Rabu, 30 September 2026
11:11 WIB
TERKINI
Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Megapolitan Demo Buruh di DPR Lumpuhkan Gatot Subroto: Simak Jalur Alternatifnya Megapolitan Komunikasi Terputus Jadi Akar Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Regional KPU Batam Musnahkan Ribuan Surat Suara Rusak, Jaga Integritas Pemilu Regional Gagal Menulis Ulang: Konten Berita Tidak Memadai Way Kanan Kepala Toko Alfamart Way Kanan Diduga Gelapkan Rp141 Juta, Dua Pelaku Ditangkap Hiburan Lisa BLACKPINK Ukir Sejarah: Solois Asia Pertama Sabet Best Pop MTV VMAs 2026 Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Turun Drastis Rp17 Ribu, Cek Daftar Lengkap 29 September 2026 Hiburan TXT Gegerkan Penggemar dengan Mini Album 'PERFECT STORM' dan Tur Dunia Termasuk Jakarta Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Megapolitan Demo Buruh di DPR Lumpuhkan Gatot Subroto: Simak Jalur Alternatifnya Megapolitan Komunikasi Terputus Jadi Akar Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Regional KPU Batam Musnahkan Ribuan Surat Suara Rusak, Jaga Integritas Pemilu Regional Gagal Menulis Ulang: Konten Berita Tidak Memadai Way Kanan Kepala Toko Alfamart Way Kanan Diduga Gelapkan Rp141 Juta, Dua Pelaku Ditangkap Hiburan Lisa BLACKPINK Ukir Sejarah: Solois Asia Pertama Sabet Best Pop MTV VMAs 2026 Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Turun Drastis Rp17 Ribu, Cek Daftar Lengkap 29 September 2026 Hiburan TXT Gegerkan Penggemar dengan Mini Album 'PERFECT STORM' dan Tur Dunia Termasuk Jakarta Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang
Fist of Legend

Fist of Legend

film Hong Kong tahun 1994 karya Gordon Chan

Bagikan:
Untuk film Korea Selatan tahun 2013, lihat Fists of Legend.
Fist of Legend
250px-FistOfLegend.Jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Poster film Hong Kong
Tionghoa tradisional精武英雄
Makna harfiahPahlawan Jingwu
Hanyu PinyinJīngwǔ Yīngxióng
SutradaraGordon Chan
ProduserJet Li
Ditulis oleh
  • Gordon Chan
  • Lam Kee-to
  • Kim Yip
Berdasarkan
Fist of Fury
oleh Lo Wei
Pemeran
Penata musikJoseph Koo
SinematograferDerek Wan
EditorChan Ki-hop
Perusahaan
produksi
DistributorGolden Harvest
Tanggal rilis
  • 22 Desember 1994 (1994-12-22)
Durasi103 menit
NegaraHong Kong
Bahasa
  • Kanton
  • Jepang
Pendapatan kotorHK$14,8 juta

Fist of Legend (Hanzi:精武英雄) adalah sebuah film seni bela diri Hong Kong tahun 1994 yang disutradarai oleh Gordon Chan berdasarkan skenario yang ditulisnya bersama Lam Kee-to, dan Kim Yip. Koreografi bela diri film ini ditangani oleh Yuen Woo-ping, sementara produksi dilakukan oleh Jet Li yang juga tampil sebagai pemeran utama Chen Zhen. Film ini merupakan pembuatan ulang dari film seni bela diri tahun 1972 Fist of Fury yang dibintangi Bruce Lee.

Berlatar di Shanghai pada tahun 1937, Fist of Legend mengikuti kisah Chen yang menyelidiki kematian gurunya, Huo Yuanjia, yang tewas di tangan pasukan pendudukan Kekaisaran Jepang.[1] (Huo Yuanjia yang asli sebenarnya meninggal pada tahun 1910.) Film ini juga dibintangi Chin Siu-ho, Yasuaki Kurata, Shinobu Nakayama, Billy Chow, dan Paul Chun. Film ini dirilis oleh Golden Harvest pada 22 Desember 1994.[2] Fist of Legend dianggap sebagai salah satu film terbaik Jet Li sekaligus salah satu film seni bela diri terbaik sepanjang masa.[3]

Alur cerita

Pada tahun 1937, ahli bela diri Tiongkok Chen Zhen menempuh studi di Universitas Kyoto. Di sana ia tidak disukai oleh sekelompok ultranasionalis Jepang dan sering mendapatkan perlakuan rasialisme. Suatu hari kelompok tersebut mendatangi kelas Chen Zhen dengan maksud menakut-nakutinya agar bisa mengusirnya kembali ke negaranya. Chen Zhen menghadapi mereka dan berhasil mengalahkan semuanya. Tak lama kemudian, seorang master karate bernama Fumio Funakoshi, guru dari kelompok itu, datang dan meminta maaf atas kekacauan yang terjadi. Ia kemudian memberitahu Chen bahwa gurunya, Huo Yuanjia, telah meninggal setelah kalah dalam pertandingan melawan petarung Jepang bernama Akutagawa.

Chen segera kembali ke Shanghai. Merasa ada kejanggalan, ia menantang Akutagawa dan dengan mudah mengalahkannya. Chen lalu meminta agar jenazah gurunya dibongkar untuk diautopsi. Hasilnya mengungkap bahwa Huo Yuanjia telah diracun sebelum pertandingan berlangsung. Kemenangan tersebut membuat Chen dielu-elukan sebagai pahlawan di Perguruan Jingwu. Namun, perhatian besar yang tertuju pada Chen justru menimbulkan rasa iri dari putra gurunya, Huo Ting’en. Di sisi lain, Jenderal Jepang Fujita membunuh Akutagawa setelah ia berani menentang dan menyinggung cara licik Fujita, setelah mengetahui bahwa Huo Yuanjia telah diracun sebelum pertandingan. Fujita kemudian memutarbalikkan fakta dengan membuat seolah-olah Chen sebagai pelaku pembunuhan tersebut.

Murid-murid Akutagawa yang marah mendatangi perguruan Jingwu untuk menuntut balas. Pertarungan pun pecah sampai akhirnya polisi datang untuk menghentikan keributan. Di saat bersamaan, Chen muncul dan langsung ditangkap. Ia kemudian diadili, namun semua saksi yang dihadirkan memberikan kesaksian yang memberatkannya. Dalam keadaan terpojok, pengacara Chen menghadirkan kekasihnya, Mitsuko Yamada, sebagai saksi. Mitsuko bersaksi bahwa pada malam kejadian Chen sedang bersamanya di sebuah hotel. Kesaksian itu membuat hakim menyatakan Chen tidak bersalah. Meski bebas dari tuduhan, Chen tetap mendapat kecaman dari rekan-rekannya di Jingwu karena hubungannya dengan Mitsuko yang berasal dari Jepang. Huo Ting'en yang merasa bahwa posisinya di perguruan tersaingi oleh Chen, menantangnya untuk bertarung dalam sebuah duel satu lawan satu. Chen berhasil mengalahkannya, tetapi Chen memilih meninggalkan perguruan karena tidak mau berpisah dengan Mitsuko. Karena Mitsuko ditolak oleh warga di setiap tempat yang mereka coba singgahi, Chen akhirnya membawanya ke sebuah gubuk sederhana di pinggiran kota.

Di perguruan Jingwu, murid-murid Akutagawa datang membawa surat tantangan duel. Karena Chen tidak ada, para murid Jingwu berusaha mencari Huo Ting’en, tetapi kesulitan menemukannya. Tak lama kemudian, koki perguruan—yang ternyata pelaku peracunan terhadap Huo Yuanjia—dibunuh oleh Chan, salah satu murid yang diam-diam bekerja sama dengan pihak Jepang. Huo akhirnya ditemukan sedang mabuk di sebuah rumah bordir dan dibawa kembali ke perguruan.

Fumio datang dari Jepang untuk menantang Chen dan berhasil mengalahkannya. Setelah itu, ia memberi nasihat kepada Chen agar selalu mampu beradaptasi dalam pertarungan. Huo Ting’en kemudian berdamai dengan Chen dan mengajarkan jurus baru, Mizongyi. Mitsuko kembali ke Jepang dengan harapan Chen akan menyusulnya ke Kyoto. Keesokan harinya, Huo pergi ke perguruan Noguchi untuk bertarung dengan Fujita. Sebelum berangkat, Chen datang dan meminta ikut bersamanya. Di Noguchi, Fujita dengan mudah mengalahkan Huo. Chen lalu menggantikan Huo untuk menghadapi Fujita. Setelah pertarungan sengit, Chen berhasil mengalahkan dan membunuh Fujita. Usai pertempuran, pasukan Jepang dan polisi datang sehingga terjadi ketegangan. Duta besar Jepang kemudian memerintahkan pasukan untuk mundur, sambil menyatakan akan melaporkan Chen sebagai pelaku pembunuhan. Beberapa hari kemudian, Chen meninggalkan Shanghai dengan tujuan bertemu kembali dengan Mitsuko di Jepang.

Pemeran

Penerimaan

Box office

Meskipun Fist of Legend secara luas dianggap sebagai salah satu film terbaik Jet Li, pada masa penurunan industri film Hong Kong, pendapatan box office sebesar HK$14.785.382 dianggap mengecewakan. Sebagai perbandingan, film Jet Li Fong Sai-yuk meraih lebih dari HK$30 juta, dan Fong Sai-yuk II meraih HK$23 juta. Namun, secara keseluruhan pendapatan box office dari negara lain cukup baik.

Di Korea Selatan, film ini berhasil menjual 181.760 tiket di Kota Seoul.[4]

Tanggapan kritis

Film ini memperoleh penilaian 100% di Rotten Tomatoes.[5]

Televisi

Di Britania Raya, film ini (dirilis dengan judul Jet Li's Fist of Legend) ditonton oleh 1,1 juta pemirsa di televisi pada tahun 2004, menjadikannya film berbahasa asing ketujuh yang paling banyak ditonton di televisi pada tahun tersebut (di bawah enam film laga Hong Kong lainnya).[6]

Versi alternatif

Miramax

Perilisan di Amerika Serikat dengan sulih suara bahasa Inggris oleh Miramax dan Buena Vista Distribution mengandung empat kesalahan terjemahan yang secara signifikan mengubah makna keseluruhan film.

  1. Sebelum Chen meninggalkan Jepang, Mitsuko bertanya apakah ia membenci orang Jepang. Dalam versi Amerika ia menjawab, "Saya tidak benci". Dalam versi Hong Kong ia menjawab, "Saya tidak tahu".
  2. Dalam versi Amerika pada adegan Chen melawan Fumio, Fumio bertanya apa cara paling efektif untuk mengalahkan musuh. Chen menjawab bahwa cara paling efektif adalah memusatkan energi dan menyerang, lalu Fumio setuju. Dalam versi Hong Kong, mereka memulai dengan membicarakan pertandingan. Chen mengatakan tujuan seni bela diri adalah mengalahkan musuh. Fumio menjawab, "Tidak, kamu salah. Cara terbaik mengalahkan musuh adalah dengan senjata api. Seni bela diri adalah tentang pengembangan diri." Dialog asli ini merupakan rujukan kepada Bruce Lee, yang pernah dikutip saat produksi Enter the Dragon dengan pernyataan: "Saat ini kamu tidak berjalan di jalan sambil menendang orang, memukul orang — karena jika kamu melakukannya (membentuk tangan seperti pistol), ya sudah — saya tidak peduli seberapa hebat kamu".[7]
  3. Sebelum adegan pertarungan terakhir dalam versi Amerika, Chen dan Huo menghadapi Fujita yang memegang papan bertuliskan Dongya Bingfu (東亞病夫) dan ia mengatakan bahwa papan itu berarti "Jingwu ditutup". Karakter Tionghoa tersebut umumnya diterjemahkan sebagai "Pesakitan dari Timur" dan digunakan sebagai rujukan terkenal dalam Fist of Fury. Teks terjemahan dalam versi Hong Kong menerjemahkan papan tersebut dengan benar.
  4. Pada akhir film versi Amerika, sopir Chen bertanya apakah ia akan pergi bersama Mitsuko. Chen menjawab, "Jika aku tidak lagi memiliki negara, setidaknya aku masih bisa bersama wanita yang kucintai." Dalam versi Hong Kong, ia menjawab, "Di mana perang dengan Jepang kemungkinan besar akan pecah?" Sopir mengatakan, "Manchuria" dan Chen berkata, "Kalau begitu kita pergi ke Manchuria."

Terkait cuplikan, versi ini menghapus momen terakhir para murid yang sedang berlatih dan menambahkan kredit pembuka (animasi) serta penutup baru dalam bahasa Inggris, sepenuhnya menggantikan kredit sebelumnya.

Taiwan

Dibandingkan dengan versi Hong Kong, versi Taiwan berdurasi 106 menit dengan sulih suara Mandarin berisi cuplikan tambahan berikut:

Perpanjangan adegan ketika Fujita memberikan ceramah keras kepada beberapa pria, sebelum ia memerintahkan mereka untuk memata-matai sejumlah orang Jepang. Perpanjangan adegan Chen setelah memberi hormat di altar gurunya, ketika Liu Zhensheng menyerahkan sebuah koper kepadanya dan Chen kemudian pergi. Sebelum mengikutinya, Mitsuko juga memberi hormat dengan penuh hormat. Satu adegan penuh ketika Hill Hung mencari Huo Ting'en di sebuah rumah bordil, dan mendapati ia sedang mengisap opium bersama seorang pelacur. Satu adegan penuh ketika Hill Hung membawa teh untuk Huo Ting'en pada malam sebelum pertandingan terakhir. Perpanjangan adegan Fumio berbicara dengan duta besar, sebelum ia memenangkan permainan Renju. Setelah pertarungan terakhir berakhir, terdapat tambahan singkat ketika para tentara Jepang berhenti sejenak sebelum memasuki dojo. Dalam versi sulih suara Mandarin, terdapat musik latar ketika Chen bertarung melawan Huo, sedangkan dalam versi Kanton musik baru terdengar setelah Chen melakukan tendangan bergaya Capoeira di kemudian adegan.

Hong Kong

Versi Hong Kong, sebaliknya, memiliki cuplikan unik berikut:

Tangkapan reaksi juru masak di dapur (diikuti oleh gambar altar Huo Yuanjia) setelah Paman Nong mengirim para murid untuk mencari Huo Ting'en. Beberapa detik adegan Chen Zhen berpura-pura mati di hadapan Fujita. Setelah kredit selesai, terlihat kru film melambaikan tangan ke arah kamera. Baik versi Hong Kong maupun Taiwan memiliki kredit akhir yang sedikit berbeda.

Warisan

Fist of Legend menginspirasi the Wachowskis untuk merekrut penata koreografi Yuen Woo-ping dalam adegan pertarungan film The Matrix (1999). Gaya pertarungan dalam kedua film tersebut memiliki sejumlah kesamaan.

Pada tahun 1996, sebuah sekuel tidak resmi berjudul Fists of Legends 2: Iron Bodyguards dirilis dengan dibintangi Jet Le (bukan Jet Li).[8]

Film-film berikutnya juga dipengaruhi oleh Fist of Legend. Hitman menampilkan adegan tokoh utama menggunakan sabuk sebagai senjata, sebagaimana terlihat dalam Fist of Legend. Koreografi pertarungan yang lebih realistis dan minim penggunaan kabel dalam Kiss of the Dragon merupakan hasil kritik penggemar terhadap koreografi Corey Yuen dalam Romeo Must Die serta preferensi terhadap gaya yang ditampilkan dalam Fist of Legend.

Referensi

  1. ↑ "Fist of Legend". IGN. 7 Maret 2000. Diakses tanggal 15 September 2010.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ Gibron, Bill. "Fist of Legend". Pop Matters. Diakses tanggal 15 September 2010.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ "Jet Li's 1990s Remake of a Bruce Lee Classic Has 100% on RT and Totally Deserves It". Screen Rant. 17 Mei 2025.
  4. ↑ "영화정보" [Informasi Film]. KOFIC (dalam bahasa Korea). Dewan Film Korea. Diakses tanggal 26 Agustus 2019. First Of Legend
  5. ↑ "Jing wu ying xiong (Fist of Legend) (1994)". Rotten Tomatoes. Diakses 24 Juli 2013.
  6. ↑ "UK Film Council Statistical Yearbook: Annual Review 2004/05" (PDF). UK Film Council. hlm. 74. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 9 Oktober 2022. Diakses tanggal 21 April 2022 – via British Film Institute.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. ↑ Jenness, Kirik. "7 things you didn't know about Bruce Lee". MMA Underground (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 1 November 2022.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. ↑ "Jing wu ying xiong 2: Tie bao biao (1996)". IMDb. Diakses tanggal 15 Maret 2015.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan