| Gayong | |
|---|---|
Poster penayangan di bioskop Malaysia | |
| Sutradara | Faisal Ishak |
| Produser |
|
| Ditulis oleh | Naza Manas |
| Cerita | Eric Ong |
| Pemeran | |
| Penata musik | Leonard Yeap |
| Sinematografer | Harris Hue Abdullah |
| Editor | Hafeez Mohd Noor |
Perusahaan produksi | SOL Pictures |
| Distributor | Empire Film Solution |
Tanggal rilis | 8 Mei 2025 (Malaysia) 22 Mei 2025 (Singapura) |
| Negara | Malaysia |
| Bahasa |
|
| Anggaran | RM 7 juta [1] |
| Pendapatan kotor | RM 4,11 juta |
Gayong adalah sebuah film laga biografi Malaysia 2025 yang disutradarai oleh Faisal Ishak berdasarkan skenario yang ditulis Naza Manas. Film ini dibintangi oleh Beto Kusyairy, Nabila Huda, Syafie Naswip serta Yayan Ruhian,[2] dengan alur cerita mengenai kisah hidup dari pendiri Silat Gayong dari Perak, Datuk Meor Abdul Rahman.[3] Film ini ditayangkan di bioskop pada 8 Mei 2025.[4]
Sekuelnya, Gayong 2, dirilis pada 9 April 2026.
Alur cerita
Di Royal Club Ipoh, Perak pada tahun 1938, Worawot, seorang petarung asal Thailand mengalahkan petarung-petarung lokal dengan seni bela diri Muay Thai-nya. Penglima Merah, salah seorang petarung lokal mencoba menantangnya tapi juga berhasil dikalahkan oleh Worawot. Saat Worawot hendak menghajar Penglima Merah yang sudah tidak berdaya, seorang pria menendangnya mundur. Pria tersebut adalah Meor Abdul Rahman, seorang praktisi silat asal Taiping, Perak. Meor berhasil mengalahkan Worawot dan kemenangannya dirayakan dan dielu-elukan warga setempat.
Meor kemudian pindah bersama keluarganya ke Pasir Ria, Singapura, untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Di Singapura, Meor sempat berkelahi dengan Wak Kusang, seorang pendekar asal Pulau Sudong, karena mengira bahwa Wak Kusang adalah seorang pencuri. Namun, kesalahpahaman tersebut segera berakhir setelah pencuri yang sebenarnya tertangkap. Perkelahian itu justru membuat keduanya saling mengenal, dan Wak Kusang memberikan seekor ikan kepada Meor sebagai tanda persahabatan. Meor kemudian melamar pekerjaan bersama adik iparnya, Mat, dan keduanya diterima sebagai montir di Gillman Barracks, Royal Corps of Signals, Angkatan Darat Britania Raya di Singapura.
Suatu hari, beberapa tentara Britania Raya menemukan Meor, Sam, dan beberapa orang lainnya sedang melaksanakan salat dan berusaha membubarkan mereka. Hal tersebut memicu perkelahian. Meor berhasil mengalahkan para prajurit tersebut, dan perselisihan itu berakhir setelah Letnan Kolonel Pope memerintahkan Meor dan Sam untuk memperbaiki mobil. Pada kesempatan lain, para tentara tersebut membalas dendam dengan mengeroyok Meor di sebuah ruangan gelap sambil mengenakan perangkat penglihatan malam. Meskipun sempat dihajar, Meor akhirnya berhasil mengalahkan mereka semua. Perkelahian tersebut kemudian dihentikan oleh Letnan Kolonel Pope. Sebagai konsekuensinya, Meor dan Mat diberhentikan dari pekerjaan sebagai montir, tetapi kemudian ditawari jabatan sebagai pelatih bela diri di Angkatan Darat bersama pelatih sebelumnya, Master Chan, seorang ahli kungfu asal Hong Kong. Di sisi lain, Meor juga mengajarkan silat kepada orang-orang di sekitar tempat tinggalnya serta para penduduk di pulau Sudong , tempat asal Wak Kusang.
Ketika Jepang menyerang Singapura pada tahun 1942, Meor membawa keluarganya menyeberangi laut dengan perahu menuju Pulau Sudong untuk menyelamatkan diri. Keesokan harinya, Meor bersama Mat, Wak Kusam, dan lima pendekar asal Sudong lainnya kembali menyeberang untuk menyelamatkan penduduk yang masih terjebak di Pasir Ria. Mereka berhasil menyelamatkan beberapa orang, tetapi Meor dan Wak Kusam kemudian dikepung oleh tentara Jepang di pantai. Namun, Yamada, pemimpin pasukan Jepang, memutuskan untuk melepaskan mereka karena rencana berikutnya adalah membumihanguskan Pulau Sudong. Sebelum pergi, Meor berhasil melukai wajah Yamada dengan tombak yang dilemparkannya.
Beberapa hari kemudian, Yamada dan pasukan Jepang tiba di Pulau Sudong. Berkat kerja sama para penduduk, mereka berhasil mendesak pasukan Jepang. Yamada kemudian menantang Meor untuk bertarung satu lawan satu. Jika Meor menang, Yamada berjanji tidak akan menyerang mereka lagi pada masa mendatang. Sebaliknya, jika Yamada menang, seluruh penduduk desa akan dihabisi. Setelah pertarungan pedang yang sengit, Meor berhasil membuat pedang Yamada terlepas dari tangannya. Meor kemudian meletakkan pedangnya dan melanjutkan pertarungan dengan tangan kosong. Dalam pertarungan tersebut, Meor kembali berhasil mengalahkan Yamada. Para penduduk kemudian mengawal tentara Jepang meninggalkan pulau tersebut. Sebelum pergi, Yamada menganggukkan kepala sebagai tanda penghormatan kepada Meor.
Setelah Perang Dunia II berakhir, Meor kembali ke Singapura dan bekerja sebagai polisi di Departemen Investigasi Kriminal Kepolisian Singapura.
Pemeran
- Beto Kusyairy sebagai Meor Abdul Rahman, praktisi silat dari Taiping, Perak yang hijrah ke Singapura dan bekerja sebagai mekanik di bawah Gillman Barracks
- Nabila Huda sebagai Che Som, isteri dari Meor
- Syafie Naswip sebagai Mat, adik Che Som, adik ipar dari Meor
- Yayan Ruhian sebagai Wak Kusang, pendekar Pulau Sudong
- Ebby Saiful sebagai Penglima Merah, seorang pendekar yang dihajar oleh Worawut
- Nasir Jani sebagai Penghulu Haron, ketua kampung Pasir Ria
- Shannon Wiratchai sebagai Worawut, praktisi Muay Thai dari Thailand
- Hiromitsu Takeda sebagai Yamada, perwira tentara Jepang yang mahir dalam seni bela diri karate
- Eric Chen sebagai Master Chan, pengajar seni bela diri kung fu dari Hong Kong
- Wan Raja sebagai Talib
- Anas Ridzuan sebagai Yunos
- Shah Kimin sebagai Mat Resad
- Vincent Kellsey sebagai Lt. Kol Pope
- Peter Davis sebagai Harry
- Daniel Gan sebagai Tony
- Timofey Mitrofanov sebagai Tim
- Daryll’Dizzy Westrup sebagai Supervisor
- Henzi Andalas sebagai Yusof
- Doy Rezwan sebagai Naning
- Haikal Farid sebagai Mustapha
- Khairul Zin sebagai Sabtu
- Nabil Zakaria sebagai Osman
- Yumee Chot sebagai Bendol
- Ayu Azlina sebagai Endah
- Haikal Kamsani sebagai Daud
- Naza Manas sebagai Penghulu Sarman
- Nesa Idrus sebagai Siti
Produksi
Pengambilan gambar dimulai pada 5 Oktober 2024 dengan lokasi syuting di Kuala Lumpur, Kota Tinggi (Johor), Ipoh (Perak), serta Sepang (Selangor).[5] Di film ini, Yayan dipercaya sebagai koreografer adegan laga, di mana dia harus melakukan persiapan latihan silat untuk para pemain dalam jangka waktu satu bulan.[6]
Penayangan
Gayong ditayangkan di bioskop Malaysia dan Brunei pada 8 Mei 2025, serta ditayangkan di Singapura pada 22 Mei 2025.[4]
Referensi
- ↑ "gayong Showcases story of silat seni gayong founder". bernama (dalam bahasa American English). 2024-09-27. Diakses tanggal 2025-05-08.
- ↑ Ghafar, Fendi (2024-09-16). "Gayong: Legasi Mahaguru Silat diabadikan di layar perak". suara.tv (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-02-06.
- ↑ Amira (2025-08-27). "'Filem Gayong Tayang Semula Di Pawagam Versi 'Director's Cut' Sempena Sambutan Hari Kemerdekaan Ke-64 & Hari Malaysia'". Siakap Keli (dalam bahasa Melayu). Diakses tanggal 2026-08-27.
- 1 2 "Local film 'Gayong' goes global; to be released in 33 Latin American countries". The Star (dalam bahasa Inggris). 2025-05-22. Diakses tanggal 2026-08-27.
- ↑ MUSTAZA, AQMAR (2024-09-21). "Gayong angkat kisah mahaguru silat". Sinar Harian (dalam bahasa Melayu). Diakses tanggal 2026-08-26.
- ↑ Entertainment, N. S. T. (2024-09-25). "#SHOWBIZ: Yayan combines work and family in Malaysia | New Straits Times". NST Online (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-08-27.