Selasa, 03 November 2026
21:34 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare
Hidangan Bhutan

Hidangan Bhutan

Bagikan:
250px-Cuisine_of_Bhutan_001.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Hidangan khas Bhutan
Bagian dari seri tentang
Budaya Bhutan
120px-Flag_of_Bhutan.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sejarah
Bahasa
Hidangan
Agama

Hidangan Bhutan merujuk pada berbagai makanan dan minuman tradisional yang berkembang di Bhutan, sebuah negara di kawasan Himalaya. Masakan Bhutan dikenal dengan penggunaan cabai, keju lokal, beras merah, dan berbagai hasil pertanian dataran tinggi. Cabai merupakan salah satu bahan utama dalam masakan sehari-hari dan sering digunakan sebagai sayuran maupun bumbu. Salah satu hidangan yang paling dikenal adalah Ema datshi, yaitu olahan cabai yang dimasak bersama keju.[1]

Kuliner Bhutan dipengaruhi oleh kondisi geografis, iklim pegunungan, kegiatan pertanian, serta interaksi budaya dengan wilayah sekitarnya, terutama Tibet, India, dan Tiongkok. Bahan pangan utama masyarakatnya meliputi beras, jagung, soba, sayuran, produk susu, serta berbagai jenis daging. Penggunaan bahan pangan dan teknik memasak berbeda-beda menurut wilayah, sehingga setiap daerah memiliki hidangan khas masing-masing.[2][3]

Karakteristik

Penggunaan cabai dan keju

Salah satu ciri khas masakan Bhutan adalah penggunaan cabai dalam jumlah yang relatif banyak. Berbeda dengan sejumlah tradisi kuliner yang menggunakan cabai terutama sebagai penyedap, masyarakat Bhutan juga mengolahnya sebagai bahan utama hidangan. Cabai digunakan dalam bentuk segar, kering, maupun olahan sambal dan pasta cabai.[1]

Keju lokal yang dikenal dengan nama datshi merupakan bahan penting lainnya. Keju tersebut umumnya dibuat dari susu sapi atau yak dan digunakan dalam berbagai olahan sayuran maupun daging. Kombinasi cabai dan keju menjadi dasar sejumlah hidangan yang dikenal luas dalam kuliner Bhutan.[4]

Bahan pangan utama

Beras merupakan makanan pokok yang banyak dikonsumsi masyarakat Bhutan. Salah satu jenis beras yang dikenal adalah beras merah Bhutan (red rice), yang memiliki warna kemerahan setelah dimasak dan tekstur yang cenderung lunak serta sedikit lengket. Beras putih juga dikonsumsi secara luas.[1]

Selain beras, jagung dan soba (buckwheat) merupakan bahan pangan penting, terutama di wilayah yang kondisi geografisnya kurang sesuai untuk budidaya padi. Soba banyak digunakan di wilayah Bumthang dan Trongsa, sedangkan jagung memiliki peranan penting di sejumlah wilayah Bhutan bagian timur.[5][1]

Sayuran yang digunakan dalam masakan Bhutan meliputi kentang, lobak, bayam, labu, bawang, kacang-kacangan, dan berbagai sayuran lokal. Produk susu seperti mentega, dadih, dan keju juga digunakan dalam berbagai makanan tradisional.[4]

Pengaruh geografis dan budaya

Kuliner Bhutan berkembang melalui hubungan antara lingkungan alam, kegiatan pertanian, peternakan, dan tradisi masyarakat. Pengaruh kuliner Tibet terlihat dalam penggunaan mi, pangsit, serta beberapa jenis makanan berbahan tepung. Hubungan geografis dan perdagangan dengan India dan Tiongkok juga berkontribusi terhadap keragaman bahan dan teknik memasak di Bhutan.[1][2]

Kondisi pegunungan Himalaya turut memengaruhi pola konsumsi pangan masyarakat. Di daerah yang memiliki musim dingin lebih dingin, makanan berkuah, olahan daging, serta produk susu menjadi bagian penting dalam pola makan sehari-hari.[4]

Hidangan tradisional

Ema datshi

250px-Ema_datshi.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Ema datshi, hidangan cabai dan keju khas Bhutan.

Ema datshi merupakan salah satu hidangan paling dikenal dalam kuliner Bhutan dan sering disebut sebagai hidangan nasional negara tersebut. Nama ema berarti cabai, sedangkan datshi berarti keju dalam bahasa Dzongkha. Hidangan ini dibuat dengan memasak cabai bersama keju lokal hingga menghasilkan kuah atau saus yang kental.[1][4]

Ema datshi biasanya disajikan bersama nasi, terutama beras merah. Bahan tambahannya dapat mencakup bawang, tomat, dan bumbu lainnya. Tingkat kepedasan serta teksturnya berbeda-beda menurut resep keluarga dan daerah.[1]

Kewa datshi

Kewa datshi merupakan hidangan yang menggunakan kentang sebagai bahan utama, kemudian dimasak bersama keju dan cabai. Nama kewa berarti kentang. Hidangan ini menjadi salah satu variasi masakan berbahan keju yang cukup populer di Bhutan dan sering disajikan bersama nasi.[4]

Shamu datshi

Shamu datshi merupakan olahan jamur yang dimasak bersama keju dan cabai. Hidangan ini memperlihatkan penggunaan hasil hutan dan bahan pangan lokal dalam masakan Bhutan. Variasi jamur dan jenis keju yang digunakan dapat berbeda menurut ketersediaan bahan di masing-masing daerah.[4]

Phaksha paa

Phaksha paa merupakan hidangan berbahan dasar daging babi yang dimasak bersama cabai, bawang putih, dan jahe. Beberapa variasinya menggunakan lobak atau sayuran hijau. Daging babi juga dapat dikeringkan terlebih dahulu sebelum dimasak untuk menghasilkan cita rasa yang berbeda.[4][1]

Shakam paa

Shakam paa adalah hidangan daging sapi yang dimasak bersama cabai kering dan sayuran. Daging dapat dipotong menjadi irisan kemudian dimasak hingga bumbu meresap. Hidangan ini biasanya disajikan bersama nasi.[1]

Jasha maru

Jasha maru merupakan hidangan ayam berbentuk semur atau kari yang dimasak dengan bawang, tomat, jahe, bawang putih, dan cabai. Hidangan ini umumnya memiliki kuah berbumbu dan disajikan bersama nasi.[1]

Jaju

Jaju merupakan sup tradisional Bhutan yang umumnya dibuat menggunakan sayuran hijau dan susu atau produk susu. Beberapa variasinya menggunakan bahan lokal yang tersedia di wilayah masing-masing. Sup ini biasanya menjadi bagian dari hidangan utama masyarakat Bhutan.[1]

Goep

Goep merupakan hidangan yang menggunakan babat atau bagian perut sapi. Bahan tersebut dipotong menjadi irisan dan dimasak bersama cabai serta bumbu lainnya. Teksturnya cenderung kenyal dan hidangan ini dikenal sebagai salah satu makanan lokal Bhutan.[1]

Momo

250px-Momos.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Momo, pangsit yang banyak ditemukan dalam kuliner kawasan Himalaya.

Momo merupakan pangsit yang dibuat dari adonan tepung terigu dan diisi dengan daging, sayuran, atau keju. Hidangan ini juga ditemukan dalam tradisi kuliner Tibet, Nepal, dan wilayah Himalaya lainnya. Di Bhutan, momo dapat dikukus maupun digoreng dan biasanya disajikan bersama saus cabai.[1]

Hoentay

Hoentay merupakan pangsit tradisional yang dikenal terutama di wilayah Haa. Makanan ini menggunakan kulit berbahan tepung soba dengan isian yang dapat terdiri atas sayuran hijau, keju, bayam, dan bahan lainnya. Hoentay biasanya dikukus atau dimasak dengan cara digoreng.[1]

Puta

Puta merupakan mi tradisional berbahan dasar tepung soba yang dikenal di wilayah Bumthang dan Trongsa. Adonan soba dibentuk menjadi mi menggunakan alat tradisional, kemudian dimasak dengan cara direbus atau digoreng. Hidangan ini dapat disajikan bersama bumbu dan produk susu sesuai kebiasaan setempat.[4][1]

Khurle

Khurle merupakan panekuk tradisional berbahan dasar tepung soba yang banyak dikonsumsi di wilayah Bumthang. Makanan ini biasanya disajikan bersama hidangan lainnya dan dapat dikonsumsi sebagai pengganti nasi atau roti.[1]

Zow shungo

Zow shungo merupakan hidangan berbahan dasar nasi yang dicampur dengan sayuran sisa atau sayuran yang tersedia. Hidangan ini berkaitan dengan pemanfaatan bahan pangan secara efisien dalam kehidupan rumah tangga masyarakat Bhutan.[1]

Variasi kuliner regional

Masakan Bhutan tidak sepenuhnya seragam di seluruh wilayah. Kondisi geografis, iklim, hasil pertanian, dan tradisi lokal menghasilkan perbedaan dalam penggunaan bahan pangan dan teknik memasak.[3]

Bhutan bagian barat

Wilayah Bhutan bagian barat, termasuk Paro dan Punakha, dikenal dengan konsumsi beras merah dan putih yang disajikan bersama berbagai hidangan sayuran, daging, dan keju. Ema datshi merupakan salah satu makanan yang banyak ditemukan di wilayah ini.

Desa Nobgang di Distrik Punakha juga dikenal dengan sejumlah makanan khas, seperti ema lumtsho, jatsa gondo, dan maekhu. Desa tersebut juga dikenal dengan variasi sambal cabai aezey nyergum yang menggunakan berbagai bahan.[1]

Bhutan bagian tengah

Wilayah Bumthang merupakan salah satu daerah yang dikenal dengan penggunaan soba sebagai bahan pangan. Berbagai olahan soba di wilayah ini meliputi puta, khurle, dan makanan berbahan tepung lainnya.

Selain soba, wilayah ini juga dikenal dengan produksi susu dan produk turunannya, seperti keju, mentega, dan dadih.[1]

Bhutan bagian timur

Di wilayah Bhutan bagian timur, jagung merupakan salah satu bahan pangan penting. Masyarakat di sejumlah daerah mengolah jagung menjadi berbagai makanan, termasuk bubur jagung dan hidangan berbahan biji jagung yang ditumbuk.

Salah satu makanan yang dikenal di Trashi Yangtse adalah asham thukpa, yaitu bubur jagung. Wilayah timur juga memiliki produk fermentasi lokal seperti zoedoe, sejenis keju dengan aroma yang kuat.[1]

Wilayah Haa

Wilayah Haa dikenal dengan hoentay, yaitu pangsit berbahan tepung soba yang diisi dengan sayuran dan keju. Hidangan tersebut merupakan salah satu contoh bagaimana kondisi pertanian dan tradisi lokal memengaruhi identitas kuliner suatu wilayah.[1]

Minuman tradisional

Suja

Suja merupakan teh mentega tradisional Bhutan. Minuman ini dibuat dari teh yang dicampur dengan mentega dan garam. Suja memiliki rasa gurih dan tekstur yang lebih kaya dibandingkan teh biasa. Minuman tersebut dikonsumsi dalam kehidupan sehari-hari dan dapat disajikan ketika menerima tamu maupun dalam kegiatan sosial.[2][6]

Gaja

Gaja merupakan teh susu yang dikonsumsi masyarakat Bhutan. Minuman ini dibuat menggunakan teh dan susu, serta dapat ditambahkan gula sesuai selera.[6]

Ara

Ara merupakan minuman beralkohol tradisional yang dibuat melalui proses fermentasi dan penyulingan bahan pangan seperti beras, jagung, atau biji-bijian lainnya. Minuman ini diproduksi secara tradisional di sejumlah komunitas dan dikonsumsi dalam konteks sosial maupun perayaan tertentu.[6]

Chang

Chang merupakan minuman fermentasi tradisional yang dibuat dari bahan biji-bijian. Minuman ini dikenal dalam kehidupan masyarakat Bhutan dan memiliki variasi berdasarkan bahan serta metode pembuatannya.[2]

Kebiasaan makan dan kehidupan sosial

Makanan memiliki peranan penting dalam kehidupan sosial masyarakat Bhutan. Kegiatan makan bersama keluarga merupakan salah satu kebiasaan yang masih ditemukan, terutama di wilayah pedesaan. Secara tradisional, anggota keluarga duduk bersama di lantai dan makanan diletakkan di tengah untuk dibagikan kepada anggota keluarga.[1][7]

Dalam tradisi masyarakat Bhutan, makanan juga berkaitan dengan kepercayaan, praktik keagamaan, dan ritual. Hidangan tertentu disiapkan untuk perayaan tahun baru, upacara keluarga, dan kegiatan keagamaan. Makanan dapat memiliki makna simbolis selain sebagai sumber pemenuhan kebutuhan sehari-hari.[2]

Hubungan antara makanan dan kehidupan sosial juga terlihat dalam tradisi menjamu tamu. Teh mentega, makanan berbahan beras, dan berbagai hidangan lokal dapat disajikan sebagai bagian dari kebiasaan menerima tamu. Praktik tersebut mencerminkan hubungan antara makanan, keramahan, dan kehidupan komunitas.[1]

Perkembangan kuliner modern

Perubahan sosial dan ekonomi turut memengaruhi perkembangan kuliner Bhutan. Urbanisasi, perkembangan sektor pariwisata, serta meningkatnya hubungan dengan negara lain memperluas pilihan makanan yang tersedia di kota-kota Bhutan.

Restoran dan hotel kini menawarkan makanan lokal maupun hidangan internasional. Beberapa restoran juga menyesuaikan tingkat kepedasan makanan tradisional untuk memenuhi preferensi wisatawan asing. Meskipun demikian, hidangan seperti ema datshi, phaksha paa, dan berbagai olahan beras tetap menjadi bagian penting dari identitas kuliner negara tersebut.[1]

Perubahan pola konsumsi juga menjadi perhatian dalam kajian mengenai makanan dan masyarakat Bhutan. Kunzang Choden dalam bukunya Chilli and Cheese: Food and Society in Bhutan membahas bagaimana perubahan sosial ekonomi dapat memengaruhi kebiasaan makan, pengetahuan tradisional, dan keberlanjutan praktik kuliner masyarakat.[2]

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 "Food and Drink in Bhutan". Department of Tourism, Bhutan. Diakses tanggal 2 November 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. 1 2 3 4 5 6 Choden, Kunzang (2008). Chilli and Cheese: Food and Society in Bhutan. Bangkok: White Lotus. ISBN 9789744801180.
  3. 1 2 "Food and Drink in Bhutan". Department of Tourism, Bhutan. Diakses tanggal 2 November 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. 1 2 3 4 5 6 7 8 "Traditional Food and Food Practices" (PDF). International Information and Networking Centre for Intangible Cultural Heritage in the Asia-Pacific Region under the auspices of UNESCO (ICHCAP). Diakses tanggal 2 November 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ Ura, Karma (2022). "Rhythm of Farm Life". Bhutan: The Unremembered Nation. Oxford University Press. doi:10.1093/oso/9780192865403.003.0007.
  6. 1 2 3 "Bhutanese Meal". Honorary Consulate-General of the Kingdom of Bhutan in Tokyo. Diakses tanggal 2 November 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. ↑ "Traditions & Culture". Travel to Bhutan. Diakses tanggal 2 November 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Daftar pustaka

  • Choden, Kunzang. 2008. Chilli and Cheese: Food and Society in Bhutan. Bangkok: White Lotus. ISBN 9789744801180.
  • Ura, Karma. 2022. Bhutan: The Unremembered Nation. Oxford: Oxford University Press.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan