Sabtu, 31 Oktober 2026
04:19 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Ekolinguistik

Bagikan:

Ekolinguistik adalah ilmu bahasa interdisipliner dengan menyandingkan ilmu tentang lingkungan atau ekologi dengan bahasa atau linguistik. Ekolinguistik hadir sebagai kajian hubungan timbal balik antara bahasa dan lingkungan atau lingkungan dan bahasa yang bersifat fungsional. Ekolinguistik mengkaji bahasa-bahasa yang hadir, digunakan dan hidup dari masyarakat di dalam lingkungan tertentu. Bahasa tidak terlepas dari pengaruh adany perubahan ekologis di dalam lingkungannya.

Tulisan New Ways of Meaning: A Challenge to Applied Linguistics (1990) Michael Halliday sering dianggap sebagai karya yang mendorong munculnya bidang kajian ekolinguistik.[1] Dua pendekatan utama yang dipakai dalam ekolinguistik adalah analisis wacana eko-kritis dan ekologi linguistik.

Parameter

Ada 3 parameter ekologi yang menjadi landasan teoretis dalam kajian ekolinguistik, ketiganya diaplikasikan secara bersamaan dalam kajian ekolinguistik.

  1. Parameter Lingkungan (Environment) : Dalam lingkungan, bahasa hadir, hidup dan digunakan para penutur bahasa di lingkungannya sehingga bahasa hadir dalam komunikasi dan hidup dalam segala kegiatan interaksi. Di lingkungan jenis-jenis flora dan fauna yang hidup bersama dengan manusia, sebagian besar dikenal dan terekam kognitif kelompok tuturnya, tersimpan dalam perbendaharaan kata, teks verbal, dan wacana.
  2. Parameter Keragaman (Diversity) :
  3. Parameter Interrelation, Interaction, dan Interdepedence

Pranala luar

Catatan kaki

  1. ↑ Haliday, M.A.K. (1990). New Ways of Meaning: A Challenge to Applied Linguistics.
Ikon rintisan

Artikel bertopik linguistik ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan