Jumat, 30 Oktober 2026
20:07 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Georg Maria Stenz

Georg Maria Stenz

Bagikan:
Georg Maria Stenz
Georg Maria Stenz
Georg Maria Stenz
Lahir22 November 1869
Horhausen, Westerwald
Meninggal23 April 1928 (umur 58)
Nama lainHanzi: 薛田资; Pinyin: Xuē Tiánzī
PekerjaanMisionaris di Shandong, Tiongkok
Masa aktif1893 hingga 1927
OrganisasiSerikat Sabda Allah
Dikenal karenaInsiden Juye, Insiden Jietou
Tanda tangan
250px-Stenz_signature.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Georg Maria Stenz (Hanzi:薛田资; Pinyin:Xuē Tiánzī, 22 November 1869[1] – 23 April 1928[2]) adalah misionaris Katolik dari Serikat Sabda Allah di Shandong, Tiongkok selama periode 1893 hingga 1927. Dia terlibat dalam dua insiden besar yang menggunakan kekerasan terhadap misionaris Katolik di Shandong, yaitu Insiden Juye dan Insiden Jietou. Insiden Juye (1897) merupakan serangan terhadap rumah misi Stenz di desa Zhang Jia yang mengakibatkan dua misionaris Jerman (Richard Henle dan Franz Xaver Nies) terbunuh. Stenz, yang kemungkinan juga menjadi target serangan pada saat itu, berhasil bersembunyi dan melarikan diri tanpa cedera. Insiden itu digunakan oleh Kekaisaran Jerman untuk membenarkan pendudukan Qingdao. Sedangkan dalam Insiden Jietou, Stenz dan sekelompok orang Kristen Tiongkok dianiaya dan ditahan di desa Jietou (Hanzi:街头镇; Pinyin:Jiētóu zhèn, Rizhao, Shandong, selama tiga hari (8-11 November 1898) yang mengakibatkan intervensi militer Jerman dan klaim kompensasi kepada Tiongkok.

Referensi

  1. ↑ Klaus Mühlhahn, Herrschaft und Widerstand in der "Musterkolonie" Kiautschou: Interaktionen zwischen China und Deutschland, 1897–1914, Oldenbourg Verlag, Jan 26, 2000
  2. ↑ Stephan Puhl, Roman Malek (editor), "Georg M. Stenz, SVD (1869–1928): Chinamissionar im Kaiserreich und in der Republik", Steyler Verlag, Nettetal, 1994


Ikon rintisan

Artikel bertopik biografi tokoh ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan