
Dalam ekologi, efek tepi adalah perubahan-perubahan dalam struktur populasi atau komunitas yang terjadi di perbatasan antara dua atau lebih habitat.[1] Efek-efek ini muncul karena kondisi-kondisi lingkungan di dekat perbatasan habitat berbeda dengan kondisi di interior tiap habitat.[2] Perbatasan ahbitat mengalami kondisi-kondisi seperti paparan angin yang lebih tinggi, paparan sinar matahari, dan fluktuasi suhu. Wilayah dengan fragmen-fragmen habitat menunjukkan efek tepi yang lebih menonjol di sepanjang sebarannya.[3] Jika efek tepi meningkat, maka habitat perbatasannya dapat menunjang tingkat keanekaragaman hayati lebih tinggi daripada ekosistem-ekosistem yang berdekatan dengan peningkatan fragmentasi habitat hal ini berperan sebagai zona transisi bagi kondisi-kondisi lingkungan yang bertumpangtindih.[4] Dengan demikian, spesies dari kedua ekosistem yang terpisah dapat hidup berdampingan di wilayah umum yang sama bersamaan dengan spesies yang telah mengembangkan adaptasi untuk kehidupan di tepi lingkungan.
Referensi
- ↑ Levin, Simon A. (2009). The Princeton Guide to Ecology. Princeton University Press. hlm. 780. ISBN 978-0-691-12839-9.
- ↑ Ries, Leslie; Sisk, Thomas D. (2004). "A Predictive Model of Edge Effects". Ecology. 85 (11): 2917–2926. Bibcode:2004Ecol...85.2917R. doi:10.1890/03-8021. ISSN 0012-9658. JSTOR 3450531.
- ↑ Murcia, Carolina (Februari 1995). "Edge effects in fragmented forests: implications for conservation". Trends in Ecology & Evolution (dalam bahasa Inggris). 10 (2): 58–62. Bibcode:1995TEcoE..10...58M. doi:10.1016/S0169-5347(00)88977-6. PMID 21236953.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Willmer, Julian Nicholas G.; Püttker, Thomas; Prevedello, Jayme Augusto (2022-08-01). "Global impacts of edge effects on species richness". Biological Conservation. 272 109654. Bibcode:2022BCons.27209654W. doi:10.1016/j.biocon.2022.109654. ISSN 0006-3207.