Rabu, 28 Oktober 2026
02:41 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung
Eupsittula canicularis

Eupsittula canicularis

Bagikan:
Parkit moncong jingga
250px-Eupsittula_canicularis%2C_Gulf_of_Papagayo%2C_Costa_Rica_1.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Di pohon sedang memakan biji-bijian, Teluk Papagayo, Kosta Rika
CITES Apendiks II (CITES)[2]
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Psittaciformes
Famili: Psittacidae
Genus: Eupsittula
Spesies:
E. canicularis
Nama binomial
Eupsittula canicularis
250px-Eupsittula_canicularis_map.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sinonim
  • Aratinga canicularis (Linnaeus, 1758)
  • Psittacus canicularis Linnaeus, 1758
  • Psittacus petzii Leiblein, 1832

Eupsittula canicularis, atau yang juga dikenal sebagai parkit moncong jingga[3] adalah spesies burung rentan dalam subfamili Arinae dari famili Psittacidae, yaitu burung nuri Afrika dan Dunia Baru. Burung ini ditemukan dari Meksiko bagian barat hingga Kosta Rika.[4]

Deskripsi

Parkit moncong jingga memiliki panjang 23 hingga 25 cm (9,1 hingga 9,8 in) dan bobot 68 hingga 80 g (2,4 hingga 2,8 oz). Jantan dan betinanya serupa. Burung dewasa dari subspesies nominat E. c. canicularis memiliki dahi ("bagian depan") dan pipi berwarna oranye-persik, bagian tengah mahkota berwarna biru kusam, dan bagian belakang mahkota, tengkuk, dan punggung berwarna hijau kusam. Terdapat lingkaran kulit kuning tanpa bulu mengelilingi mata. Tenggorokan dan dada berwarna cokelat zaitun pucat dan bagian bawah tubuh lainnya berwarna hijau kekuningan. Sayapnya berwarna hijau dengan bulu terbang kebiruan. Permukaan atas ekornya berwarna hijau dan permukaan bawahnya kekuningan. Burung muda mirip dengan burung dewasa, tetapi dengan warna oranye yang jauh lebih sedikit di dahi. Subspesies E. c. clarae memiliki pita dahi oranye yang sangat sempit, tenggorokan dan dada yang lebih hijau daripada subspesies nominat, dan bintik hitam di rahang bawah. E. c. eburnirostrum juga memiliki pita dahi yang sempit dan lebih hijau di bagian bawah daripada subspesies nominat; subspesies ini juga memiliki bintik cokelat di rahang bawah.[5]

Referensi

  1. ↑ BirdLife International (2020). "Orange-fronted Parakeet Eupsittula canicularis". IUCN Red List of Threatened Species (dalam bahasa Inggris). 2020 e.T22685739A182075618. doi:10.2305/IUCN.UK.2020-3.RLTS.T22685739A182075618.en. Diakses tanggal 16 Maret 2023.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ "Appendices | CITES". cites.org. Diakses tanggal 4 Maret 2023.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ "Hutan Cadangan Kolibri Kayu Manis". Kopi Fairtrade Puro. Diakses tanggal 2026-09-21.
  4. ↑ Gill, F.; Donsker, D.; Rasmussen, P., ed. (Januari 2023). "Parrots, cockatoos". IOC World Bird List. v 13.1. Diakses tanggal 18 Februari 2023.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ Collar, N., P. F. D. Boesman, and G. M. Kirwan (2020). Orange-fronted Parakeet (Eupsittula canicularis), version 1.0. In Birds of the World (J. del Hoyo, A. Elliott, J. Sargatal, D. A. Christie, and E. de Juana, Editors). Cornell Lab of Ornithology, Ithaca, NY, USA. https://doi.org/10.2173/bow.orfpar.01 retrieved March 16, 2023
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan