Rabu, 28 Oktober 2026
17:40 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Front Persatuan Kedua

Front Persatuan Kedua

Bagikan:
Hubungan Kuomintang dan Partai Komunis Tiongkok
Bagian dari Hubungan Lintas Selat
330px-China_Taiwan_Locator.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Saat ini Partai Komunis Tiongkok berkuasa di Tiongkok Daratan, Partai Nasionalis Tiongkok berkuasa di Taiwan.

120px-Flag_of_the_Chinese_Communist_Party.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
120px-Naval_Jack_of_the_Republic_of_China.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lokasi
Pemimpin

Partai Komunis Tiongkok Partai Komunis Tiongkok

40px-Naval_Jack_of_the_Republic_of_China.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Kuomintang

250px-Hundred_Regiments_Offensive_1940.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Seorang tentara Komunis mengibarkan bendera Nasionalis Republik Tiongkok setelah kemenangannya melawan Jepang pada Perang Tiongkok-Jepang Kedua.

Front Persatuan Kedua adalah aliansi singkat antara Partai Nasionalis China (Kuomintang, atau KMT) dan Partai Komunis Tiongkok (PKT) untuk melawan invasi Jepang selama Perang Tiongkok-Jepang Kedua, yang menunda Perang Saudara Tiongkok 1936-1947.

Latar belakang

Pada tahun 1927, Komunis Tiongkok memberontak melawan Kuomintang dan menimbulkan pembantaian pada Komunis Tiongkok di Shanghai oleh Tentara Revolusioner Nasional komandan Chiang Kai-shek. Hal ini menandakan berakhirnya persatuan 4 tahun antara KMT dengan Uni Soviet dan kerjasama KMT bersama PKT selama Ekspedisi Utara dalam upaya mengalahkan panglima-panglima perang dan mempersatukan Tiongkok.[1]

Pada tahun 1931, Jepang menginvasi dan melanjutkan pendudukan Manchuria. Chiang Kai-shek, seorang yang berkuasa pada pusat pemerintahan Tiongkok, memutuskan bahwa Tiongkok harus menghindari peperangan dengan Jepang karena kekacauan dalam negeri dan kurangnya persiapan perang. Oleh karena itu, ia memenuhi tuntutan Jepang dengan mengarahkan kekuatan militernya kepada pemberontak PKT.[2] Meskipun operasi militernya mampu membuat PKT mundur dan menghabisi 90% kekuatan militernya, ia tidak mampu menghabisi tentara PKT dan memenuhi kebijakannya “persatuan dari dalam sebelum perlawanan dari luar" ((Chinese): 攘外必先安内), yang pada saat itu kebijakannya tidak dikenali oleh rakyat Tiongkok. Hal ini menyebabkan kebencian yang meluas terhadap kepemimpinan KMT dan panglima perang regional. ref Diarsipkan 2012-12-07 di Wayback Machine

Insiden Xi'an

Pada tahun 1936, Chiang Kai-shek menugaskan "marsekal muda" Zhang Xueliang, seorang Jenderal Tiongkok yang kehilangan Manchuria di tangan Jepang pada saat penugasannya untuk memukul mundur Tentara Merah PKT. Peperangan dengan Tentara Merah menimbulkan banyak korban jiwa pada pihak Zhang, tetapi Chiang Kai-shek tidak memberikan bantuan pada tentaranya.

Pada tanggal 12 Desember 1936, Zhang Xueliang yang merasa tidak puas, memutuskan untuk bersekutu dengan PKT dan menculik Chiang Kai-shek di Xi'an untuk menghentikan konflik antara KMT dengan PKT secara paksa. Untuk mengamankan pembebasan Chiang, KMT dipaksa untuk menyetujui penundaan Perang Saudara Tiongkok dan membentuk persatuan antara KMT dan PKT melawan Jepang on 24 Desember 1936.[3]

China Democratic League, sebuah organisasi induk untuk tiga partai politik dan tiga kelompok kepentingan, juga setuju untuk berpartisipasi dalam front persatuan KMT and PKT.

Kerjasama selama Perang Tiongkok-Jepang Kedua

Sebagai hasil dari genjatan senjata antara KMT and PKT, Tentara Merah kemudian dibentuk menjadi New Fourth Army dan 8th Route Army, yang diperintahkan oleh Tentara Revolusioner Nasional. PKT setuju menerima kepemimpinan Chiang Kai-shek, dan mulai menerima bantuan finansial dari pusat pemerintahan yang dijalankan KMT.

Setelah dimulainya perang dalam skala penuh antara Tiongkok dan Jepang, pasukan Komunis bersama pasukan KMT berjuang selama Pertempuran Taiyuan, dan titik tinggi kerjasama mereka terjadi pada tahun 1938 selama Pertempuran Wuhan.

Namun pengajuan Komunis ke rantai komando Tentara Revolusioner Nasional adalah dalam nama saja. Komunis bersikap independen dan hampir tidak pernah menyerang Jepang dalam pertempuran konvensional tapi terbukti efisien dalam perang gerilya. Tingkat koordinasi yang sebenarnya antara PKT dan KMT selama Perang Tiongkok-Jepang Kedua sangat minim. [4]

Lihat juga

Referensi

  1. ↑ Wilbur, C. Martin (1983), The nationalist revolution in China, 1923–1928, Cambridge University Press.
  2. ↑ Taylor, Jay (2009).
  3. ↑ Ye, Zhaoyan Ye, Berry, Michael. [2003] (2003).
  4. ↑ Buss, Claude Albert. [1972] (1972).
Partai penguasa
Partai demokratis
Terlarang
Luar Negeri
Partai bersejarah
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan