Rabu, 30 September 2026
01:34 WIB
TERKINI
Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Megapolitan Demo Buruh di DPR Lumpuhkan Gatot Subroto: Simak Jalur Alternatifnya Megapolitan Komunikasi Terputus Jadi Akar Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Regional KPU Batam Musnahkan Ribuan Surat Suara Rusak, Jaga Integritas Pemilu Regional Gagal Menulis Ulang: Konten Berita Tidak Memadai Way Kanan Kepala Toko Alfamart Way Kanan Diduga Gelapkan Rp141 Juta, Dua Pelaku Ditangkap Hiburan Lisa BLACKPINK Ukir Sejarah: Solois Asia Pertama Sabet Best Pop MTV VMAs 2026 Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Turun Drastis Rp17 Ribu, Cek Daftar Lengkap 29 September 2026 Hiburan TXT Gegerkan Penggemar dengan Mini Album 'PERFECT STORM' dan Tur Dunia Termasuk Jakarta Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Megapolitan Demo Buruh di DPR Lumpuhkan Gatot Subroto: Simak Jalur Alternatifnya Megapolitan Komunikasi Terputus Jadi Akar Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Regional KPU Batam Musnahkan Ribuan Surat Suara Rusak, Jaga Integritas Pemilu Regional Gagal Menulis Ulang: Konten Berita Tidak Memadai Way Kanan Kepala Toko Alfamart Way Kanan Diduga Gelapkan Rp141 Juta, Dua Pelaku Ditangkap Hiburan Lisa BLACKPINK Ukir Sejarah: Solois Asia Pertama Sabet Best Pop MTV VMAs 2026 Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Turun Drastis Rp17 Ribu, Cek Daftar Lengkap 29 September 2026 Hiburan TXT Gegerkan Penggemar dengan Mini Album 'PERFECT STORM' dan Tur Dunia Termasuk Jakarta Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang

Engkik Soepadmo

Bagikan:

Engkik Soepadmo (3 Maret 1937[1] – 6 Maret 2021[2])) adalah seorang ahli botani dan ekologi asal Indonesia yang berkarier di Malaysia. Penelitiannya berfokus pada hutan hujan tropis di Asia Tenggara, khususnya di Malaysia dan Indonesia. Ia menulis berbagai publikasi mengenai flora Malesia serta berkontribusi pada upaya konservasi hutan dan pembentukan kawasan lindung di Malaysia.[1]

Kehidupan awal dan pendidikan

Soepadmo lahir dan dibesarkan di Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, Indonesia. Ia menempuh pendidikan awalnya di sekolah menengah di Solo. Ia lulus SMA pada tahun 1955, kemudian melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Biologi di Bogor dan lulus pada tahun 1959 dengan gelar sarjana di bidang Botani Taksonomi. Ia sempat bekerja sebagai ahli botani muda di Herbarium Bogoriense sebelum melanjutkan studi ke Universitas Cambridge, tempat ia meraih gelar PhD pada bulan Juli 1966. Selama dua tahun berikutnya, ia menjalani program beasiswa penelitian dari Universitas Leiden di Belanda.[1]

Karier akademik dan penelitian

Dr. Soepadmo diangkat sebagai dosen Botani Tropis di Universitas Malaya pada tahun 1968. Ia menjadi lektor kepala di Departemen Botani pada tahun 1975, dan tak lama kemudian diangkat sebagai Profesor Ekologi di universitas tersebut. Ia juga menjalin kerja sama dengan Lembaga Penelitian Kehutanan Malaysia (FRIM).[1]

Publikasi

Ia menulis monograf untuk Flora Malesiana mengenai famili Fagaceae (famili yang terdiri dari pohon ek dan kastanye; Seri 1, volume 7, bagian 2 [1972]) dan Ulmaceae (keluarga pohon elm; volume 8, bagian 2 [1977]). Ia menyunting dan menulis tujuh volume Tree Flora of Sabah and Sarawak (1995–2011). Ia juga menyunting dan turut menyusun The Encyclopedia of Malaysia: Plants yang diterbitkan pada tahun 1998. Selain itu, ia telah menulis lebih dari 100 makalah ilmiah yang dipublikasikan.[1] Dr. Soepadmo menamai lebih dari 70 spesies tumbuhan, termasuk spesies dari genus Lithocarpus, Quercus, Castanopsis, dan Celtis.[3]

Dr. Soepadmo melakukan penelitian, menulis makalah, dan memimpin ekspedisi penelitian yang membantu merumuskan atau menciptakan strategi konservasi untuk berbagai kawasan lindung di Malaysia termasuk Taman Nasional Endau-Rompin, Taman Nasional Royal Belum, Hutan Lindung Bukit Tawai, Kawasan Konservasi Lintas Batas Lanjak-Entimau/Betung Kerihun, dan Taman Nasional Pulong Tau.[1]

Rekognisi

Pada tahun 2012, beliau dianugerahi Merdeka Award. Malaysian Nature Society (MNS) memberikan gelar Keanggotaan Seumur Hidup Kehormatan kepada Dr. Soepadmo sebagai bentuk pengakuan atas "kontribusi yang signifikan dan bermakna bagi Malaysian Nature Society serta studi mereka mengenai warisan alam Malaysia".[1] Pada tahun 2015, Linnean Society of London menganugerahkan Linnean Medal kepada Dr. Soepadmo sebagai penghargaan atas jasanya dalam dunia sains.[4]

Tumbuhan yang dinamai dengan tujuan tuntuk menghormati Dr. Soepadmo antara lain:[1]

Standar singkatan penulis Soepadmo digunakan untuk mengindikasikan orang ini ketika mengutip sebuah nama botani.[7]

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 The Late Dr Engkik Soepadmo. The Merdeka Award. Retrieved 18 June 2023.
  2. ↑ Wong, Li Za (6 Maret 2021). "Prominent FRIM botanist, Bapak Soepadmo, dies aged 83". The Star. Diakses tanggal 18 Juni 2023.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ "Soepadmo". Plants of the World Online. Retrieved 18 June 2023.
  4. ↑ "15th June 2015: Medal Winners". The Linnean Society. 15 Juni 2015. Diakses tanggal 18 Juni 2023.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ Chung, R. C. K. (2002). "Madhuca Buch.-Ham. ex J.F.Gemlin". Dalam Soepadmo, E.; Saw, L. G.; Chung, R. C. K. (ed.). Tree Flora of Sabah and Sarawak. Vol. 4. Forest Research Institute Malaysia. hlm. 236–238. ISBN 983-2181-27-5.
  6. ↑ Gandolfo, M. A., Nixon, K. C., Crepet, W. L., and Grimaldi, D. A.. 2018. A late Cretaceous fagalean inflorescence preserved in amber from New Jersey. American Journal of Botany 105( 8): 1424– 1435.
  7. ↑ "Author Query for 'Soepadmo'". International Plant Names Index.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan