Kamis, 01 Oktober 2026
06:52 WIB
TERKINI
Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Kekacauan Komunikasi Fatal: KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Maut KA di Bekasi Berita Terkuak Pemilik Miras dan Barang Mewah di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Kekacauan Komunikasi Fatal: KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Maut KA di Bekasi Berita Terkuak Pemilik Miras dan Barang Mewah di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh
Imron Cotan

Imron Cotan

Bagikan:
Imron Cotan
Imron_Cotan%2C_Indonesian_Ambassador_to_Australia.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail_unscaled
Lahir
Imron Cotan

21 Desember 1954 (umur 71)
AlmamaterUniversitas Gadjah Mada
PekerjaanPegawai Negeri, Diplomat dan Pengamat
Pasangan menikahSri Nuraeni Cotan

Prof. Dr. Imron Cotan (lahir 21 Desember 1954) adalah seorang Diplomat dan Pemerhati Politik Internasional dan isu-isu strategis pernah menjabat duta besar Indonesia untuk Australia tahun 2003-2005 dan Tiongkok tahun 2010-2013. Ia merupakan alumni Universitas Gadjah Mada.

Kehidupan dan karier

Imron lahir pada 21 Desember 1954. Ia lulus dari Universitas Gadjah Mada sebelum bergabung dengan Departemen Luar Negeri Indonesia pada tahun 1982. Setelah menyelesaikan program studi diplomat junior, sebagai salah-satu lulusan terbaik pada tahun 1984, ia mengambil peran dalam mempromosikan pelestarian lingkungan internasional.

Ketika dipercaya sebagai pejabat diplomatik madya, Imron berperan sebagai juru runding utama Indonesia di forum multilateral PBB, yang membahas Konvensi Pelarangan Senjata Nuklir (PTBT dan NPT), Konvensi Pelarangan Senjata Kimia (CWC), Konvensi Pelarangan Senjata Biologi (BWC), dan Konvensi Sampah Beracun (Basel Convention) pada kurun waktu 1986 - 1997.

Sekembali dari penugasan di Perutusan Tetap RI di Jenewa, Imron direkrut untuk turut membantu administrasi Presiden BJ Habibie, Presiden Abdurrahman Wahid (Gud Dur), dan Presiden Megawati Soekarnoputri, dengan tugas utama sebagai anggota tim naskah kepresidenan (pidato dan korespondensi internasional) dan juga menyajikan policy analysis terkait dengan isu-isu regional dan global (1997 - 2002). [1]

Pada November 2003, Imron menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Australia. Berbicara tentang waktunya di Australia di akhir posting pada tahun 2005, Imron menceritakan bahwa hubungannya sulit saat pertama kali datang ke Canberra pada tahun 2003 karena peristiwa yang terjadi di Timor Timur pada tahun 1999.[2] Imron mengatakan bantuan dan pertolongan yang diberikan militer Australia kepada Indonesia setelah gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia 2004 telah mendekatkan kedua negara.[3] Namun dia mengatakan bahwa dia terkejut dengan cara orang Australia bereaksi terhadap penangkapan dan hukuman Schapelle Corby karena penyelundupan narkoba pada tahun 2004-05 —beberapa orang Australia ingin bantuan tsunami negara itu diperhitungkan dalam hukuman Corby.[2]

Cotan diangkat menjadi Duta Besar Indonesia untuk Tiongkok pada 2010. Dalam wawancara pada 2011, Cotan mengaku bangga melihat hubungan kedua negara mencapai titik tertinggi yang pernah ada.[4] Selama menjadi duta besar, Pemerintah Indonesia membuka konsulat jenderal di Shanghai, yang diharapkan dapat meningkatkan hubungan kedua negara.[butuh rujukan]

Referensi

  1. ↑ "CV Of The Ambassador Extraordinary And Plenipotentiary Of The Republic of Indonesia To The Commonwealth Of Australia: H.E. Mr. IMRON COTAN". 2013-04-25. Diarsipkan dari versi asli pada 2013-04-25. Diakses tanggal 2017-04-23.
  2. 1 2 "Departing Cotan reflects". ABC News. Australian Broadcasting Corporation. 21 September 2005. Diarsipkan dari asli tanggal 2 Oktober 2016.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ Banham, Cynthia; Allard, Tom; Metherell, Mark (5 Januari 2005). "Indonesia, Australia closer than ever". The Sydney Morning Herald. Fairfax Media. Diarsipkan dari asli tanggal 30 November 2013.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ "Indonesia´s ambassador to China says political stability the key to prosperity". The World Folio. 2011. Diarsipkan dari asli tanggal 2 Oktober 2016.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Jabatan diplomatik
Didahului oleh:
Sudjadnan Parnohadiningrat
Duta Besar Indonesia untuk Australia
2003–2005
Diteruskan oleh:
Teuku Mohammad Hamzah Thayeb
Didahului oleh:
Sudrajat
Duta Besar Indonesia untuk Tiongkok
2010–2013
Diteruskan oleh:
Sugeng Rahardjo
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan