Senin, 21 September 2026
08:32 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Geofagia

Geofagia

Infotaula de menjarGeofagia
250px-GeophagicRocks.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Rincian
Jeniseating behavior (en) Terjemahkan dan Pica Suntingan nilai di Wikidata

Geofagia adalah kebiasaan pada manusia dan hewan untuk memakan tanah, termasuk lempung, batu, dan kerikil. Hal ini umum dijumpai pada hewan liar dan juga pada manusia, terutama pada masyarakat pedesaan atau praindustrial di antara anak-anak dan wanita hamil.[1] Kebiasaan ini dilakukan oleh beberapa masyarakat di belahan dunia dan biasanya dimiliki oleh orang yang tinggal di daerah tropis dan hangat, meski sebagian besar negara yang memiliki kebiasaan memakan tanah liat ini tidak pernah mengakuinya.[2]

Geofagia pada hewan

Geofagia telah didokumentasikan pada berbagai spesies mamalia, burung, reptil, kupu-kupu dan isopoda, terutama pada herbivora.[3] Konsumsi tanah oleh hewan umumnya tidak berdampak buruk dan kadang kala malah menguntungkan. Misalnya, sejumlah jenis burung memakan kerikil atau tanah kasar untuk membantu mencerna makanannya karena burung tidak memiliki gigi. Sementara itu, ungulata, kelinci, dan kupu-kupu melakukan geofagia diduga untuk mendapatkan mineral esensial.

Dampak kesehatan pada manusia

Sebuah studi menyebutkan bahwa ternyata tanah liat atau lempung yang steril memiliki efek menyamankan perut dan membantu melindungi dari serangan virus dan bakteri.[2][4] Tanah liat juga bisa mengikat hal yang berbahaya seperti mikrob, patogen dan virus. Dengan demikian, lempung yang dimakan bisa menjadi semacam pelindung, semacam masker lumpur untuk usus.[2]

Ada risiko yang jelas dalam konsumsi tanah liat yang terkontaminasi oleh kotoran hewan atau manusia, khususnya risiko dari telur parasit, seperti cacing gelang yang dapat tinggal selama bertahun-tahun di dalam tanah dan dapat menimbulkan masalah. Juga dapat meningkatkan risiko terjangkit tetanus. Namun, risiko ini umumnya sudah dipahami oleh sebagian besar masyarakat atau suku yang mengonsumsi tanah liat. Kegemaran anak-anak untuk terlibat dalam mengonsumsi tanah membuat mereka lebih rentan terhadap infeksi cacing. Bahaya lain yang terkait dengan mengonsumsi tanah liat mencakup kerusakan enamel gigi, menelan berbagai bakteri, berbagai bentuk pencemaran tanah, dan obstruksi usus. Namun proses pengolahan tanah liat yang cukup bagus dengan cara memasak atau dipanggang dapat mengurangi risiko tersebut.[5]

Lihat pula

  • Ampo, sejenis tanah liat yang dapat dimakan
  • Napal

Referensi

  1. Peter Abrahams, Human Geophagy: A Review of Its Distribution, Causes, and Implications. in H. Catherine W. Skinner, Antony R. Berger, Geology and health: closing the gap. Oxford University Press US, 2003, p. 33. ISBN 0-19-516204-8
  2. 1 2 3 (Indonesia) NEWS & FEATURES / HEALTH CONCERN - ARTIKEL - Kompas.com "Makan Tanah Liat Baik untuk Pencernaan?". Kompas.com. 2011-06-08. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-03-06. Diakses tanggal 22-08-2013.{{cite news}}: Periksa nilai tanggal dalam: |accessdate=
  3. Jared M. Diamond, "Evolutionary biology: Dirty eating for healthy living". Diarsipkan 2023-07-31 di Wayback Machine. Nature 400, 120-121 (1999)
  4. Makan Tanah Itu Liat Baik www.kopimaya.com Diarsipkan 2021-12-22 di Wayback Machine.
  5. Henry dan Kwong, "Why is geophagy treated like dirt?", halaman 355

Pranala luar


Ikon rintisan

Artikel bertopik budaya ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan