Rabu, 30 September 2026
23:57 WIB
TERKINI
Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Kekacauan Komunikasi Fatal: KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Maut KA di Bekasi Berita Terkuak Pemilik Miras dan Barang Mewah di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Kekacauan Komunikasi Fatal: KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Maut KA di Bekasi Berita Terkuak Pemilik Miras dan Barang Mewah di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh
Gigantopithecus

Gigantopithecus

genus mamalia

Bagikan:
Gigantopithecus
Rentang waktu: Plestosen
250px-Gigantopithecus_mandible.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Filum:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Subfamili:
Genus:
†Gigantopithecus

Spesies

†Gigantopithecus blacki
†Gigantopithecus bilaspurensis †Gigantopithecus giganteus

Artikel takson sembarang

Gigantopithecus adalah kera terbesar yang pernah ditemukan hingga saat ini. Tinggi mereka diperkirakan mencapai sekitar 3 meter (10 kaki) dan mempunyai massa mencapai sekitar 500 kilogram (1100 pon).[1] Gigantopithecus adalah genus kera yang telah punah yang hidup pada masa Pleistosen Awal hingga Tengah di Tiongkok selatan, dengan potensi identifikasi di Thailand, Vietnam, dan Indonesia.

Gigantopithecus hidup pada akhir periode Tersier sampai awal periode Kuarter. Gigantopithecus memiliki bentuk seperti orang utan zaman modern. Gigantopithecus adalah omnivor, memakan bambu dan tanaman lain. Genus ini diwakili oleh satu spesies, Gigantopithecus blacki.

Sisa-sisa pertama Gigantopithecus, dua gigi molar ketiga, diidentifikasi di sebuah toko obat di Hong Kong oleh antropolog Ralph von Koenigswald pada 1935, yang kemudian mendeskripsikan kera tersebut.[2]

Pada 1956, rahang bawah pertama dan lebih dari 1.000 gigi ditemukan di Liucheng, dan sejak saat itu, lebih banyak lagi sisa-sisa yang ditemukan di 16 lokasi termasuk Tiongkok, Vietnam, dan India. Gigantopithecus pernah dianggap sebagai anggota garis keturunan manusia, tetapi sekarang diyakini berkerabat dekat dengan orang utan dan diklasifikasikan dalam subfamili Ponginae.

Satu-satunya sisa-sisa Gigantopithecus yang diketahui adalah gigi dan empat rahang bawah, karena elemen kerangka lainnya kemungkinan besar dikonsumsi oleh landak sebelum menjadi fosil. Berdasarkan hasil penelitian fosil, Gigantopithecus diperkirakan berkerabat dekat dengan orang utan modern dan Sivapithecus.[2]

Gigantopithecus diyakini sebagai kera besar, dengan kemungkinan berat antara 200–300 kg ketika hidup, meskipun ini sangat spekulatif karena terbatasnya sisa-sisa yang ditemukan. Spesies ini mungkin telah menunjukkan dimorfisme seksual, dengan jantan jauh lebih besar daripada betina. Gigi seri kecil, sementara gigi taringnya tampak berfungsi seperti gigi premolar dan geraham. Gigi premolar memiliki mahkota yang tinggi, dan gigi premolar keempat sangat mirip geraham. Gigi gerahamnya merupakan yang terbesar di antara kera yang diketahui, dengan permukaan yang relatif datar. Gigantopithecus memiliki email paling tebal di antara kera lainnya, dengan ukuran hingga 6 mm di beberapa area, meskipun ketebalan ini hanya cukup tebal jika ukuran gigi diperhitungkan.

Gigantopithecus adalah herbivora yang memakan tanaman hutan C3 dan memiliki rahang yang beradaptasi untuk menggiling, menghancurkan, dan memotong tanaman yang keras dan berserat. Enamelnya yang tebal membantu menahan makanan yang kasar seperti batang, akar, dan umbi-umbian yang kotor. Beberapa gigi menunjukkan bukti adanya buah dari keluarga ara dalam makanannya.

Kera ini hidup di hutan subtropis hingga tropis dan kemungkinan punah sekitar 300.000 tahun yang lalu akibat mundurnya habitat yang disebabkan oleh perubahan iklim dan mungkin karena aktivitas manusia purba. Ukurannya yang besar dan penampilannya yang mirip gorila membuat beberapa orang berspekulasi bahwa kera ini bisa jadi merupakan identitas makhluk mitos seperti yeti atau bigfoot.[2]

Referensi

  1. ↑ "The Largest Ape That Ever Lived Was Doomed By Its Size". Science (dalam bahasa Inggris). 2016-01-05. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-03-04. Diakses tanggal 2021-12-20.
  2. 1 2 3 Magazine, Smithsonian; Wayman, Erin. "Did Bigfoot Really Exist? How Gigantopithecus Became Extinct". Smithsonian Magazine (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-01-31. Diakses tanggal 2021-12-20.


Ikon rintisan

Artikel bertopik arkeologi ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Ikon rintisan

Artikel bertopik biologi ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan