Kamis, 29 Oktober 2026
21:03 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Francisco Serrão

Bagikan:
Infobox orangFrancisco Serrão
Biografi
KelahiranKerajaan Portugal Suntingan nilai di Wikidata
Kematian1521 (Kalender Masehi Gregorius) Suntingan nilai di Wikidata
Pulau Ternate Suntingan nilai di Wikidata
Kegiatan
Pekerjaanpenjelajah Suntingan nilai di Wikidata
KesetiaanImperium Portugal Suntingan nilai di Wikidata

Francisco Serrão (bahasa Spanyol:Francisco Serrano; meninggal tahun 1521) adalah penjelajah Portugis dan sepupu Fernão de Magalhães. Perjalanannya pada tahun 1512 merupakan penjelajahan pertama bangsa Eropa melintasi Malaka melewati Nusantara. Ia diangkat sebagai penasihat pribadi Sultan Bayanullah dari Ternate. Ia tetap di Kesultanan Ternate hingga saat kematiannya yang bertepatan tahunnya dengan kematian Fernao de Magalhaes.

Perjalanan ke Nusantara

Serrão bertugas sebagai kapten salah satu dari 3 kapal yang seluruhnya di bawah komando António de Abreu[1]) yang dikirim dari Melaka oleh Afonso de Albuquerque untuk menemukan Kepulauan Rempah-rempah di Maluku pada tahun 1511.[2] Banda adalah satu-satunya sumber pala di dunia. Pala merupakan rempah-rempah yang digunakan untuk bumbu, obat, dan bahan pengawet, yang pada masa itu amat tinggi harganya di pasaran Eropa. Portugis mencoba menguasai sumber itu daripada mengandalkan pedagang Arab yang menjualnya ke Venesia dengan harga tinggi.

Ekspedisi ke Malaku yang dipandu oleh orang Melayu tersebut melintasi Jawa dan Kepulauan Sunda Kecil sebelum menuju ke utara Banda melintasi Pulau Ambon. Ketika kapalnya berlabuh di Gresik, Serrão menikahi wanita setempat, yang kemudian menemaninya sepanjang perjalanan berikutnya.[3] Pada tahun 1512, kapalnya karam tetapi ia tetap mencoba mencapai Pulau Luco-Pino (Hitu), di utara Ambon. Para penjelajah itu tetap berada di Banda selama sebulan, membeli dan mengisi kapalnya dengan pala, juga cengkih yang banyak dijual di Banda.[1] Serrão meninggalkan Banda dengan menaiki jung Cina yang dibeli dari pedagang setempat sebagai pengganti kapalnya yang hilang.[1] Antonio de Abreu berlayar ke Ambon sementara Serrão terus menjelajah ke dalam Kepulauan Maluku.

Dengan 9 orang Portugis dan 9 penduduk Nusantara, kapal itu tenggelam akibat angin ribut dan pecah di sebuah batu karang lepas pantai sebuah pulau. Percobaannya untuk bergabung kembali dengan kapal De Abreu terhambat oleh badai dan Serrão terdampar di Pulau Ternate.[4] Ketika penduduk pulau itu mengamati bangkai kapal, ABK Serrão menampakkan diri tanpa senjata dan tak berdaya, tetapi membawa banyak uang. Ketika para penduduk mendekat, orang-orang Portugis itu menyerang dan memimpin kapal dan anak buahnya. Para penyelamatnya yang kurang hati-hati terpaksa membawa mereka ke Ambon, lalu mendarat di Hitu.[1]

Baju zirah, musket, dan keahlian menembak Serrão menarik hati para tetua yang berkuasa di Hitu. Mereka sedang menghadapi perang dengan Luhu, permukiman penting di Semenanjung Hoamal dekat Hitu.[5] Bangsa Portugis juga disambut di daerah itu sebagai pembeli makanan dan rempah-rempah selama ketenangan dalam perdagangan rempah-rempah akibat gangguan sementara dengan pelaut Jawa dan Melayu di daerah itu setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada tahun 1511. Pendatang itu direkrut sebagai sekutu militer dan tindakan luar biasa berikutnya didengar oleh penguasa Ternate dan Tidore yang sama-sama mengirimkan utusan untuk meminta bantuan.[2]

Mendukung wilayah Ternate, kekuatan terbesar Portugis, Serrão bertindak sebagai kepala kelompok prajurit upahan Portugis yang mengabdi pada Sultan Bayanullah yang mengendalikan perdagangan rempah-rempah. Mereka menjadi sahabat dekat dan sultan mengangkat Serrão sebagai penasihat pribadi untuk segala masalah, termasuk militer (pokoq isi dokumen Portugis) dan keluarga. Setelah diterima oleh sultan, Francisco Serrão memutuskan menetap di Ternate, tak berusaha kembali ke Malaka.[4]

Tahun-tahun terakhir

Surat Franscisco Serrão kepada Fernando de Magallanes, dibawa ke Portugal melalui Malaka dan menjelaskan Kepulauan 'Rempah-rempah', membantu Magallanes memengaruhi Raja Spanyol mendanai pelayarannya.[6] Sebelum mereka bertemu satu sama lain, Serrão meninggal secara misterius di Ternate, hampir bertepatan dengan kematian Magallanes di Filipina.[4] Salah satu teori menjelaskan bahwa Serrão meninggal akibat racun yang diberikan oleh Sultan Ternate.[6] Ikatan kekerabatannya dengan Juan Serrano tetap tak jelas dalam historiografi penjelajahan Portugis ke Asia Tenggara. Satu-satunya dokumen tertulis adalah daftar nama kapten dalam armada Magallanes.[4]

Lihat juga

Rujukan

Umum

  • Hannard, Willard A. (1991). Indonesian Banda: Colonialism and its Aftermath in the Nutmeg Islands. Bandanaira: Yayasan Warisan dan Budaya Banda Naira.
  • Muller, Karl (1997). Maluku: Indonesian Spice Islands. Singapore: Periplus Editions. ISBN 962-593-176-7.{{cite book}}: Parameter tidak dikenal |coauthors= diabaikan (|author= disarankan)

Catatan

  1. 1 2 3 4 Hannard (1991), halaman 7
  2. 1 2 Ricklefs, M.C. (1991). A History of Modern Indonesia Since c.1300, 2nd Edition. London: MacMillan. hlm. 24. ISBN 0-333-57689-6.
  3. ↑ Paramita R. Abdurachman (1988). "'Niachile Pokaraga' A Sad Story of a Moluccan Queen". Modern Asian Studies. 22 (3): 571–592. doi:10.1017/S0026749X00009690. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-07-25. Diakses tanggal 2009-11-21.
  4. 1 2 3 4 Duarte Barbosa; Mansel Longworth Dames; Fernão de Magalhães (1989). The book of Duarte Barbosa: an account of the countries bordering on the Indian Ocean and their inhabitants. New Delhi: Asian Educational Services. ISBN 8120604512.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  5. ↑ Hannard (1991), halaman 7; Muller (1997), halaman 43
  6. 1 2 Hannard (1991), page 8
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan