Gaya atau nada penulisan artikel ini tidak mengikuti gaya dan nada penulisan ensiklopedis yang diberlakukan di Wikipedia. Bantulah memperbaikinya berdasarkan panduan penulisan artikel. (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini) |
Artikel ini berisi konten yang ditulis dengan gaya sebuah iklan. Bantulah memperbaiki artikel ini dengan menghapus konten yang dianggap sebagai spam dan pranala luar yang tidak sesuai, dan tambahkan konten ensiklopedis yang ditulis dari sudut pandang netral dan sesuai dengan kebijakan Wikipedia. |
Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) adalah kelompok kader muda Muhammadiyah yang memadukan pemikiran keagamaan dengan Ilmu Sosial Kritis dan Gerakan Sosial Baru. JIMM didirikan pada 9 Oktober 2003 di Puncak, Bogor, Jawa Barat, sebagai wadah bagi kader muda Muhammadiyah untuk mengembangkan pemikiran Islam progresif.[1]
Sejarah dan Latar Belakang
Gagasan pembentukan JIMM berawal dari lokakarya tentang intelektualisme Muhammadiyah yang diselenggarakan oleh The Maarif Institute for Culture and Humanity, sebuah lembaga think tank yang fokus pada isu Islam, kebebasan, dan humanisme. Dalam lokakarya tersebut, sejumlah intelektual Muhammadiyah seperti Moeslim Abdurrahman, Ahmad Syafii Maarif, Haedar Nashir, dan Zuly Qodir mengusulkan perlunya membangun jejaring intelektual di kalangan aktivis muda Muhammadiyah untuk mengintensifkan pengembangan pemikiran progresif.[2]
JIMM lahir sebagai bentuk penyegaran dan penolakan terhadap pemikiran keagamaan yang cenderung skripturalis serta puritan di dalam tubuh persyarikatan. JIMM menggali inspirasi awal dari semangat Teologi Al-Ma’un yang diajarkan oleh K.H. Ahmad Dahlan untuk membela kaum tertindas dan merespons masalah zaman. JIMM menghadirkan diskursus Islam yang lebih kosmopolitan, inklusif, serta terbuka terhadap pluralisme agama dan multikulturalisme, dengan tiga Pilar Gerakan, yaitu:
- Hermeneutika: Membaca dan menafsirkan teks keagamaan secara kontekstual, kritis, dan dinamis.
- Ilmu Sosial Kritis: Menganalisis ketimpangan sosial, politik, dan budaya di tengah masyarakat modern.
- Gerakan Sosial Baru: Terlibat aktif dalam advokasi isu-isu kemanusiaan, demokrasi, dan keadilan sosial
Setelah sempat vakum, JIMM kembali digulirkan pada tahun 2023, dipantik dari pertemuan para alumni seperti Prof. Zakiyuddin Baidhawy, Andar Nubowo, dan Hamzah Fansuri di Muktamar Muhammadiyah tahun 2022 di Solo. Kongres JIMM terakhir diselenggarakan pada 22-24 Desember 2023 di Yogyakarta dengan tajuk "Muktamar Pemikiran Islam Kaum Muda".[3][4]
Ideologi dan Pemikiran
JIMM berfokus pada pengarusutamaan moderasi beragama, dialog lintas iman, dan penghargaan terhadap harkat kemanusiaan. Sempat menuai perdebatan internal pada masa awal kemunculannya, namun kini semakin diterima sebagai bagian dari kekayaan intelektual andalan warga muda Muhammadiyah. JIMM mengusung ideologi Islam Progresif (Islam Berkemajuan) yang berakar pada pemikiran pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, khususnya Teologi Al-Ma'un dan gerakan Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO). Ideologi ini menggabungkan dua jalur utama: liberalisasi (kebebasan berpikir dan berekspresi dalam memahami ajaran agama) dan liberasi sosial (keterlibatan dalam misi emansipasi sosial untuk membantu kelompok marginal).
Intelektual mentor utama JIMM, Moeslim Abdurrahman, memperkenalkan konsep Islam Transformatif, yaitu "sebuah impian teologis, yakni bagaimana agar makna agama bisa diperebutkan oleh mereka yang terpinggirkan ... bagaimana Islam boleh menjadi ruh pembelaan bagi mereka yang sengsara tatkala mereka yang menindas dengan kekuasaannya juga menggunakan pembenaran agama yang sama.[5]
Beberapa tokoh JIMM kini menduduki posisi strategis di lembaga think tank Muhammadiyah. Andar Nubowo memimpin Maarif Institute for Culture and Humanity, sementara Ahmad Fuad Fanani menjabat sebagai direktur eksekutif Centre for Dialogue among Civilizations (CDCC). Keduanya merupakan pendiri JIMM yang menempuh studi doktoral di universitas terkemuka di Prancis dan Australia.
JIMM juga aktif dalam diskursus keilmuan Muhammadiyah, seperti dalam forum kajian Tafsir At-Tanwir yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada Oktober 2025, yang membahas rancang bangun tafsir resmi Muhammadiyah dengan pendekatan tematik, kontekstual, dan ideologis.[6]
Referensi
- ↑ Hasnan Bachtiar, Pradana Boy Zulian, Yusuf Rohmat Yanuri, Yahya Fathur Rozy (2024). "Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (Jimm) And The Ideology Of Progressive Islam: Construction, Genealogy, And Current Development". Journal of Indonesian Islam. 18 (2). doi:10.15642/JIIS.2024.18.2.427-453.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) - ↑ Andar Nubowo (Senin, 17 November 2003). "Kebangkitan Intelektual Muda Muhammadiyah". Kompas.
{{cite news}}: Periksa nilai tanggal dalam:|date= - ↑ Nirwansyah (2023-12-23). "Muktamar Pemikiran JIMM". mediaindonesia.com. Diakses tanggal 2026-07-23.
- ↑ Wisnu Arto Subari (2024-01-02). "JIMM kembali Gelar Muktamar Pemikiran Islam Kaum Muda 2023". mediaindonesia.com. Diakses tanggal 2026-07-23.
- ↑ Muhammad Ainun Najib, Ahmad Khoirul Fata (Juli 2025). "From Wahabi Pesantren to Progressive Islam: Socio-Intelectual Legacy of Moeslim Abdurrahman (1948-2012)". Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies. 9 (1): 144–171. doi:10.30821/jcims.v9i1.23507.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Indonesia: Young Muhammadiyah Intellectual Network (JIMM) Activists Strengthen Progressive Influence Within Muhammadiyah". FULCRUM (dalam bahasa American English). 2025-10-13. Diakses tanggal 2026-07-23.