengerti arti pentingnya untuk peperangan.[1] Dia juga meminta kedua asistennya, Yi Yeonghu (이영후, 李栄後) dan Kolonel Jeong Hyogil (정효길, 鄭孝吉) berbicara dengan Rodrigues secara lebih terperinci, Yi mengenai geografi dan Kol. Jeong mengenai senjata api dan meriam Barat.[4] Sebuah catatan mengenai percakapan Yi masih bertahan . Dia sangat penasaran mengenai apakah benar atau tidak, Tiongkok—yang nama aslinya Zhōngguó (中國), secara harfiah berarti "Negeri (Kerajaan) Pusat (Tengah)"—nyata-nyata memang menempati bagian tengah (pusat) bumi. Rodrigues menjawab bahwa, karena bumi adalah sebuah bola, setiap negara sesungguhnya dapat mengklaim negeri mereka sebagai pusat bumi.[9]

Warisan

Yi Su-gwang telah mengumpulkan bahan yang cukup dari Yesuit selama kunjungan diplomatiknya sendiri pada tahun 1590-an sehingga dia dapat menyusun ensiklopedia Jibong yuseol. Seorang diplomat lain kembali bersama sebuah salinan peta dunia karya Ricci pada tahun 1603.[8] Meskipun demikian, bahan tambahan yang diberikan kepada Jeong tetap dihargai bersama pengenalan metode astronomi Barat berskala penuh[10] dan yurisprudensi[6][7] ke Korea. Misi Jeong masih diajarkan kepada anak-anak sekolah Korea sebagai perkenalan negara mereka terhadap ilmu pengetahuan, agama, dan budaya Barat.[8]

Lihat juga

Catatan

  1. ↑ Pertemuan ini kadang secara keliru dilaporkan terjadi di Beijing atau Nanjing (sebagaimana dalam Hulbert).[3]
  2. ↑ Senjata yang diberikan kepada Jeong secara beragam digambarkan sebagai sebuah meriam,[3] meriam lapangan kecil,[1] sebuah senapan lontak,[8] dan sepasang pistol.[3]

Referensi

Kutipan

  1. 1 2 3 4 5 Needham & al. (1986), hlm. 176.
  2. ↑ Needham & al. (1986), hlm. 175.
  3. 1 2 3 Hulbert (1905), hlm. 88.
  4. 1 2 Park (2000b), hlm. 33.
  5. ↑ Park (2000a).
  6. 1 2 Choi (1981).
  7. 1 2 Choi (1989), hlm. 4.
  8. 1 2 3 Park (2000b), hlm. 32.
  9. ↑ Park (2000), hlm. 33. sfnp error: tanpa target: CITEREFPark2000 (bantuan)
  10. ↑ Huh (2001).

Bibliografi

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan