Jumat, 16 Oktober 2026
22:11 WIB
TERKINI
Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super
Eulis Atjih

Eulis Atjih

film tahun 1927 karya G. Kruger

Bagikan:
Eulis Atjih
250px-Eulis_Atjih_p.74.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Poster bioskop
SutradaraG. Kruger
Ditulis olehYuhana
Pemeran
  • Arsad
  • Soekria
Perusahaan
produksi
Java Film Co.
Tanggal rilis
  • 1927 (1927)(Hindia Belanda)
NegaraHindia Belanda

Eulis Atjih adalah sebuah film Hindia Belanda (sekarang Indonesia) tahun 1927. Ini merupakan film fitur kedua yang diproduksi di negara ini setelah Loetoeng Kasaroeng tahun 1926. Film bisu ini mengisahkan kehidupan sebuah keluarga pribumi Indonesia yang jatuh miskin akibat sang suami berfoya-foya. Eulis Atjih sukses merebut perhatian di Hindia Belanda, tetapi gagal di luar negeri.

Premis

Seorang pria pribumi Indonesia meninggalkan istri mudanya yang cantik, Eulis Atjih, dan anaknya, untuk hidup berfoya-foya. Istrinya jatuh miskin dan setelah pria tersebut pulang sekian tahun kemudian dalam keadaan melarat.[1]

Produksi

Eulis Atjih diproduksi oleh Java Film Co., produser film pertama di Hindia Belanda, Loetoeng Kasaroeng, pada tahun 1926. Film sebelumnya meninggalkan Java Film Coy dalam keadaan nyaris bangkrut setelah filmnya gagal di pasaran. Karena itu, perusahaan ini mencari bantuan dana untuk pembuatan Eulis Atjih.[2] Film ini disutradarai G. Kruger[3] dan ditulis oleh Yuhana.[4] Film ini menampilkan aktor-aktor pribumi Indonesia, termasuk Arsad dan Soekria. Eulis Atjih merupakan film bisu hitam putih.[1]

Eulis Atjih adalah film kedua yang melibatkan orang pribumi dalam pemeranan tokohnya dan film fitur kedua yang diproduksi di negara ini.[5] Peran pribumi sangat ditekankan dalam pemasaran film ini. Poster penayangan di Orient Theatre Surabaya menulis bahwa kualitas pemeran pribumi di film ini setara dengan pemeran asal Amerika atau Eropa.[6] Film ini sudah memakai nama "Indonesia"; nama tersebut baru dijadikan nama resmi kepulauan ini pada Sumpah Pemuda tahun 1928.[2]

Tema

Sejarawan film Indonesia Misbach Yusa Biran menulis bahwa film ini mendidik orang-orang Belanda tentang ritual pribumi Indonesia, seperti pemakaman dan pernikahan, sekaligus mengirimkan pesan kepada penonton pribumi bahwa berfoya-foya akan berujung pada kemelaratan.[7]

Rilis dan tanggapan

Eulis Atjih dirilis pada tahun 1927 dan ditayangkan di Bandung bulan Agustus dan Surabaya bulan September.[2] Film ini sukses di pasaran, terutama di kalangan etnis Cina. Surat kabar Pewarta Soerabaja menulis bahwa aktris pemeran Eulis "cantik saat masih hidup senang dan air mukanya berubah seperti orang desa sesudah jatuh miskin."[a][7] Di Surabaya, film ini diiringi musik grup keroncong pimpinan Tuan Kayoon.[7]

Untuk versi internasionalnya, Java Film Co. dan Kruger menekankan aspek-aspek etnografisnya. Film ini diputar di Singapura, sayangnya tidak sesukses di dalam negeri.[4]

Lihat pula

Catatan

  1. ↑ Original: "Pembawa peranan 'Eulis Atjih' terlihat tjanti' saat masih hidoep senang dan air moekanja beroebah seperti orang desa sesoedah djatoeh miskin."

Referensi

Catatan kaki
  1. 1 2 Filmindonesia.or.id, Eulis Atjih.
  2. 1 2 3 Biran 2009, hlm. 72.
  3. ↑ Biran 2009, hlm. 97.
  4. 1 2 Biran 2009, hlm. 76.
  5. ↑ Biran 2009, hlm. 379.
  6. ↑ Biran 2009, hlm. 74.
  7. 1 2 3 Biran 2009, hlm. 73.
Daftar pustaka

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan