Jumat, 30 Oktober 2026
14:10 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Garis Mogadishu

Bagikan:
Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Somali Civil War.

Garis Mogadishu adalah titik atau batas ketika keterlibatan pasukan asing dalam sebuah konflik berubah dari operasi pemeliharaan perdamaian atau diplomasi menjadi operasi pertempuran.[1] Istilah ini sering dipakai untuk menyebut keengganan pelaku internasional untuk melakukan intervensi militer ke negara lain atas alasan kemanusiaan; mereka khawatir dengan operasi pertempuran yang berpotensi memakan banyak korban.

Asal

Istilah ini mengacu pada intervensi asing pada Perang Saudara Somalia ketika beberapa faksi saling berebut kendali negara. Pada April 1992, setelah Sekretaris Jenderal PBB Boutros Boutros-Ghali menuntut aksi secepatnya, Dewan Keamanan PBB menyetujui operasi kemanusiaan ke Somalia yang awalnya melibatkan kontingen kecil tentara PBB (UNOSOM), diikuti pasukan militer Amerika Serikat UNITAF pada bulan Desember.

Bulan Maret 1993, DK PBB mengirimkan misi baru, UNOSOM II, yang diberi hak penegakan hukum sesuai Bab VII Piagam PBB untuk menciptakan lingkungan kondusif di seluruh Somalia. Akan tetapi, operasi ini berubah setelah Pertempuran Mogadishu tanggal 3 Oktober 1993 ketika pasukan A.S. berusaha melancarkan serangan ke Olympic Hotel untuk menangkap Mohamed Farrah Aidid.[2] Pertempuran selanjutnya mengakibatkan 18 tentara A.S. dan 83 orang lainnya tewas. Jasad korban dari pihak A.S. diseret di jalanan Mogadishu oleh warga setempat dan anggota Aliansi Nasional Somalia pimpinan Aidid.

Setelah pertempuran mematikan ini, muncul tekanan dari berbagai pihak untuk menarik pasukan A.S. dari Somalia. Presiden Clinton beberapa hari kemudian menyatakan bahwa, "mulai hari ini sampai seterusnya, misi kami adalah meningkatkan kekuatan kami, melakukan tugas kami, menarik tentara kami dan memulangkan mereka". Ia juga mengumumkan bahwa tentara A.S. akan ditarik pada pertengahan 1994.[3]

Penggunaan

Konsep Garis Mogadishu semakin populer dalam diskursus hubungan internasional pasca-Perang Dingin. Kekhawatiran akan terulangnya peristiwa di Somalia membentuk kebijakan Amerika Serikat pada tahun-tahun selanjutnya. Banyak komentator yang menjadikan konsekuensi buruk Pertempuran Mogadishu sebagai alasan utama kegagalan intervensi A.S. di konflik-konflik selanjutnya seperti Genosida Rwanda tahun 1994.[4] Menurut mantan wakil utusan khusus A.S. untuk Somalia Somalia, Walter Clarke: "Hantu Somalia masih menghantui kebijakan Amerika Serikat. Sedikitnya respon A.S. di Rwanda merupakan bentuk ketakutan akan terulangnya peristiwa di Somalia."[3]

Clinton juga enggan memobilisasi angkatan darat A.S. untuk memerangi Angkatan Darat Serb Bosnia di Bosnia dan Herzegovina tahun 1995 dan Angkatan Darat Yugoslav di Republik Federal Yugoslavia (waktu itu di provinsi Kosovo) tahun 1999.

Pada 1990-an, Jenderal Michael Rose, kepala United Nations Protection Force, menegaskan bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak akan "melintasi Garis Mogadishu".[1] Akan tetapi, pengganti Rose, Rupert Smith, menyimpulkan bahwa mandat kemanusiaan UNPROFOR tidak cukup kuat.

Pada tahun 2003, Fergal Keane berpendapat bahwa perubahan kebijakan A.S. terhadap Liberia menunjukkan bahwa Garis Mogadishu sudah tidak ada lagi.[4]

Referensi

  1. 1 2 "The crossing of the Mogadishu line". The Economist. 13 Januari 1996. Diarsipkan dari asli tanggal 2012-11-02. Diakses tanggal 27 Oktober 2009.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ "Ambush in Mogadishu: Chronology". PBS. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-04-05. Diakses tanggal 27 Oktober 2009.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. 1 2 "Ambush in Mogadishu: Transcript". PBS. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-07-09. Diakses tanggal 27 Oktober 2009.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. 1 2 Keane, Fergal (5 Juli 2003). "Good news: the United States has decided to cross the 'Mogadishu line'". The Economist. Diakses tanggal 21 Juli 2009.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Bacaan lanjutan

  • Off, Carol (2000). The Lion, the Fox & the Eagle. Random House Canada. ISBN 0-679-31049-5.
  • Scott, Derek and Simpson, Anna-Louise (2006). Power and International Politics. VASST. ISBN 978-0-9756734-8-5.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan