Minggu, 11 Oktober 2026
17:21 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka
Jalak bali

Jalak bali

spesies burung

Bagikan:
Jalak bali
250px-Bali_Myna_0A2A9443.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Passeriformes
Famili: Sturnidae
Genus: Leucopsar
Spesies:
L. rothschildi
Nama binomial
Leucopsar rothschildi
Lua error in mw.lua at line 656: invalid value (nil) at index 1 in table for 'concat'.

Jalak Bali atau Curik Bali (Leucopsar rothschildi) adalah sejenis burung pengicau berukuran sedang dari suku Sturnidae yang endemik Pulau Bali, Indonesia.[2][1] Panjang tubuhnya sekitar 25 cm.[2][3] Burung ini merupakan satu-satunya spesies vertebrata endemik Bali yang masih hidup.[2] Pada tahun 1991, Jalak Bali dinobatkan sebagai lambang fauna Provinsi Bali.[2]

Jalak Bali ditemukan pertama kali pada tahun 1910 di pantai utara Bali.[2] Nama ilmiahnya diberikan oleh ornitolog Jerman Erwin Stresemann pada tahun 1912 untuk menghormati Walter Rothschild.[2] Genus Leucopsar bersifat monotipik.[2]

Burung ini berstatus Critically Endangered menurut IUCN dan termasuk Appendix I CITES.[1][4] Populasi liarnya pernah turun hingga hanya 6 ekor pada 2001–2006,[2][5] namun kini meningkat signifikan berkat program penangkaran dan pelepasliaran.[6][5]

Taksonomi

Jalak Bali ditempatkan dalam genus monotipik Leucopsar (dari bahasa Yunani leukos = putih + psar = jalak).[2] Analisis genetik menunjukkan hubungan terdekat dengan genus Sturnia, khususnya jalak brahminy (Sturnia pagodarum).[2][7]

Nama ilmiah lengkap: Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912. Lokasi tipe: Bubunan, pantai utara Bali.[2]

Morfologi

Ciri-ciri morfologis jalak bali:[2][3][8]

  • Bulunya 90% berwarna putih bersih, ujung bulu sayap dan ekor berwarna hitam (lebar ±25 mm).
  • Kulit gundul di sekitar mata berwarna biru tua.
  • Paruh runcing, panjang 2–3 cm, ujung kuning kecoklatan, pangkal abu-abu kehitaman.
  • Kaki berwarna abu-abu.
  • Memiliki jambul panjang yang menjuntai (lebih panjang dan tebal pada jantan).
  • Panjang total tubuh ±25 cm, berat badan 70–115 gram (rata-rata 95–108 gram).[2][3]
250px-Leucopsar_rothschildi%2C_Bali_Birding_Tour_National_Park%2C_Bali%2C_Indonesia_2.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Jalak Bali di Taman Nasional Bali Barat
250px-Leucopsar_rothschildi_-Topeka_Zoo%2C_Kansas%2C_USA_-head-8a.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Close-up kepala
250px-Leucopsar_rothschildi_Safari_Park_3.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tampak samping

Perbedaan Jantan dengan Betina

Meskipun secara umum monomorfik, terdapat perbedaan subtle:[3]

  • Kepala jantan lebih besar dan memanjang, jambul lebih panjang.
  • Tubuh jantan lebih besar dan gagah; betina lebih ramping.

Suara

Kicauan khas berupa campuran siul dengan jeda nada dan lengkingan. Burung ini sangat vokal dan terkadang meniru suara burung lain.[2] Penelitian bioakustik mencatat sekitar 15 tipe suara (10 call dan 5 song).[9]

Kicauan Jalak Baliⓘ

Perilaku dan Ekologi

Jalak Bali bersifat diurnal dan arboreal. Di habitat alami mereka cenderung tidak mencolok dan jarang turun ke tanah kecuali untuk minum atau mencari bahan sarang.[2][10] Radius pergerakan harian 3–10 km. Aktivitas dimulai sekitar pukul 05.00–05.30 WITA dan berhenti sekitar 18.45 WITA.[10]

Mereka menyukai kebersihan: sering mandi dan melakukan preening serta berjemur.[10]

Makanan

Omnivora. Makanan utama meliputi buah-buahan (Ficus, Lantana camara, Sterculia foetida, Manilkara kauki, dll.), serangga, cacing, dan nektar dari pohon Erythrina.[2][11]

Reproduksi

Bersifat monogamus.[3] Musim kawin utama September–Mei, puncak Januari–Maret.[2][3] Jumlah telur 2–3 butir, masa inkubasi 12–16 hari, masa di sarang 22–28 hari.[2][3] Kedua induk merawat anak hingga beberapa minggu setelah meninggalkan sarang.[2]

Habitat dan Penyebaran

Habitat alami: hutan musim dataran rendah, savana, hutan mangrove, dan tepi hutan di bawah 175 m dpl.[2][10] Penyebaran alami hanya di barat laut Bali, terutama di dalam dan sekitar Taman Nasional Bali Barat.[2][10]

Populasi introduksi terdapat di Nusa Penida sejak 2006 dan beberapa desa adat di Tabanan, Badung, serta Payangan.[6][5]

Populasi

Estimasi historis:[2][10][5]

  • 1910: 300–900 ekor
  • 1984: 125–180 ekor
  • 1988: ±37 ekor
  • 1990: 12–18 ekor
  • 1998: 10–14 ekor
  • 2001–2006: hanya 6 ekor (titik terendah)

Setelah program pelepasliaran intensif:[6][5]

  • 2012: ±15 ekor di TNBB
  • 2021: ±420 ekor di TNBB
  • 2023: sekitar 600 ekor di dan sekitar TNBB

Populasi di Nusa Penida dan lokasi komunitas lain juga meningkat pada 2022–2026.[6][12]

Status Konservasi dan Upaya Pelestarian

Status IUCN: Critically Endangered (CR) sejak 1994.[1][2] Dilindungi penuh di Indonesia sejak 1970 (PP No. 7 Tahun 1999) dan Appendix I CITES.[4]

Ancaman utama: perburuan liar untuk perdagangan burung kicau, kehilangan habitat, dan predasi.[2][6][10]

Upaya konservasi yang berjalan:[6][5]

  • Program Bali Starling Project sejak 1983
  • Pelepasliaran oleh Taman Nasional Bali Barat, BKSDA, Begawan Foundation, dan FNPF
  • Sistem “breeding loan” (peternak wajib mengembalikan 10% anak ke alam)
  • Perlindungan berbasis awig-awig masyarakat di Nusa Penida dan desa-desa di Bali
  • Penyediaan nest-box buatan

Dalam Budaya

Jalak Bali adalah lambang fauna Provinsi Bali sejak 1991.[2] Gambarnya muncul pada koin Rupiah Indonesia:

  • Koin Rp25 tahun 1971
  • Koin Rp50 tahun 1993
  • Koin Rp200 tahun 2003–2008[13][14]

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 3 4 "Leucopsar rothschildi". IUCN Red List of Threatened Species. Version 2021-3. International Union for Conservation of Nature. 2021. Diakses tanggal 23 Juli 2026. {{cite web}}: |ref=harv tidak valid; Kutipan memiliki parameter tidak dikenal yang kosong: |last-author-amp=; Parameter tidak dikenal |authors= diabaikan
  2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 "Bali Myna (Leucopsar rothschildi)". BirdLife International Data Zone. Diakses tanggal 23 Juli 2026.
  3. 1 2 3 4 5 6 7 Mas’ud B. 2010. Teknik Menangkarkan Burung Jalak di Rumah. Bogor: IPB Press.
  4. 1 2 Templat:CITES
  5. 1 2 3 4 5 6 "Dua Dekade, Jalak Bali dari 6 Ekor Jadi 600 Ekor". detikBali. 10 Agustus 2023. Diakses tanggal 23 Juli 2026.
  6. 1 2 3 4 5 6 Squires, Tom (2023). "The road to recovery: conservation management for the Critically Endangered Bali myna shows signs of success". Oryx. doi:10.1017/S0030605323000777.
  7. ↑ "Phylogenetic relationships of starlings". Molecular Phylogenetics and Evolution. 2008.
  8. ↑ Thohari M. 1987. Gejala inbreeding dalam penangkaran satwaliar. Media Konservasi 1(4): 1-10.
  9. ↑ "Suara Jalak Bali yang Bermakna". Animalium. 5 September 2022. Diakses tanggal 23 Juli 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  10. 1 2 3 4 5 6 7 Alikodra, HS. 1987. Masalah pelestarian jalak bali. Media Konservasi 3(4).
  11. ↑ "Jenis-jenis tumbuhan sebagai sumber pakan Jalak Bali di Nusa Penida". Biodiversitas. 2022.
  12. ↑ "Populasi Jalak Bali berkembang pesat". Antara News Bali. Diakses tanggal 23 Juli 2026.
  13. ↑ "Currency Image – Rp 200 Burung Jalak Bali". Bank Indonesia. Diakses tanggal 23 Juli 2026.
  14. ↑ "Rp50 Burung Jalak Bali 1993". Priangan Insider. 2025. Diakses tanggal 23 Juli 2026.

Pranala luar

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Leucopsar rothschildi.
Wikispecies logo
Wikispecies mempunyai informasi mengenai Leucopsar rothschildi.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan