Selasa, 20 Oktober 2026
09:00 WIB
TERKINI
Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau
Fedayi Armenia

Fedayi Armenia

Bagikan:
Fedayi Armenia
330px-Armenian_Fedayees_1890-1896.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sekelompok pejuang fedayi dari grup Dashnak.
Bendera bertuliskan Merdeka atau Mati.
Aktif1880s–1920s
NegaraKesultanan Utsmaniyah
Kekaisaran Rusia
Iran Qajar
AliansiArmenia
Tipe unitMilitan
Jumlah personel40.000 saat peristiwa genosida
PertempuranGerakan pembebasan nasional Armenia
Revolusi Konstitusional Iran
Perlawanan Genosida Armenia
Tokoh
sebelum 1893Arabo
1893–1899Aghbiur Serob
1899–1904Andranik
1904–1907Kevork Chavush

Fedayi (bahasa Armenia Barat: Ֆէտայի Fedayi; bahasa Armenia Timur: Ֆիդայի Fidayi), juga dikenal sebagai tentara tidak tetap Armenia atau milisi Armenia adalah warga sipil Armenia yang secara sukarela meninggalkan keluarga mereka untuk membentuk pasukan pertahanan tidak tetap sebagai tanggapan atas pembantaian orang-orang Armenia dan penjarahan desa-desa berpenduduk Armenia oleh bandit-bandit Kurdi dan pasukan Turki pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, termasuk dalam peristiwa pembantaian Hamid. Tujuan akhir mereka adalah untuk mendapatkan otonomi Armenia (faksi Armenakan) atau kemerdekaan (faksi Dashnak dan Hunchak), tergantung pada ideologi dan seberapa berat penindasan yang mereka alami.

Beberapa tokoh kunci Fedayi juga terlibat dalam Revolusi Konstitusional Iran yang dimulai pada periode yang sama, atas persetujuan para petinggi Dashnak.

Istilah fedayi berasal dari bahasa Arab fedayeen: فدائيون, secara harfiah berarti "mereka yang berkorban".[1][2]

Tujuan dan kegiatan

250px-Bitlis_Vilayet_in_Ottoman_Empire_%281900%29.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Vilayet Bitlis (dulu dikenal sebagai Taron) adalah pusat kegiatan fedayi di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Tujuan utama fedayi Armenia adalah untuk melindungi penduduk desa berbahasa Armenia dari penganiayaan dan pada saat yang sama, mengacaukan kegiatan Kekaisaran Utsmaniyah di kawasan berpenduduk Armenia. Sukarelawan Armenia bertempur selama Pembantaian Hamid, Perlawanan Sasun (1894), Pemberontakan Zeitun (1895–1896), Pertahanan Van, dan Ekspedisi Khanasor. Anggotanya termasuk para pemimpin dan anggota gerakan nasional Armenia. Kelompok-kelompok ini menyabotase saluran telegraf dan merampas barang-barang tentara. Mereka juga melancarkan aksi pembunuhan dan serangan balik terhadap desa-desa Muslim. Mereka juga membantu orang-orang Armenia untuk melawan selama terjadinya pembersihan di pedesaan oleh pejabat Turki. Mereka didukung oleh penduduk Armenia setempat dan dengan cepat meraih ketenaran, dukungan, simpati, dan kepercayaan dari warga.

Aktivitas mereka di Kesultanan Utsmaniyah mereda setelah Era Konstitusi Kedua Kesultanan Utsmaniyah, ketika Komite Persatuan dan Kemajuan berkuasa dan untuk sementara waktu, memberikan rakyat Armenia hak-hak yang setara dengan etnis Turki dan Kurdi. Sebagian besar kelompok fedayi kemudian bubar, dan anggotanya pulang ke keluarganya masing-masing.

Revolusi Konstitusi Persia

Beberapa tokoh kunci fedayi dan Dashnak seperti Aram Manukian, Hamo Ohanjanyan dan Stepan Stepanian setuju untuk bergabung dengan Revolusi Konstitusi Iran yang sedang berlangsung di negara tetangga, Persia Qajar.[3]

Mereka menganggap bahwa gerakan tersebut memiliki cita-cita untuk menegakkan hukum dan ketertiban, hak asasi manusia dan kepentingan semua pekerja. Para tokoh Armenia juga merasa bahwa revolusi itu akan berhasil dan menguntungkan orang-orang Armenia di Iran.[3]

Perang Dunia I

250px-Armenian_volunteer_soldier%2C_with_gun.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Seorang pejuang sukarela Armenia

Beberapa kelompok fedayi bergabung dengan tentara Utsmaniyah setelah pemerintah Utsmaniyah mengesahkan undang-undang baru guna menyokong upaya perang yang mewajibkan semua pria dewasa hingga usia 45 tahun yang tidak berhalangan untuk direkrut dalam tentara atau membayar pungutan tertentu (yang akan digunakan untuk kepentingan militer) jika tidak ingin berdinas. Sebagai dampak dari undang-undang ini, sebagian besar pria yang berbadan sehat dikeluarkan dari rumah mereka, menyisakan wanita, anak-anak, dan orang tua dalam kesendirian.

Genosida yang dilakukan selama Perang Dunia I oleh Kesultanan Utsmaniyah, membuka jalan bagi terbentuknya kelompok-kelompok fedayi, yang sekali lagi beroperasi di dalam perbatasan Kesultanan Utsmaniyah. Pada gilirannya, puluhan ribu orang Armenia secara sukarela direkrut di beberapa satuan yang berbeda. Satuan relawan Armenia ini dibentuk sebagai bagian dari tentara Rusia guna memerangi Turki Ottoman.[4]

Front Kaukasus Rusia runtuh setelah penarikan diri oleh Tsar. Pada tahun 1917, Kongres Armenia Timur meminta tentara dan perwira Armenia yang tersebar di seluruh wilayah pendudukan Rusia untuk secara bertahap disatukan.[5] Rencananya adalah untuk memobilisasi orang-orang Armenia di front Kaukasia. Untuk tujuan itu, dibentuklah Komite Militer Armenia dengan Jenderal Bagradouni sebagai presidennya.[5] Tahun itu, Kongres Nasional Armenia membentuk Dewan Nasional Armenia yang dibuat untuk mempersiapkan Republik Armenia Pertama. Para mantan Tentara Rusia ini kemudian membentuk angkatan bersenjata Republik Armenia Pertama. Pengungsi Armenia dari Kekaisaran Turki berbondong-bondong menuju negara Armenia merdeka. Lebih jauh ke tenggara, di Van, kaum fedayi membantu orang-orang Armenia lokal melawan tentara Turki hingga April 1918, di mana mereka terpaksa mundur ke Persia.

Untuk mengantisipasi tindakan darurat, Administrasi Armenia Barat mensponsori sebuah konferensi yang mengadopsi rencana untuk membentuk 20.000 orang milisi di bawah pimpinan Andranik pada bulan Desember 1917. Komisaris sipil Dr. Hakob Zavriev mempromosikan Andranik menjadi Mayor Jenderal dan ia menjadi pimpinan tentara Armenia di Kekaisaran Ottoman. Mereka bertempur dalam berbagai pertempuran yang sukses seperti Pertempuran Kara Killisse, Pertempuran Bash Abaran dan Pertempuran Sardarapat, ketika para fedayee bergabung dengan tentara Armenia (yang berpusat di Yerevan) pimpinan Jenderal Tovmas Nazarbekian.

Jumlah total gerilyawan dalam kelompok yang tidak teratur ini adalah 40.000–50.000, menurut Boghos Nubar, presiden Delegasi Nasional Armenia dalam Konferensi Perdamaian Paris tahun 1919.

Boghos Nubar, sebagai bagian dari perwakilan Armenia, bermaksud untuk memperluas Republik Pertama Armenia yang merdeka. Dengan demikian, dia bisa saja melebihkan jumlah fedayee Armenia yang mampu berperang untuk menunjukkan bahwa orang-orang Armenia mampu mempertahankan perbatasan Utsmaniyah-Armenia. Kenyataannya, jumlah mereka pada waktu itu jauh lebih sedikit, mengingat ada pula sekawanan fedayee yang merupakan orang Kurdi atau Turki, bahkan menurut laporan asing. Selain itu, banyak pula fedayi yang sama dan muncul kembali di berbagai tempat dan pertempuran. Namun, para pejuang tak tetap Armenia yang tewas dalam mempertahankan wilayah-wilayah Armenia Barat selama genosida Armenia juga patut diperhitungkan.

Referensi

  1. ↑ Middle East Glossary - The Israel Project: FEDAYEE Diarsipkan 2012-04-27 di Wayback Machine
  2. ↑ Tony Rea and John Wright (1993). The Arab-Israeli Conflict. Oxford University Press. hlm. 43. ISBN 019917170X.
  3. 1 2 Berberian, Houri (2001). Armenians and the Iranian Constitutional Revolution of 1905–1911. Westview Press. hlm. 116–117. ISBN 978-0-8133-3817-0.
  4. ↑ "Ottoman labour battalions". hist.net. Diakses tanggal 2021-10-17.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: layanan pengarsipan yang sudah usang (link)
  5. 1 2 (Pasdermadjian 1918, hlm. 38) harv error: tanpa target: CITEREFPasdermadjian1918 (bantuan)

Daftar pustaka

  • Vartanian, H.K. The Western Armenian Liberation Struggle Yerevan, 1967
  • Translated from the Armenian: Mihran Kurdoghlian, Badmoutioun Hayots, C. hador [Armenian History, volume III], Athens, Greece, 1996, pg. 59–62.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan