Jumat, 02 Oktober 2026
06:29 WIB
TERKINI
Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri Berita Jalan Mulus Komjen Suyudi: Komisi III DPR Setujui Pimpin Polri Berita DPR RI Resmi Lantik Komjen Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri Baru Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 1 Oktober 2026: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 1 Oktober 2026 Turun, Cek Rincian Lengkapnya Sekarang Cuaca Waspada! 325 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Ancaman Karhutla Meningkat Regional Menko PMK Muhadjir Effendy Kunjungi Anjir Batola, Perkuat Sinergi Pembangunan Wilayah Editorial Macan Kemayoran Raih Poin Penuh di Kandang Laskar Antasari Bandar Lampung Buaya Coki Menjalani Adaptasi di Sumsel Usai Perjalanan Panjang dari Lampung Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri Berita Jalan Mulus Komjen Suyudi: Komisi III DPR Setujui Pimpin Polri Berita DPR RI Resmi Lantik Komjen Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri Baru Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 1 Oktober 2026: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 1 Oktober 2026 Turun, Cek Rincian Lengkapnya Sekarang Cuaca Waspada! 325 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Ancaman Karhutla Meningkat Regional Menko PMK Muhadjir Effendy Kunjungi Anjir Batola, Perkuat Sinergi Pembangunan Wilayah Editorial Macan Kemayoran Raih Poin Penuh di Kandang Laskar Antasari Bandar Lampung Buaya Coki Menjalani Adaptasi di Sumsel Usai Perjalanan Panjang dari Lampung Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti
Gho

Gho

sejenis jubah dengan panjang selutut, pakaian tradisional pria asal Bhutan

Bagikan:
250px-King_Jigme_Khesar_Namgyel_Wangchuck_%28edit%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Jigme Khesar Namgyel Wangchuck mengenakan Gho

Gho adalah pakaian tradisional Bhutan. Pakaian ini dikenakan oleh kaum pria. Gho mirip seperti kimono tetapi dengan panjang hanya sampai lutut. Untuk mengencangkannya, orang Bhutan juga mengenakan sabuk yang bernama kera. Kera dililitkan di pinggang dan dibuatkan kantung besar di atasnya. Pada masa lampau, kantung tersebut berfungsi untuk membawa sejumlah barang, seperti mangkuk, doma (buah pinang) dan pisau belati. Namun seiring berjalannya waktu, kantung itu kini juga digunakan sebagai tempat untuk membawa uang, dompet dan bahkan ponsel pintar.[1][2]

Pada tahun 1989 Bhutan memberlakukan aturan ketat tentang pemakaian gho. Bagi orang yang melanggar, maka ia akan mendapatkan denda. Namun sekarang aturannya lebih longgar. Pakaian ini hanya wajib dikenakan oleh kaum pria untuk urusan-urusan tertentu, seperti sekolah, pemerintahan dan kegiatan ibadah di biara.[1][3]

Gho tersedia dalam berbagai pola, biasanya berupa desain bergaris atau kotak-kotak. Orang biasa tidak mengenakan gho berwarna merah dan kuning karena itu adalah warna khusus biksu. Pola bunga-bunga dihindari karena bersifat tabu.[1]

Referensi

  1. 1 2 3 Planet, Lonely. "Dress: Gho & Kira in Bhutan". Lonely Planet (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-06-18. Diakses tanggal 2019-01-11.
  2. ↑ Bhutan, Tourism Council of. "Our Traditions & Culture". www.bhutan.travel. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-05-24. Diakses tanggal 2019-01-11.
  3. ↑ Newbold, Alice (2016-04-14). "Bhutan fashion: The unique street style scene in a country with a national dress code". The Telegraph (dalam bahasa Inggris (Britania)). ISSN 0307-1235. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-09-05. Diakses tanggal 2019-01-11.


Ikon rintisan

Artikel bertopik pakaian ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan