Minggu, 18 Oktober 2026
17:55 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten
Hossein Ali Mirza

Hossein Ali Mirza

Bagikan:
Hossein Ali Mirza
حسین‌علی میرزا
Shah (klaim)
Gubernur-Pangeran[1]
Farman Farma
250px-Hosseinali_Mirza.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Hossein Ali Mirza Farman Farma karya Mihr 'Ali. Lukisan ini, yang berada di Istana Golestan, rusak tak lama setelah Revolusi Iran.[2]
Shah Iran (klaim)
Berkuasa24 Oktober 1834 – Desember 1834
PenentangMohammad Shah Qajar
Gubernur Fars
Masa jabatan1799 – Desember 1834
PendahuluMohammad-Ali Mirza Dowlatshah
PenerusMirza Nabi Khan Qazwini
Lahir26 Agustus 1789
Amol, Iran
Meninggal16 Januari 1835(1835-01-16) (umur 45)
Ardabil, Iran
Pemakaman
Masyhad, Iran
AyahFath-Ali Shah Qajar
IbuBadr Jahan Khanom
DinastiQajar
AgamaSyiah Dua Belas Imam

Hossein Ali Mirza (Persia: حسین‌علی میرزا, alih aksara: Ḥosayn-ʿAlī Mīrzā; 26 Agustus 1789 – 16 Januari 1835), putra Fath-Ali Shah (memerintah 1797–1834), adalah gubernur Fars dan penuntut takhta Iran Qajar.

Sebagai gubernur, Hossein Ali Mirza memulihkan Shah Cheragh setelah mengalami kerusakan akibat gempa bumi tahun 1795. Ia membuka makam para shah Akhemeniyah untuk mencari emas, tetapi menemukannya kosong. Selama pemerintahannya, kota Shiraz mengalami pajak tinggi dan keamanan yang buruk. Hossein Ali Mirza memperoleh kemandirian dari pemerintahan Hajji Mohammad Hossein Isfahani, menyewakan pelabuhan Bushehr kepada Inggris, dan berhenti membayar pajak setelah 1828, sehingga menunggak pajak sebesar 200.000 toman kepada mahkota.

Setelah kematian Fath-Ali Shah, Pangeran Mohammad Mirza dinobatkan sebagai shah dengan gelar Mohammad Shah Qajar. Namun, Hossein Ali Mirza, yang sebelumnya berada di urutan kelima dalam garis suksesi takhta, memimpin pemberontakan dan menyatakan dirinya sebagai Hossein Ali Shah. Setelah dua bulan, ia dikalahkan di Shiraz oleh Manuchehr Khan Gorji. Atas perintah Mohammad Shah, Hossein Ali Mirza dibutakan dan dipenjarakan di Ardabil, tempat ia meninggal akibat kolera pada Januari 1835.

Kehidupan awal

Lahir pada 26 Agustus 1789 di Amol, Hossein Ali Mirza adalah putra kelima Fath-Ali Shah. Ibunya adalah Badr Jahan Khanom, putri Qader Khan, amir dari sebuah suku Arab yang menetap di Bastam. Pada November 1799, Ali Mirza menikahi putri Amir Guna Khan Za‘faranlu, khan dari suku Kurdi di Quchan.[3] Pada tahun yang sama, ia diangkat sebagai gubernur Fars.[4]

Karier

Ali Mirza mengangkat Cheragh Ali Khan Navai, seorang pelayan setia Fath-Ali Shah dan komandan 800 hingga 1.000 musketeer dari Nur, Mazandaran, sebagai wazirnya. Cheragh Ali, yang dianggap sebagai wazir paling cakap di antara sepuluh wazir gubernur pangeran tersebut, melayani Ali Mirza hingga dipanggil kembali pada 1805 akibat berbagai tuduhan dari penduduk Fars terhadapnya. Ia kemudian digantikan oleh Naser Allah Khan Qaraguzlu yang diberhentikan pada 1808.[3]

Wazir berikutnya, Mohammad Nabi Khan, menaikkan harga roti di Shiraz. Hal ini memicu kerusuhan besar dan permohonan para perusuh kepada Shaykh al-Islām Fars yang kemudian mengeluarkan fatwa untuk membunuh Mirza Hadi Fasai, pemeras paling terkenal milik Nabi Khan. Kerusuhan berhasil diredakan setelah Ali Mirza memerintahkan penurunan harga roti dan menghukum para pembuat roti dengan bastinado.[3] Tidak lama kemudian, Hajji Mohammad Hossein Khan Amin al-Dowla, seorang Mostowfi ol-Mamalek (bendahara negara), datang ke Shiraz untuk menyelidiki keuangan provinsi. Nabi Khan diberhentikan, disiksa, dan hartanya disita. Seiring waktu, pengaruh Amin al-Dowla makin besar hingga ia berhasil mengangkat Ali Akbar Qawam al-Mulk sebagai wali kota (kalantar) Shiraz meskipun ditentang Ali Mirza.[3][5]

Ketika berusia sekitar dua puluhan tahun, kekuasaan Ali Mirza meningkat dan ia secara mandiri membuat perjanjian dengan Perusahaan Hindia Timur, meskipun ia lebih tertarik bermain chovgan (polo) daripada memerintah.[3][6] Ia juga kurang peduli terhadap keselamatan rakyatnya; istananya dijaga dengan baik, tetapi tembok kota rusak dan tidak memiliki parit pertahanan di sekelilingnya.[3]

Selain pasukan musketeer dari Mazandaran, Ali Mirza juga memiliki pasukan dari berbagai suku umum termasuk Khamseh,[7] tetapi mereka tidak selalu setia. Sebagai contoh, Wali Khan Mamassani dan pasukannya merampok para pelancong di jalan-jalan di seluruh Fars meskipun telah terjalin hubungan pernikahan antara putrinya dan putra Ali Mirza, Timur Mirza. Shiraz dilanda pajak tinggi, keamanan publik yang buruk, dan fatwa dari ulama yang menyebabkan banyak kekerasan terhadap orang Yahudi.[3]

Sementara itu, Ali Mirza memperluas pengaruhnya di Teluk Persia. Ia pada praktiknya bersikap independen dari pemerintahan Hajji Mohammad Hossein Isfahani dan berunding untuk menyewakan pelabuhan Bushehr kepada Inggris. Pada 1827, ia terlibat konflik dengan Oman yang akhirnya berakhir damai.[8]

Pada 1830, ketidakpuasan terhadap pemerintahannya melemahkan kekuasaannya, dan para khan Dashtestan menuntut kekuasaan lebih besar di Fars serta secara terbuka menentangnya.[1] Pemberontakan mereka tidak bertujuan menggulingkan Hossein Ali Khan, melainkan memulihkan kekuasaan para khan yang berpengaruh pada masa pemerintahan Hajji Ebrahim Shirazi.[1] Ali Mirza mengirim pasukan untuk menghentikan para pemberontak, tetapi pasukan tersebut juga membangkang. Untuk mempertahankan kekuasaannya, ia meminta bantuan Inggris. Para pemberontak akhirnya dikalahkan oleh pasukan Inggris, para khan kehilangan seluruh kekuasaan mereka, dan Ali Mirza memperoleh kendali penuh atas Fars.[9]

Menuntut takhta

Ali Mirza tidak ingin terlibat dalam Perang Rusia–Persia 1826–1828, meskipun Abbas Mirza meminta bantuannya.[9] Dengan ditandatanganinya Perjanjian Turkmenchay, popularitas Abbas Mirza sebagai putra mahkota menurun. Ali Mirza kemudian berhenti membayar pajak dan mengusir para wakil shah.[10]

Pada 1833, kematian Abbas Mirza memberi Ali Mirza kesempatan untuk menuntut takhta. Ali Mirza adalah putra kelima Fath-Ali Shah, tetapi ibunya bukan berasal dari keluarga Qajar sehingga membuatnya dianggap sebagai kandidat yang tidak dapat diterima. Perjanjian Turkmenchay telah mengakui Abbas Mirza sebagai putra mahkota; setelah kematiannya, Kekaisaran Rusia mendukung Mohammad Mirza, putra tertuanya, sebagai penguasa berikutnya. Karena semua putra tertua shah telah meninggal, termasuk putra-putra dari ibu non-Qajar seperti Dowlatshah, Ali Mirza menganggap penunjukan Mohammad Mirza sebagai putra mahkota akan merampas haknya dan berarti tunduk pada tuntutan Rusia.[11]

Atas alasan tersebut, Ali Mirza berusaha merebut takhta.[3] Ia mencari sekutu, tetapi perundingannya dengan Inggris dan Kesultanan Utsmaniyah tidak berhasil.[12] Ia kemudian mencoba memperkuat kekuasaannya di Kerman[13] dan bernegosiasi dengan para pemimpin suku Bakhtiari dan Lur, tetapi gagal dalam kedua upaya tersebut.[12] Pada 1834, Ali Mirza berhasil mengalahkan pemberontakan lokal yang dipimpin Mohammad Zaki Khan; para sejarawan meyakini pemberontakan itu sengaja dipicu untuk meningkatkan prestise Ali Mirza.[14]

Revolusi

Pada Oktober 1834, Fath-Ali Shah meninggal dalam perjalanan menuju Fars untuk menagih tunggakan pajak sebesar 200.000 toman dari Ali Mirza.[3] Ketika kabar tersebut sampai di Tehran, Ali Shah Mirza, putra kedelapan shah yang telah meninggal dan wali kota Tehran, menyatakan dirinya sebagai raja dengan dukungan Inggris. Ia kemudian dikalahkan oleh Mohammad Shah dan Mirza Abu'l-Qasem Qa'em-Maqam dalam pertempuran dekat Tehran.[15][16]

Ali Mirza memerintahkan khotbah dibacakan atas namanya sebagai raja baru Iran dan mencetak koin dengan nama “Hossein Ali Shah Qajar”.[3] Di Fars, klaim ini tidak dapat diterima oleh para khan suku yang sebelumnya kehilangan kekuasaan akibat dirinya. Masyarakat memandang Ali Mirza sebagai penguasa yang kejam dan keras, dan klaimnya atas takhta tidak didukung oleh para pemimpin suku maupun orang-orang di istananya.[13]

Pada Desember 1834, ia mengirim pasukan di bawah komando saudaranya, Shoja-al-Saltana, menuju Isfahan dan berhasil merebut kota tersebut. Setelah kekalahan Ali Shah Mirza, Inggris dan Kekaisaran Rusia menyatakan Mohammad Shah sebagai raja di dekat Qomsha, kini Shahreza. Shoja-al-Saltana kemudian dikalahkan oleh Manouchehr Khan, yang setelah pertempuran itu bergerak menuju Shiraz dengan pasukan yang juga mencakup perwira Inggris.[3]

Kekuasaan Ali Mirza tidak stabil dan ia menghadapi pemberontakan dari berbagai suku. Sebagian besar tentaranya membelot setelah mendengar kekalahan Shoja-al-Saltana, sementara keuangannya juga menipis.[17] Tanpa tentara, Yazd tidak dapat dipertahankan dari serangan Manouchehr Khan.[18] Ketika Manouchehr Khan mencapai Shiraz, moral pasukan Ali Mirza sudah sangat rendah dan Shiraz jatuh hanya dalam pertempuran selama dua jam, setelah itu Ali Mirza dengan mudah ditangkap.[3][19]

Ali Mirza kehilangan seluruh harta, gelar, dan tanah miliknya, lalu dikirim ke sebuah benteng di Ardabil.[17] Fars berada di bawah kekuasaan Mohammad Shah hingga 1840, ketika wilayah itu diberikan kepada Mirza Hossein Khan.[20]

Kematian

Ali Mirza dipenjarakan di Ardabil. Pada hari-hari terakhir hidupnya, ia berdoa, menangisi kesalahannya, dan memohon pengampunan.[21] Pada 16 Januari 1835, ia meninggal akibat kolera.[19] Ia dimakamkan di Mashhad.[3]

Referensi

  1. 1 2 3 Davies 1987, hlm. 128.
  2. ↑ History group 2013.
  3. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Hambly 1982.
  4. ↑ Davies 1987, hlm. 125.
  5. ↑ Edrisi 2014.
  6. ↑ Amdad 2008, hlm. 295.
  7. ↑ Amdad 2008, hlm. 296.
  8. ↑ Davies 1987, hlm. 127.
  9. 1 2 Amdad 2008, hlm. 300.
  10. ↑ Aghazadeh 2020, hlm. 11.
  11. ↑ Amanat 1999.
  12. 1 2 Amdad 2008, hlm. 302.
  13. 1 2 Davies 1987, hlm. 129.
  14. ↑ Ghaem Maghami 1952, hlm. 38.
  15. ↑ Shamim 1963, hlm. 118.
  16. ↑ Ghadimi Gheydari 2010, hlm. 17.
  17. 1 2 Davies 1987, hlm. 130.
  18. ↑ Amdad 2008, hlm. 305.
  19. 1 2 Hambly 1991, hlm. 168.
  20. ↑ Davies 1987, hlm. 134.
  21. ↑ Amdad 2008, hlm. 306.

Bibliografi

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan