Sabtu, 31 Oktober 2026
11:41 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Jean-Baptiste Berthier

Jean-Baptiste Berthier

Bagikan:
250px-Jean_Baptiste_Berthier_MS.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Jean-Baptiste Berthier

Jean-Baptiste Berthier (24 Februari 1840 – 16 Oktober 1908) adalah seorang imam Katolik Prancis, anggota Misionaris La Salette, penulis, pendidik, pengkhotbah, dan pendiri Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (Missionarii a Sacra Familia, MSF).[1] Ia dinyatakan sebagai Venerabilis Hamba Allah oleh Gereja Katolik setelah Paus Fransiskus mengesahkan dekret mengenai keutamaan-keutamaannya yang heroik pada 19 Mei 2018.[2]

Masa kanak-kanak dan masa muda

Jean Berthier lahir pada 24 Februari 1840 di Châtonnay, di wilayah selatan Prancis. Ia merupakan anak tertua dari Pierre dan Marie Berthier dan dibaptis dua hari setelah kelahirannya.

Ia dibesarkan dalam sebuah keluarga Kristen yang sederhana dan rajin bekerja. Sejak kecil, ia dibimbing untuk mencintai doa dan kehidupan iman. Berthier dikenal sebagai anak yang cerdas dan memiliki daya ingat yang baik. Di sekolah ia menunjukkan minat yang besar terhadap pelajaran, terutama bahasa Prancis, dan termasuk salah seorang murid terbaik di kelasnya.

Setelah menerima Komuni Kudus Pertama, ia mulai mempelajari bahasa Latin dengan keinginan untuk menjadi seorang imam. Sejak berusia sekitar delapan tahun, ia telah melayani sebagai putra altar.

Kehidupan religius dan imamat

Pada 14 Agustus 1862, Berthier memulai masa novisiat dalam Kongregasi Misionaris La Salette. Pada tahun yang sama, tepatnya 20 September 1862, ia ditahbiskan menjadi imam.

Karena berbagai penyakit yang dideritanya, masa novisiatnya diperpanjang hingga tiga tahun. Ia akhirnya mengucapkan profesi religius pertamanya pada 8 September 1865. Dalam catatan retret sebelum kaul religiusnya, ia menulis bahwa doa yang terus-menerus merupakan jalan keselamatan baginya.

Berthier tidak pernah menjalankan karya misi di luar negeri. Meskipun kesehatannya lemah, ia mengabdikan hampir empat puluh tahun hidupnya untuk pelayanan di La Salette. Ia melayani para peziarah, menulis kronik mengenai tempat ziarah tersebut, serta menerbitkan berbagai tulisan mengenai penampakan Santa Perawan Maria di La Salette.

Sebagai imam, ia menunjukkan aktivitas pastoral yang sangat besar. Selama lebih dari tiga puluh tahun ia berkhotbah dalam berbagai misi umat di sekitar enam belas keuskupan. Ia juga memberikan retret kepada para imam, seminaris, biarawan dan biarawati, serta umat awam.

Para atasannya melihat bakatnya dalam bidang pendidikan. Karena itu, pada tahun 1876–1894, Berthier dipercayakan sebagai direktur sekolah apostolik di La Salette. Ia juga menjalankan berbagai tugas dan tanggung jawab dalam Kongregasi Misionaris La Salette.

Selain karya pastoral dan pendidikan, Berthier merupakan seorang penulis yang produktif. Tulisan-tulisannya membahas berbagai persoalan kehidupan rohani dan iman Kristen. Kemampuannya dalam berkhotbah dan menulis membuatnya dikenal sebagai seorang pembimbing rohani dan pengkhotbah retret.[3][4]

Pendirian Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus

Pada akhir abad ke-19, Berthier semakin menyadari kebutuhan Gereja akan imam dan misionaris. Ia secara khusus memperhatikan para pria yang merasakan panggilan menuju imamat atau kehidupan misioner, tetapi tidak dapat memasuki seminari pada usia muda karena keadaan ekonomi atau usia mereka.

Karena itu, ia mengusulkan pembentukan sebuah lembaga yang secara khusus dapat menerima dan mendidik panggilan-panggilan yang terlambat untuk menjadi imam dan misionaris. Namun, gagasan tersebut tidak memperoleh persetujuan dari para superior Misionaris La Salette.

Berthier kemudian memutuskan untuk mendirikan sebuah kongregasi baru.

Pada 28 September 1895, di kota Grave, Belanda, ia mendirikan Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (Missionarii a Sacra Familia, MSF). Sebagai teladan dan pelindung utama kongregasi, ia memilih Keluarga Kudus Nazaret.

Dua perhatian utama yang diletakkannya di jantung karya kongregasi adalah misi Gereja dan pembinaan panggilan-panggilan baru. Berthier ingin agar para anggota kongregasi mewartakan Injil terutama di tempat-tempat di mana Gereja membutuhkan tenaga misioner.

Rumah pertama kongregasi berada di sebuah bekas barak militer di Grave. Di tempat inilah komunitas pertama Misionaris Keluarga Kudus mulai berkembang.

Salah satu kegembiraan terbesar Berthier sebagai pendiri adalah ketika para novis pertama mengucapkan kaul religius pada tahun 1900. Enam orang novis menjadi anggota pertama yang secara resmi mengikatkan diri kepada kongregasi yang baru didirikannya.[5]

Karya yang dimulai Berthier kemudian berkembang menjadi sebuah kongregasi internasional. Para Misionaris Keluarga Kudus akhirnya diutus ke berbagai negara dan benua untuk menjalankan pelayanan pastoral, pendidikan dan karya misioner. Di Indonesia sendiri, MSF kemudian mulai berkarya pada tahun 1926.

Wafat dan proses beatifikasi

Pada 16 Oktober 1908, Jean Berthier meninggal dunia di Grave pada usia 68 tahun.

Pada pagi hari itu ia bangun bersama komunitas seperti biasa dan berjalan di kamarnya. Tidak lama kemudian ia merasa sangat lemah dan jatuh ke lantai. Ketika mendapat pertolongan medis dan menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit, ia beberapa kali mengungkapkan keinginannya untuk merayakan Misa Kudus. Namun, kondisi tubuhnya tidak lagi memungkinkan.

Berthier meninggal setelah menjalani sekitar 47 tahun kehidupan sebagai seorang imam. Ia wafat dalam reputasi kesucian yang telah dikenal oleh orang-orang yang mengenalnya.

Upaya untuk memulai proses beatifikasinya telah dilakukan sejak 1926. Pada tahun 1930, Ordinaris Keuskupan 's-Hertogenbosch memberikan imprimatur untuk sebuah doa yang digunakan secara pribadi untuk memohon beatifikasi Berthier. Pada tahun 1936 seorang postulator ditunjuk untuk menangani proses tersebut.

Proses tersebut kemudian terhenti akibat Perang Dunia II, tetapi setelah perang berakhir persiapannya dilanjutkan kembali.

Proses keuskupan secara resmi dimulai pada 21 Desember 1950 di Keuskupan 's-Hertogenbosch. Di Tilburg, Belanda, para saksi yang secara pribadi mengenal Jean Berthier memberikan kesaksian di hadapan tribunal gerejawi. Sidang terakhir berlangsung pada 18 Maret 1953 di Istana Keuskupan 's-Hertogenbosch.

Setelah proses yang panjang, pada 19 Mei 2018, Paus Fransiskus mengesahkan dekret mengenai keutamaan-keutamaan heroik Jean Berthier. Dengan demikian, Gereja Katolik mengakuinya sebagai Venerabilis dan proses menuju beatifikasinya terus berlanjut.[6]


Referensi

  1. ↑ "Our Founder - Missionaries of the Holy Family". msf-america.org. Diakses tanggal 2026-09-29.
  2. ↑ "Berthier, Jean Baptiste | Encyclopedia.com". www.encyclopedia.com. Diakses tanggal 2026-09-29.
  3. ↑ "Our Founder - Missionaries of the Holy Family". msf-america.org. Diakses tanggal 2026-09-29.
  4. ↑ Przezdziecki, Henryk. "History of Congregation". www.lasalette.info. Diakses tanggal 2026-09-29.
  5. ↑ "Our Founder - Missionaries of the Holy Family". msf-america.org. Diakses tanggal 2026-09-29.
  6. ↑ "Pope confirms heroic virtues of 12 Servants of God - Vatican News". www.vaticannews.va (dalam bahasa Inggris). 2018-05-21. Diakses tanggal 2026-09-29.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan