Kamis, 29 Oktober 2026
12:42 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Gamelan Angklung

Bagikan:

Gamelan angklung adalah jenis barungan gamelan Bali yang termasuk dalam golongan gamelan tua, menggunakan laras selendro, dibentuk oleh instrumen berbilah dan pencon dari bahan kerawang.[1] Gamelan Angklung biasanya digunakan dalam upacara yadnya dan memiliki makna penting bagi masyarakat Bali karena dianggap tidak tergantikan dalam memperkuat nilai upacara adat. Ukurannya relatif kecil dan ringan sehingga mudah dimainkan saat prosesi.[2]

Sejarah dan perkembangannya

Menurut periodisasi gamelan Bali, Gamelan Angklung tergolong sebagai salah satu gamelan tua yang diperkirakan muncul pada abad ke-X.[3] Komposisi tabuh‑tabuh angklung kemungkinan telah ada sejak periode tersebut. Di Bali, terdapat tiga jenis gamelan angklung, yaitu Angklung Kembang Kirang, Angklung Kekelentangan, dan Angklung Don Nem[4]

Mulanya gamelan angklung digunakan terutama dalam upacara yadnya, termasuk Pitra Yadnya seperti ngaben.[5] Bagi masyarakat Bali, gamelan angklung memiliki nilai sentimental dan dianggap tidak tergantikan dalam memberikan makna pada upacara adat. Kata angklung sendiri merujuk pada alat bambu yang digunakan sebagai media penghasil bunyi.[1]

Seiring waktu, gamelan angklung mengalami perkembangan, baik dari sisi instrumen, repertoar, maupun fungsinya dalam kehidupan sosial masyarakat Bali. Gamelan angklung juga digunakan sebagai media kreativitas seni, misalnya dalam bentuk Angklung Kebyar atau versi modern untuk pertunjukan tari dan drama.[2][1]

Instrumentasi dan Jenis Musik

Gamelan angklung terdiri dari berbagai instrumen, antara lain:

  •   Sepasang jegogan,[6] jublag[6] dan selebihnya pamade dan kantilan(6-8 pasang).
  •   Untuk Angklung Kebyar mempergunakan 12 pencon.
  •   2 buah kendang kecil untuk angklung klasik dan kendang besar angklung kebyar.
  •   1 buah kempur kecuali angklung kebyar mempergunakan gong.
  •   1 buah tawa - tawa.[7]

Jenis musik gamelan angklung berlaras slendro dengan empat nada, yaitu ndeng (5), ndung (7), ndang (1), dan nding (3). Keempat nada tersebut dihasilkan oleh instrumen melodis seperti gangsa pemade, kantil, jublag, dan riyong. Selain itu, gamelan ini juga dilengkapi oleh instrumen non-melodis yang meliputi kempur, klenang, ceng-ceng, dan kendang, yang berperan menyempurnakan barungan gamelan. [4][7]

Daftar Referensi

  1. 1 2 3 Muliyadi, I Wayan Muliyadi (2017-08-23). "Angklung Kebyar". ISI Bali. Diakses tanggal 2025-11-19.
  2. 1 2 "GAMELAN ANGKLUNG | primaaditya". primaaditya | Blog. 2014-07-11. Diakses tanggal 2025-11-19.
  3. ↑ "Gamelan Angklung Bali". Diakses tanggal 2026-01-24.
  4. 1 2 https://repo.isi-dps.ac.id/150/1/TABUH_ANGKLUNG_KEKLENTANGAN_KLASIK.pdf
  5. ↑ Hastuti, Sri (2005). TRADISI NUSANTARA.pdf Musik Tradisi Nusantara:Musik-musik yang Belum Banyak Dikenal (PDF). Jakarta: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.{{cite book}}: Periksa nilai |url=Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  6. 1 2 Muis, M. (2009). Pendefinisian lema alat musik di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 50
  7. 1 2 "Gamelan Angklung". Gamelan Angklung | Sejarah Seni Tradisional Bali. Diakses tanggal 2025-11-19.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan