Selasa, 20 Oktober 2026
06:15 WIB
TERKINI
Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global
Elang setiwel

Elang setiwel

spesies burung pemangsa

Bagikan:
Elang setiwel
250px-Booted_eagle%2C_Hieraaetus_pennatus%2C_at_Kgalagadi_Transfrontier_Pa_%2832334023348%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Elang setiwel
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Accipitriformes
Famili: Accipitridae
Genus: Hieraaetus
Spesies:
H. pennatus
Nama binomial
Hieraaetus pennatus
(Gmelin, 1788)
250px-HieraaetusPennatusIUCNver2018_2.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Persebaran elang setiwel
Sinonim
  • Aquila minuta
  • Aquila pennata

Elang setiwel (Hieraaetus pennatus) adalah spesies burung pemangsa yang masuk ke dalam famili Accipitridae. Burung ini merupakan satwa liar yang dilindungi undang-undang.[2]

Deskripsi

Burung pemangsa ini memiliki ukuran yang cenderung kecil dibanginkan dengan elang dari marga Buteo dan elang-ular bido. Elang jantan mencapai berat tubuh hingga 770g, sedangkan betinanya lebih berat hingga mencapai 1,025 g. Panjang tubuhnya sekira 40 cm dengan panjang rentang sayap mulai dari 11–132 cm. Terdapat dua variasi warna bulu yang bisa dibedakan. Pertama bulu elang setiwel yang lebih pucat dengan sebagian besar berwarna abu-abu dengan kepala dan bulu terbang yang gelap. Kepala bulat, bulu berwarna kekuningan, bergaris-garis coklat, dengan bulu berwarna coklat gelap di sekitar mata. Bulu di tenggorokan keputihan, bulu bagian atas coklat gelap, warna bulu di sayap sebagian besar berwarna coklat dengan "sisik-sisik" berwarna kekuningan dan putih. Variasi kedua berwarna kecoklatan dengan bulu terbang berwarna abu-abu.[3][4]

Taksonomi

Berdasarkan penelitian genetika termutakhir, beberapa ahli mengklasifikasikan ulang spesies ini masuk ke dalam marga Aquila bersama anggota spesies Hieraartus lainnya.[5] Oleh karena itu, setiap anggota dalam marga Hieraaetus memerlukan nama yang baru. Namun penelitian DNA menunjukkan bahwa spesies ini merupakan monofili dengan elang-alap ayres, elang wahlberg, elang kecil, dan elang kate dan dimasukkan dalam kelompok marga Hieraaetus. Dan penamaan spesies terakhir paling banyak menggunakan nama Hieraaetus pennata.[6][7][8][9] Spesies ini bersama dengan elang kecil, merupakan kerabat paling dekat dari elang haast dari Selandia Baru yang telah punah.[10]

Meski beberapa ahli memperkirakan terdapat subspesies, tetapi saat ini diperlakukan sebagai spesies monotipe.[11] Aquila minut yang dicandrakan oleh Brehm (1831) adalah burung ini. Fosil burung yang dideskripsikan dengan nama yang sama oleh Milne-Edwards (1871) yang dikenal sebagai Hieraaetus edwardsi kemungkinan masuk ke dalam marga Aquila.

Distribusi dan Habitat

Spesies ini berbiak di Eropa bagian selatan, Afrika bagian utara, Afrika Selatan bagian barat, Nambia, serta di sepanjang Asia. Populasi di bagian utara adalah burung pengembara yang menghabiskan musim dingin di wilayah Sub-Sahara Afrika dan Asia Selatan. Sedangkan populasi di Afrika bagian selatan yang sedikit merupakan populasi penetap. Burung ini menghuni lereng yang ditumbuhi vegetasi hutan dan area terbuka. Populasi burung pengambara menghuni hampir semua tipe habitat kecuali hutan dengan tutupan rapat.[6]

Di Indonesia, penampakan elang setiwel tercatat di Bali, Bintan, Jawa Tengah.[12][13][14]

Perilaku

Elang ini akan bertelur 1-2 butir yang diletakkan pada sarang yang disusun menggunakan ranting. Sarang ini dibangun di pohon atau pada tebing. Terkadang elang setiwel akan menggunakan sarang burung lain yang lebih seperti elang paria. Betina akan mengerami telurnya hingga 45 hari, sedangkan burung elang setiwel jantan akan mencari mangsa untuk pakan betinanya. Setelah menetas, induk betina akan melindungi sarang dan anakannya. Pada fase ini induk jantan akan tetap mencari makan untuk anak dan pasangannya. Anakan elang setiwel akan menjadi dewasa setelah 70-75 hari. Mangsa burung pemangsa ini berupa mamalia, reptil, dan burung kecil.[6]

Referensi

  1. ↑ BirdLife International (2013). "Hieraaetus pennatus". IUCN Red List of Threatened Species. 2013.{{cite iucn}}: old-form url (help)
  2. ↑ "Badan Pembinaan Hukum Nasional". jdihn.go.id. Diakses tanggal 2021-08-30.[pranala nonaktif permanen]
  3. ↑ Kemp, A. C. (1998). Sasol birds of prey of Africa and its islands. Meg Kemp, Peter Hayman. London: New Holland. ISBN 1-85974-100-2. OCLC 40794177.
  4. ↑ Lim, K. S. (1997). "NOTES ON A BOOTED EAGLE SIGHTING ON BINTAN ISLAND, RIAU ARCHIPELAGO". Kukila: 177. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-07-14. Diakses tanggal 2021-08-09.
  5. ↑ "Updates & Corrections – December 2009 | Clements Checklist". www.birds.cornell.edu. Diakses tanggal 2021-08-09.
  6. 1 2 3 "Aquila pennatus (Booted eagle)". web.archive.org. 2016-03-27. Diarsipkan dari versi asli pada 2016-03-27. Diakses tanggal 2021-08-09.
  7. ↑ "IOC World Bird List 4.2" (dalam bahasa Inggris). doi:10.14344/ioc.ml.4.2.{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan |journal=
  8. ↑ "ITIS Standard Report Page: Hieraaetus". www.itis.gov. Diakses tanggal 2021-08-09.
  9. ↑ Lerner, Heather; Christidis, Les; Gamauf, Anita; Griffiths, Carole; Haring, Elisabeth; Huddleston, Christopher J.; Kabra, Sonia; Kocum, Annett; Krosby, Meade (2017-01-09). "Phylogeny and new taxonomy of the Booted Eagles (Accipitriformes: Aquilinae)". Zootaxa. 4216 (4): 301. doi:10.11646/zootaxa.4216.4.1. ISSN 1175-5334.
  10. ↑ Bunce, Michael; Szulkin, Marta; Lerner, Heather R. L; Barnes, Ian; Shapiro, Beth; Cooper, Alan; Holdaway, Richard N (2005-01-04). Penny, David (ed.). "Ancient DNA Provides New Insights into the Evolutionary History of New Zealand's Extinct Giant Eagle". PLoS Biology (dalam bahasa Inggris). 3 (1): e9. doi:10.1371/journal.pbio.0030009. ISSN 1545-7885. PMC 539324. PMID 15660162.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link) Pemeliharaan CS1: Format PMC (link)
  11. ↑ "Hieraaetus pennatus (Elang Setiwel) - Avibase". avibase.bsc-eoc.org. Diakses tanggal 2021-08-09.
  12. ↑ Nijman, V. (2003). "The Status of Three Northern Migrant Raptors Rarely Observed on Java". Kukila. 12: 59–65.
  13. ↑ Nijman, Vincent (2001). "Spatial and temporal variation in migrant raptors on Java, Indonesia". Emu (dalam bahasa Inggris). 101 (3): 259–263. doi:10.1071/mu00022. ISSN 1448-5540.
  14. ↑ Germi, F. (2005). "Raptor migration in east Bali, Indonesia: observations from a bottleneck watch site" (PDF). Forktail. 21: 93–98. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2017-07-06. Diakses tanggal 2021-08-09.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan