Jumat, 25 September 2026
08:24 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia Otomotif EXOBOT: Bukti Ambisi Arab Saudi di Pasar Mobil Listrik Dunia Olahraga Modernisasi Pendataan Atlet: KONI Lampung Buka Pendaftaran Daring Porprov X 2026 Olahraga Porprov X Lampung 2026: Pendaftaran Peserta Resmi Dibuka Secara Daring Eropa & Amerika Delegasi AS Walk Out Saat Presiden Iran Kecam Serangan di Sidang PBB Eropa & Amerika Presiden Iran Kecam AS di PBB: Kami Korban Terorisme, Bukan Pelaku Internasional Ekspresi Tak Terduga Donald Trump Kala Pesawat Pengebom B-1 Meraung di Udara Hukum Mobil Halangi Ambulans Pasien Kritis di Surakarta: Sorotan Pentingnya Prioritas Jalan dan Sanksi Hukum Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia Otomotif EXOBOT: Bukti Ambisi Arab Saudi di Pasar Mobil Listrik Dunia Olahraga Modernisasi Pendataan Atlet: KONI Lampung Buka Pendaftaran Daring Porprov X 2026 Olahraga Porprov X Lampung 2026: Pendaftaran Peserta Resmi Dibuka Secara Daring Eropa & Amerika Delegasi AS Walk Out Saat Presiden Iran Kecam Serangan di Sidang PBB Eropa & Amerika Presiden Iran Kecam AS di PBB: Kami Korban Terorisme, Bukan Pelaku Internasional Ekspresi Tak Terduga Donald Trump Kala Pesawat Pengebom B-1 Meraung di Udara Hukum Mobil Halangi Ambulans Pasien Kritis di Surakarta: Sorotan Pentingnya Prioritas Jalan dan Sanksi Hukum

Hitoshi Shimizu

Hitoshi Shimizu adalah seorang politikus dan ahli propaganda Kekaisaran Jepang pada Perang Dunia II yang bertugas di lembaga propaganda Kekaisaran Jepang, Gunseinkanbu (di cabang Hindia Belanda bernama Sendenbu). Hitoshi Shimizu juga adalah salah satu tokoh Jepang yang membantu dalam usaha Kemerdekaan Indonesia.[1][2][3]

Karier

Hitoshi Shimizu memulai kariernya sebagai ahli propaganda pada 1930-an di Jepang. Setelah Kekaisaran Jepang menaklukkan Hindia Belanda pada pertengahan Perang Dunia II tahun 1942, Hitoshi Shimizu diangkat sebagai atase sipil yang bertugas sebagai militer Angkatan Darat Kekaisaran Jepang. Hitoshi Shimizu bertanggung jawab atas misi propaganda yang dilakukan Kekaisaran Jepang, terutama yang dilakukan oleh Tentara ke-16 selama pendudukan di Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Hitoshi Shimizu juga orang yang bertanggung jawab atas berdirinya organisasi Gerakan 3A (Nippon Cahaya Asia, Nippon Pemimpin Asia, Nippon Pelindung Asia). Hitoshi Shimizu juga mengepalai cabang badan propaganda Kekaisaran Jepang di Indonesia, Sendenbu.[1][2]

Indonesia Merdeka

250px-Indonesian_flag_raised_17_August_1945.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Rumah di Pegangsaan Timur No.56 dan Bendera Pusaka Merah Putih yang dicarikan dan diberikan oleh Hitoshi Shimizu kepada Soekarno, digunakan saat proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Hitoshi Shimizu dikenal sebagai orang Jepang yang dekat dengan orang Indonesia, terutama dari kaum pergerakan, dari golongan muda hingga tua. Tokoh nasional yang dekat dengan Hitoshi Shimizu salah satunya Soekarno dan Mohammad Hatta. Hitoshi Shimizu juga orang yang mendukung dibentuknya Asrama Angkatan Baroe Indonesia atau Asrama Menteng 31 di Jakarta Pusat. Hitoshi Shimizu—bersama dengan tokoh pemuda, Chaerul Basri—juga mencarikan dan memberikan rumah yang dijadikan tempat proklamasi kemerdekaan, rumah di Pegangsaan Timur No. 56 milik seorang Belanda bernama Baron van Asbeck—hal ini menjadi polemik, karena ada yang menganggap bahwa rumah di Pegangsaan Timur No. 56 diberikan oleh seorang saudagar Arab bernama Faradj bin Said bin Awadh Martak. Hitoshi Shimizu juga memberikan mobil Buick kepada Soekarno, yang kemudian oleh Soekarno dijadikan Mobil Kepresidenan. Shimizu—bersama-sama Chaerul Basri—juga mencarikan kain Merah Putih untuk dijahitkan menjadi bendera oleh istri ketiga Soekarno, Fatmawati.[2][4]

Saat Blok Poros (Jerman Nazi, Republik Sosial Italia, dan Kekaisaran Jepang) kalah dalam Perang Dunia II, termasuk Kekaisaran Jepang yang menyerah pada 14 Agustus 1945 setelah Hiroshima dan Nagasaki di-bom atom oleh Amerika Serikat pada 6 dan 9 Agustus 1945, Hitoshi Shimizu membentuk sebuah organisasi yang bernama "Kipas Hitam". Organisasi ini ditujukan untuk melakukan teror dengan menggunakan kebencian kalangan pribumi Indonesia terhadap orang kulit putih, terutama Amerika Serikat, Inggris, dan Belanda. Pada akhir 1945, Shimizu ditangkap oleh Tentara Sekutu. Meskipun telah ditangkap, Shimizu tetap menjaga kontaknya dengan Indonesia. Setelah bebas, Shimizu kemudian membentuk sebuah organisasi yang bernama Asosiasi Kebudayaan Jepang-Indonesia dan setelah tahun 1964, berusaha menghubungkan perkumpulan kebudayaannya dengan organisasi pimpinan istri kesembilan Soekarno, Ratna Sari Dewi yang juga orang Jepang, yaitu Lembaga Persahabatan Indonesia Jepang.[4]

Referensi

  1. 1 2 Nino Oktorino, Ensiklopedi Pendudukan Jepang di Indonesia, (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2013) hal. 105
  2. 1 2 3 "Kisah Shimizu Dan Chaerul Basri". Kabari News. 2010-08-15. Diakses tanggal 2017-11-16.
  3. ↑ Napoleon. "Organisasi Masa Bentukan Jepang di Indonesia". Harian Sejarah (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2017-11-16.
  4. 1 2 Nino Oktorino, Ensiklopedi Pendudukan Jepang di Indonesia, (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2013) hal. 106
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan