Jumat, 23 Oktober 2026
16:25 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada
Invasi Ceylon (1795)

Invasi Ceylon (1795)

artikel daftar Wikimedia

Bagikan:
Invasi Ceylon
Bagian dari the Perang Revolusi Prancis
Ceylon Belanda
Ceylon Belanda, 1789
Tanggal21 Juli 1795 – 16 Februari 1796
Lokasi
Koloni Belanda di Ceylon
Hasil Kemenangan Britania
Pihak yang terlibat
 Britania Raya  Republik Batavia
Pemimpin atau tokoh terkemuka
Peter Rainier
James Stuart
Johan Van Angelbeek
Korban jiwa dan kerugian
16 tewas, 60 terluka, HMS Diomede hancur Pulau, seluruh garnisun dan sejumlah besar peralatan militer direbut.

Invasi Ceylon adalah sebuah kampanye militer dengan pertempuran sebagai serangkaian peperangan amfibi antara musim panas tahun 1795 dan musim semi tahun 1796 antara garnisun koloni-koloni Batavia di Samudra Hindia Pulau Ceylon (kini Sri Lanka) dan sebuah pasukan invasi Britania yang dikirim dari India Britania. Republik Belanda telah menjadi sekutu Britania selama Perang Revolusi Prancis, tetapi dikuasai oleh Republik Prancis dalam musim dingin tahun 1794 dan dirombak menjadi negara pengekor Republik Batavia. Pemerintah Britania, bekerja dengan Stadtholder yang diasingkan, William dari Oranye, memerintahkan pengambilalihan aset-aset Batavia termasuk koloni-koloni bekas Imperium Belanda. Di antara wilayah pertama yang diserang adalah wilayah-wilayah yang berada di pantai Pulau Ceylon, dengan operasi yang awalnya difokuskan pada pelabuhan perdagangan di Trincomalee.

Untuk melaksanakan pengambilalihan koloni, pemerintah Britania menginstruksikan Lord Hobart, Gubernur Madras menggunakan pasukan yang dimilikinya untuk menyerbu dan merebut bagian-bagian pulau yang dikuasai Batavia. Pelaksanaan kampanye militer ini diserahkan kepada Kolonel James Stuart, didukung oleh pasukan angkatan laut di bawah Laksamana Muda Peter Rainier. Stuart meminta Gubernur Batavia Johan Van Angelbeek untuk menyerahkan koloninya dengan damai dan banyak pos perdagangan direbut tanpa perlawanan, tetapi pasukan Stuart menghadapi perlawanan di Trincomalee pada Agustus 1795 dan sebentar di Kolombo pada bulan Februari 1796. Setelah pengepungan singkat, pasukan Britania berhasil memperoleh penguasaan koloni Belanda tersebut, dan Ceylon akan tetap menjadi bagian dari Imperium Britania selama 153 tahun ke depan.

Latar belakang

Pada tahun 1793, Kerajaan Britania Raya dan Republik Belanda terjun ke kancah perang dengan Republik Prancis, bergabung dalam Perang Revolusi Prancis yang sedang berlangsung. Meskipun ada perlawanan dari Angkatan Darat Kerajaan Belanda dan pasukan ekspedisi Britania, Republik Belanda dikuasai oleh Prancis pada musim dingin 1794–1795, Prancis merombak negara itu menjadi Republik Batavia, sebuah negara pengekor pemerintahan Prancis.[1] Meskipun perang antara Britania dan Republik Batavia belum diumumkan, pemerintah Britania mengirim instruksi pada tanggal 19 Januari untuk merampas pelayaran Batavia dan, bersama dengan Stadtholder William dari Oranye, yang tinggal dalam pengasingan di London, agar koloni-koloni Batavia dinetralkan untuk menolak penggunaannya bagi Prancis. Pada 9 Februari, perintah-perintah ini memuncak dengan pecahnya perang antara Britania dan Republik Batavia.[2]

Catatan

  1. ↑ Chandler, p. 44.
  2. ↑ Woodman, p. 53.

Referensi

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan