Kamis, 08 Oktober 2026
00:47 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya

Hitoshi Shimizu

Bagikan:

Hitoshi Shimizu adalah seorang politikus dan ahli propaganda Kekaisaran Jepang pada Perang Dunia II yang bertugas di lembaga propaganda Kekaisaran Jepang, Gunseinkanbu (di cabang Hindia Belanda bernama Sendenbu). Hitoshi Shimizu juga adalah salah satu tokoh Jepang yang membantu dalam usaha Kemerdekaan Indonesia.[1][2][3]

Karier

Hitoshi Shimizu memulai kariernya sebagai ahli propaganda pada 1930-an di Jepang. Setelah Kekaisaran Jepang menaklukkan Hindia Belanda pada pertengahan Perang Dunia II tahun 1942, Hitoshi Shimizu diangkat sebagai atase sipil yang bertugas sebagai militer Angkatan Darat Kekaisaran Jepang. Hitoshi Shimizu bertanggung jawab atas misi propaganda yang dilakukan Kekaisaran Jepang, terutama yang dilakukan oleh Tentara ke-16 selama pendudukan di Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Hitoshi Shimizu juga orang yang bertanggung jawab atas berdirinya organisasi Gerakan 3A (Nippon Cahaya Asia, Nippon Pemimpin Asia, Nippon Pelindung Asia). Hitoshi Shimizu juga mengepalai cabang badan propaganda Kekaisaran Jepang di Indonesia, Sendenbu.[1][2]

Indonesia Merdeka

250px-Indonesian_flag_raised_17_August_1945.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Rumah di Pegangsaan Timur No.56 dan Bendera Pusaka Merah Putih yang dicarikan dan diberikan oleh Hitoshi Shimizu kepada Soekarno, digunakan saat proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Hitoshi Shimizu dikenal sebagai orang Jepang yang dekat dengan orang Indonesia, terutama dari kaum pergerakan, dari golongan muda hingga tua. Tokoh nasional yang dekat dengan Hitoshi Shimizu salah satunya Soekarno dan Mohammad Hatta. Hitoshi Shimizu juga orang yang mendukung dibentuknya Asrama Angkatan Baroe Indonesia atau Asrama Menteng 31 di Jakarta Pusat. Hitoshi Shimizu—bersama dengan tokoh pemuda, Chaerul Basri—juga mencarikan dan memberikan rumah yang dijadikan tempat proklamasi kemerdekaan, rumah di Pegangsaan Timur No. 56 milik seorang Belanda bernama Baron van Asbeck—hal ini menjadi polemik, karena ada yang menganggap bahwa rumah di Pegangsaan Timur No. 56 diberikan oleh seorang saudagar Arab bernama Faradj bin Said bin Awadh Martak. Hitoshi Shimizu juga memberikan mobil Buick kepada Soekarno, yang kemudian oleh Soekarno dijadikan Mobil Kepresidenan. Shimizu—bersama-sama Chaerul Basri—juga mencarikan kain Merah Putih untuk dijahitkan menjadi bendera oleh istri ketiga Soekarno, Fatmawati.[2][4]

Saat Blok Poros (Jerman Nazi, Republik Sosial Italia, dan Kekaisaran Jepang) kalah dalam Perang Dunia II, termasuk Kekaisaran Jepang yang menyerah pada 14 Agustus 1945 setelah Hiroshima dan Nagasaki di-bom atom oleh Amerika Serikat pada 6 dan 9 Agustus 1945, Hitoshi Shimizu membentuk sebuah organisasi yang bernama "Kipas Hitam". Organisasi ini ditujukan untuk melakukan teror dengan menggunakan kebencian kalangan pribumi Indonesia terhadap orang kulit putih, terutama Amerika Serikat, Inggris, dan Belanda. Pada akhir 1945, Shimizu ditangkap oleh Tentara Sekutu. Meskipun telah ditangkap, Shimizu tetap menjaga kontaknya dengan Indonesia. Setelah bebas, Shimizu kemudian membentuk sebuah organisasi yang bernama Asosiasi Kebudayaan Jepang-Indonesia dan setelah tahun 1964, berusaha menghubungkan perkumpulan kebudayaannya dengan organisasi pimpinan istri kesembilan Soekarno, Ratna Sari Dewi yang juga orang Jepang, yaitu Lembaga Persahabatan Indonesia Jepang.[4]

Referensi

  1. 1 2 Nino Oktorino, Ensiklopedi Pendudukan Jepang di Indonesia, (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2013) hal. 105
  2. 1 2 3 "Kisah Shimizu Dan Chaerul Basri". Kabari News. 2010-08-15. Diakses tanggal 2017-11-16.
  3. ↑ Napoleon. "Organisasi Masa Bentukan Jepang di Indonesia". Harian Sejarah (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2017-11-16.
  4. 1 2 Nino Oktorino, Ensiklopedi Pendudukan Jepang di Indonesia, (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2013) hal. 106
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan