Rabu, 21 Oktober 2026
06:06 WIB
TERKINI
Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari

Ekosemiotika

Bagikan:

Ekosemiotika adalah salah satu cabang ilmu semiotika yang bersinggungan dengan ekologi manusia. Ilmu ini mempelajari hubungan tanda yang diciptakan oleh budaya, yang berkaitan dengan makhluk hidup lain, seperti komunitas dan bentang alam.[1]

Dalam keilmuan ini, lingkungan memiliki sifat semiotis dalam cara dan tingkatan yang berbeda-beda. Lingkungan bendawi memiliki keterjangkauan dan potensi untuk turut hadir dalam hubungan tanda. Hewan-hewan menyematkan makna pada lingkungan berdasarkan kebutuhan dan cara pandangnya terhadap lingkungan. Dalam budaya manusia, lingkungan dapat menjadi bermakna dalam karya sastra atau seni atau melalui pelambangan hewan atau bentang alam. Representasi budaya terhadap lingkungan pada gilirannya dapat memengaruhi alam melalui tindakan manusia.

Ekosemiotika menelaah proses, transmisi dan masalah yang terjadi dalam dan di antara lapisan semiotis yang berbeda-beda. Pusat fokus ekosemiotika mempelajari konsep peran (model berdasarkan tanda yang manusia punya) dalam merancang dan mengubah lingkungan. Konsep analisis ekosemiotika adalah, sebagai contoh, semiosida, keterjangkauan (affordance) dan konsorsium.

Bidang keilmuan ini dipelopori oleh Winfried Nöth dan Kalevi Kull, dan kemudian dikembangkan oleh Almo Farina dan Timo Maran.[2] Ekosemiotika meliputi atau banyak bersinggungan dengan semiotika bentang alam.[3]

Lihat Pula

Catatan kaki

  1. ↑ Farina, Almo; Santolini, Riccardo; Pagliaro, Giacomo; Scozzafava, Silvia; Schipani, Ileana 2005. Ecosemiotics: A new field of competence for ecology to overcome the frontier between environmental complexity and human culture in the Mediterranean. Israel Journal of Plant Sciences 53(3/4): 167–175.
  2. ↑
    • Maran, Timo 2007. Towards an integrated methodology of ecosemiotics: The concept of nature-text. Sign Systems Studies 35(1/2): 269–294.
  3. ↑ Lindström, Kati; Kull, Kalevi; Palang, Hannes 2014. Landscape semiotics: Contribution to culture theory. In: Lang, Valter; Kull, Kalevi (eds.), Estonian Approaches to Culture Theory. Tartu: University of Tartu Press, 110–132.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan