Sabtu, 31 Oktober 2026
12:34 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Koloni Labuan

Koloni Labuan

Bagikan:
Koloni Mahkota Labuan
Pulau Labuan
纳闽
1848–1890

1904–1906

1912–1941

1945–1946
Bendera 1912–1946
Bendera
Lencana Labuan
Lencana
Lagu kebangsaan: God Save the King/Queen
250px-Labuan_in_Malaysia_%28special_marker%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
  Labuan saat ini, di   Malaysia
StatusKoloni
Ibu kotaVictoria
Bahasa umum
Pemerintahan
Penguasa Monarki 
• 1837–1901
Ratu Victoria
• 1936–1952
George VI
Gubernur Pertama 
• 1847–1852
James Brooke
Era SejarahKekaisaran Britania
• Pendirian koloni
1848
• Ditransfer ke Borneo Utara
1890
• Dimasukkan dalam Negeri-Negeri Selat
1907
• Terpisah sebagai koloni sendiri
1912
1941
• Labuan menjadi Mahkota Borneo Utara
15 Juli 1946
• Federasi
16 September 1963
Luas
• Total
91,64 km2 (35,38 sq mi)
91,64 km2 (35,38 sq mi)
Mata uang
Didahului olehDigantikan oleh
ksrKekaisaran
Brunei
Borneo Utara
Negeri-Negeri Selat
Pendudukan Jepang di Borneo Britania
Borneo Utara
Negeri-Negeri Selat
Pendudukan Jepang di Borneo Britania
Koloni Mahkota Borneo Utara
Sekarang bagian dari Malaysia

Labuan, yang terdiri dari Pulau Labuan besar dan enam pulau kecil (Pulau Burung, Pulau Daat, Pulau Kuraman, Pulau Papan, Pulau Rusukan Kecil, dan Pulau Rusukan Besar). Sejak abad ke-15, Labuan menjadi bagian dari Brunei dan pulau tersebut menjadi tempat berlindung bagi kapal-kapal dari angin ribut dan serangan bajak laut. Kemudian pada 1846, Labuan dikuasai Britania Raya pada 1848 untuk dijadikan koloni mahkota di bawah Traktat Labuan.

Pada 1890, kawasan tersebut diperintah oleh Perusahaan Borneo Utara Britania. Kawasan tersebut jatuh ketangan kekuasaan pemerintah Inggris pada 1904. Kemudian, pada 1 Januari 1907, kawasan tersebut digabung dengan Negeri-Negeri Selat dan diperintah dari Singapura, ibu kota Negeri-Negeri Selat, sampai 1912. Pada 1912, Labuan dijadikan koloni mahkota terpisah lagi.

Pada Perang Dunia II, Labuan diduduki oleh Jepang dari Desember 1941 sampai Juni 1945 dan dikuasai sebagai bagian dari unit militer Borneo Utara oleh Angkatan Darat ke-37 Jepang. Labuan berganti nama menjadi Pulau Maida (前田島 Maeda-shima) yang mengambil nama dari Marquis Toshinari Maeda, komandan pasukan Jepang pertama di utara Borneo. Pembebasan Borneo dimulai pada 10 Juni 1945 ketika Pasukan Sekutu yang berada di bawah komando Jenderal McArthur mendarat di Labuan dengan konvoi 100 kapal. Divisi Australia ke-9 meluncurkan sebuah serangan yang didukung oleh bombardemen laut dan udara yang mengakibatkan Jepang menyerah. Pada 9 September 1945, Jenderal Masao Baba, komandan militer Jepang, menyerah di pantai Layang-layang kepada Mayor Jenderal George F. Wooten, komandan Divisi ke-9 Australia. Labuan kembali menggunakan nama lamanya dan berada di bawah pemerintahan militer Inggris bersama dengan sisa-sisa Negeri-Negeri Selat, kemudian digabung dengan Koloni Mahkota Borneo Utara, pada 15 Juli 1946, yang kemudian menjadi bagian dari Malaysia sebagai negara bagian Sabah pada 16 September 1963.

Labuan kemudian dipisahkan dari Sabah, menjadi Teritorial Federal, yang diurus oleh pemerintah federal, pada bApril 1984.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan