Efek halo (terkadang disebut kesalahan halo), sebuah istilah yang dicetuskan oleh Edward Thorndike, adalah kecenderungan ketika kesan positif terhadap seseorang, perusahaan, negara, merek, atau produk di satu bidang secara positif memengaruhi opini atau perasaan seseorang di bidang lainnya.[1][2] Fenomena ini didefinisikan sebagai "nama yang diberikan untuk fenomena ketika penilai cenderung dipengaruhi oleh penilaian mereka sebelumnya mengenai kinerja atau kepribadian;"[3] dengan kata lain, ini adalah sebuah bias kognitif yang dapat menghalangi orang untuk membentuk gambaran berdasarkan keseluruhan situasi yang ada.
Contoh sederhana dari efek halo adalah ketika orang-orang, setelah melihat bahwa seorang individu dalam sebuah foto terlihat menarik secara visual, berpenampilan rapi, dan berpakaian pantas, kemudian berasumsi dengan menggunakan heuristik mental yang didasarkan pada aturan konsep sosial mereka sendiri, bahwa orang di dalam foto tersebut adalah orang yang baik.[4][5][6] Kesalahan penilaian yang konstan ini mencerminkan preferensi, prasangka, ideologi, aspirasi, dan persepsi sosial dari penilai tersebut.[7][6][8][9][10]
Konteks dan penerapan
Psikologi
Istilah efek halo digunakan dalam psikologi untuk menggambarkan distorsi persepsi yang memengaruhi cara orang menafsirkan informasi tentang orang lain yang telah membentuk impresi gestalt positif bersama mereka.[11] Sebagai contoh, mereka mengetahui bahwa seseorang yang telah memberikan impresi gestalt positif kepada mereka ternyata memanipulasi pajaknya; namun karena gestalt positif tersebut, mereka mungkin mengabaikan signifikansi dari perilaku ini atau bahkan berpikir bahwa orang tersebut hanya melakukan kesalahan yang tidak sengaja. Efek halo merujuk pada kecenderungan untuk mengevaluasi seorang individu secara positif pada banyak sifat karena adanya suatu keyakinan bersama.[12]
Fenomena ini merupakan jenis perbedaan penilaian langsung, atau bias kognitif, ketika seseorang yang membuat penilaian awal terhadap orang, tempat, atau benda lain akan mengasumsikan informasi yang ambigu berdasarkan informasi yang konkret.[13][14]: hlm. xi [7] Efek halo merupakan evaluasi oleh seorang individu dan dapat memengaruhi persepsi terhadap suatu keputusan, tindakan, ide, bisnis, orang, kelompok, entitas, atau hal lainnya setiap kali data konkret digeneralisasikan atau memengaruhi informasi yang ambigu.[13][14]: hlm. 11 [9][15]
Efek halo juga dapat dijelaskan sebagai perilaku (biasanya tidak disadari) berupa penggunaan evaluasi yang didasarkan pada kriteria yang tidak terkait untuk membuat penilaian tentang sesuatu atau seseorang. Efek halo terkadang digunakan untuk merujuk secara khusus ketika perilaku ini memiliki korelasi positif, seperti melihat seseorang yang menarik sebagai orang yang cenderung sukses dan populer. Namun, ketika penilaian ini memiliki konotasi negatif, seperti ketika seseorang yang tidak menarik lebih mudah disalahkan atas suatu kejahatan dibandingkan dengan orang yang menarik, fenomena ini terkadang disebut sebagai efek tanduk.[16]
Pemasaran
Istilah efek halo digunakan dalam pemasaran untuk menjelaskan bias konsumen terhadap produk tertentu akibat pengalaman menyenangkan dengan produk lain yang dibuat oleh perusahaan yang sama.[17] Efek ini digunakan dalam bagian dari pemasaran merek yang disebut "perluasan lini produk." Salah satu efek halo yang umum terjadi adalah ketika fitur positif yang dirasakan dari suatu produk tertentu meluas ke citra merek yang lebih luas. Contoh yang menonjol adalah bagaimana popularitas iPod buatan Apple berhasil membangkitkan antusiasme konsumen terhadap produk-produk lain dari korporasi tersebut.[18][19] Iklan juga sering memanfaatkan acara televisi, film, serta para bintang yang membintanginya untuk mempromosikan produk melalui efek halo.[20][21]
Dalam industri otomotif, model mewah eksotis yang diproduksi terbatas atau mobil sport bervolume rendah yang dibuat oleh tim balap, olahraga motor, atau tim modifikasi internal pabrikan terkadang disebut sebagai mobil halo (halo cars) karena efek psikologisnya diharapkan dapat mendongkrak penjualan kendaraan lain dalam merek yang sama.[22] Hal ini memiliki perbedaan fungsi kualitatif dengan istilah otomotif "model flagship" (lihat produk unggulan).
Dalam industri minuman anggur, fitur-fitur tertentu dari minuman anggur dapat menciptakan efek halo yang memengaruhi opini pelanggan terhadap produk tersebut. Penyertaan kategori "organik" pada label dapat meningkatkan penilaian positif konsumen terhadap minuman anggur tersebut. Minuman anggur organik dianggap menyehatkan, memiliki rasa, aroma, dan warna yang lebih baik, serta menghasilkan tingkat kepuasan keseluruhan yang lebih tinggi.[23] Contoh lain dari efek halo dalam industri ini adalah asosiasi sumbat gabus tradisional dengan kualitas minuman anggur: botol dengan sumbat gabus secara sistematis dinilai memiliki kualitas yang lebih tinggi daripada botol yang menggunakan penutup ulir atau penutup plastik, karena penutup jenis terakhir dipandang sebagai penanda minuman anggur berkualitas rendah.[24]
Periklanan di satu saluran juga terbukti memiliki efek halo terhadap periklanan di saluran lainnya.[25][26]
Efek halo yang berkaitan dengan kesehatan, yang dijuluki sebagai "halo kesehatan" (health halo), digunakan dalam pemasaran makanan untuk meningkatkan penjualan suatu produk. Fenomena ini dapat menyebabkan peningkatan konsumsi produk yang berada di bawah naungan halo tersebut, meskipun produk itu sendiri mungkin tidak sehat.[27][28]
Istilah "efek halo" juga telah diterapkan pada organisasi hak asasi manusia yang menggunakan status mereka untuk menyimpang dari tujuan awal yang mereka tetapkan. Ilmuwan politik Gerald Steinberg mengeklaim bahwa organisasi nonpemerintah (LSM) memanfaatkan efek halo ini sehingga mereka "diberi status sebagai pengawas moral yang tidak memihak" oleh pemerintah dan media berita.[29][30]
Ronald McDonald House, sebuah LSM yang dikenal luas, secara terbuka merayakan hasil positif yang diperolehnya dari efek halo. Halaman situs web Ronald McDonald House di Durham, Carolina Utara, menyatakan bahwa 95% peserta survei mengetahui keberadaan Ronald McDonald House Charities. Kesadaran ini dikaitkan dengan efek halo, karena para karyawan, pelanggan, dan pemangku kepentingan cenderung lebih bersedia untuk terlibat dalam suatu lembaga amal yang mereka kenali dan percayai, serta memiliki nama dan logo yang sudah familier.[31]
Efek halo dari sebuah merek juga dapat melindungi reputasinya ketika terjadi krisis. Suatu peristiwa yang merugikan bagi merek yang dipandang positif tidak akan terlalu mengancam atau merusak jika dibandingkan dengan dampak peristiwa serupa pada merek yang sejak awal sudah dipandang negatif oleh konsumen.[32][33]
Penggunaan lain
Penggunaan istilah "efek halo" di luar bidang psikologi atau bisnis menggambarkan nilai moneter dari efek limpahan[a] ketika anggaran pemasaran suatu organisasi kemudian dikurangi.[b] Hal ini pertama kali ditunjukkan kepada mahasiswa melalui buku teks versi tahun 1966 dan sebuah paket perangkat lunak bernama The Marketing Game.[c]
Efek halo juga dapat digunakan dalam konteks institusi, karena persepsi menguntungkan seseorang terhadap suatu aspek dari suatu organisasi dapat menentukan pandangan positif terhadap seluruh operasionalnya.[34] Sebagai contoh, jika sebuah rumah sakit dikenal karena program bedah jantung terbuka dan kardiologinya yang luar biasa, maka masyarakat akan berharap rumah sakit tersebut juga unggul di bidang lainnya. Hal ini juga dapat ditunjukkan dalam persepsi positif terhadap lembaga keuangan yang mendapatkan liputan menguntungkan di media karena pertumbuhannya yang sangat pesat, tetapi pada akhirnya mengalami kegagalan setelahnya.[35]
Istilah "efek halo" juga digunakan dalam bidang pendeteksian logam[36] untuk menunjukkan peningkatan kemampuan suatu benda logam atau koin untuk dideteksi ketika benda tersebut telah dibiarkan tanpa gangguan selama beberapa waktu di dalam tanah yang basah. Objek tersebut dapat melarutkan beberapa sifat logam ke dalam tanah di sekitarnya, sehingga membuatnya lebih mudah dideteksi oleh alat. Area tanah yang mengelilingi objek tersebut dikenal sebagai "halo"-nya.
Catatan
- ↑ terkait dengan NPV.
- ↑ Hilangnya aspek kebaruan (recency) dikompensasi oleh frekuensi efektif dari pengeluaran iklan pada periode-periode sebelumnya.
- ↑ Buku teks tersebut telah direvisi lebih dari sekali, dan program komputer bingkai utama (mainframe) dari tahun 1966 kini telah menjadi program PC.
Referensi
- ↑ "Halo Effect | Definition of Halo Effect by Lexico". Diarsipkan dari asli tanggal 2017-08-02.
- ↑ Al Ries (17 April 2006). "Understanding Marketing Psychology and the Halo Effect". Advertising Age. Crain Publications. Diakses tanggal 2017-07-31.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Bethel, Ann; Knapp, T (2010). "Halo Effect". Dictionary of Nursing and Research. 4th – via Credo Reference.
- ↑ Thorndike 1920
- ↑ Nisbett, Richard E.; Wilson, Timothy D. (1977). "The halo effect: Evidence for unconscious alteration of judgments". Journal of Personality and Social Psychology. 35 (4): 250–256. doi:10.1037/0022-3514.35.4.250. hdl:2027.42/92158. S2CID 17867385.
- 1 2 Gibson, Jeremy L.; Gore, Jonathan S. (Desember 2016). "Is He a Hero or a Weirdo? How Norm Violations Influence the Halo Effect". Gender Issues. 33 (4): 299–310. doi:10.1007/s12147-016-9173-6. S2CID 151849084.
- 1 2 Lachman, Sheldon J.; Bass, Alan R. (November 1985). "A Direct Study of Halo Effect". The Journal of Psychology. 119 (6): 535–540. doi:10.1080/00223980.1985.9915460.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Wade, T. Joel; DiMaria, Cristina (1 Mei 2003). "Weight Halo Effects: Individual Differences in Perceived Life Success as a Function of Women's Race and Weight". Sex Roles. 48 (9): 461–465. doi:10.1023/A:1023582629538. S2CID 141143275.
- 1 2 Greenwald, Anthony G.; Banaji, Mahzarin R. (1995). "Implicit social cognition: Attitudes, self-esteem, and stereotypes". Psychological Review. 102 (1): 4–27. CiteSeerX 10.1.1.411.2919. doi:10.1037/0033-295x.102.1.4. PMID 7878162. S2CID 8194189.
{{cite journal}}: Kutipan menggunakan parameter usang|citeseerx= - ↑ Levy, Leon H.; Dugan, Robert D. (Juli 1960). "A constant error approach to the study of dimensions of social perception". The Journal of Abnormal and Social Psychology. 61 (1): 21–24. doi:10.1037/h0042208. PMID 14416418.
- ↑ Roeckelein, Jon. E (2006). Elsevier's Dictionary of Psychological Theories (Edisi edisi ke-1). Elsevier Science & Technology.
- ↑ McCornack, Steven. Choices & Connections (Edisi edisi ke-2).
- 1 2 Daniel Kahneman (2013). Thinking, fast and slow (Edisi edisi ke-1). New York: Farrar, Straus, and Giroux. hlm. 82–88. ISBN 978-0-374-53355-7.
- 1 2 Philip M. Rosenzweig (2014). The Halo Effect and the Eight Other Business Delusions That Deceive Managers. New York, NY: Free Press. ISBN 978-1-4767-8403-8.
- ↑ Zhang, Zhongheng; Poucke, Sven Van (2017-01-03). "Citations for Randomized Controlled Trials in Sepsis Literature: The Halo Effect Caused by Journal Impact Factor". PLOS ONE. 12 (1) e0169398. Bibcode:2017PLoSO...1269398Z. doi:10.1371/journal.pone.0169398. PMC 5207738. PMID 28046105.
{{cite journal}}: Periksa|bibcode=panjang - ↑ Sigall, Harold; Ostrove, Nancy (1975-03-01). "Beautiful but Dangerous: Effects of Offender Attractiveness and Nature of the Crime on Juridic Judgment". Journal of Personality and Social Psychology. 31 (3): 410–414. doi:10.1037/h0076472.
- ↑ "Halo Effect". 27 Oktober 2008. Diakses tanggal 2017-12-09.
- ↑ "Apple shares surfs on big profits". BBC News. 13 Januari 2005. Diakses tanggal 18 Januari 2012.
- ↑ "Apple puts iPod halo to test with Shuffle and Mini". Advertising Age. 17 Januari 2005.
- ↑ Anthony Crupi (16 Juli 2019). "For advertisers, the Emmy halo effect is a thing of the past". Advertising Age.
- ↑ Melanie Abrams (1 Agustus 2017). "The Wonder Woman Effect". The New York Times.
- ↑ Frank, Michael (31 Agustus 2012). "What good is a halo car anyway?". Popular Mechanics. Hearst Communications, Inc. Diakses tanggal 12 Desember 2018.
- ↑ Apaolaza, Vanessa; Hartmann, Patrick; Echebarria, Carmen; Barrutia, Jose (30 Januari 2017). "Organic label's halo effect on sensory and hedonic experience of wine: A pilot study". Journal of Sensory Studies. 32. Wiley Blackwell. doi:10.1111/joss.12243.
- ↑ Reynolds, Dennis; Rahman, Imran; Bernard, Shaniel; Holbrook, Amy (September 2018). "What effect does wine bottle closure type have on perceptions of wine attributes?". International Journal of Hospitality Management. 75. Emerald Publishing: 171–178. doi:10.1016/j.ijhm.2018.05.023. Diakses tanggal 17 Februari 2025.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Rowson, Paul; Thompson, Howard; Berry, Julian (1 Juni 2012). "Using a decision support optimisation software tool to maximise returns from an overall marketing budget: A case study from a B-to-C marketing company". Journal of Database Marketing & Customer Strategy Management. 19 (2): 138–142. doi:10.1057/dbm.2012.10. S2CID 167892664.
- ↑ Timothy Coombs, W.; Holladay, Sherry J. (April 2006). "Unpacking the halo effect: reputation and crisis management". Journal of Communication Management. 10 (2): 123–137. doi:10.1108/13632540610664698.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Provencher, Véronique; Jacob, Raphaëlle (Maret 2016). "Impact of Perceived Healthiness of Food on Food Choices and Intake". Current Obesity Reports. 5 (1): 65–71. doi:10.1007/s13679-016-0192-0. hdl:20.500.11794/13474. PMID 26820622. S2CID 207474222.
- ↑ Polivy, Janet (Desember 2017). "What's that you're eating? Social comparison and eating behavior". Journal of Eating Disorders. 5 (1): 18. doi:10.1186/s40337-017-0148-0. PMC 5408479. PMID 28465828.
- ↑ Nathan Jeffray (24 Juni 2010). "Interview: Gerald Steinberg". The Jewish Chronicle.
- ↑ Naftali Balanson (8 Oktober 2008). "The 'halo effect' shields NGOs from media scrutiny". The Jerusalem Post.
- ↑ Nancy Jones. "Corporate Donors". Ronald House Durham. Diarsipkan dari asli tanggal 2013-12-03. Diakses tanggal 26 November 2013.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Coombs, Timothy W; Holladay, Sherry J (2006). "Unpacking the halo effect: reputation and crisis management". Journal of Communication Management. 10 (2): 123–37. doi:10.1108/13632540610664698.
- ↑ Klein, Jill; Dawar, Niraj (2004). "Evaluations in a Product-Harm Crisis". International Journal of Research in Marketing. 21 (3): 203–17. doi:10.1016/j.ijresmar.2003.12.003.
- ↑ Nancy Borkowski (2015). Organizational Behavior, Theory, and Design in Health Care. Burlington, MA: Jones & Bartlett Publishers. hlm. 63. ISBN 978-1-284-05088-2.
- ↑ Phil Rosenzweig (2014). The Halo Effect: . . . and the Eight Other Business Delusions That Deceive Managers. New York: Free Press. hlm. xv. ISBN 978-0-7432-9125-5.
- ↑ "Do Metal Detectors Work Better on Wet Ground?".
Bibliografi
- Abikoff, Howard; Courtney, Mary; Pelham, William E.; Koplewicz, Harold S. (Oktober 1993). "Teachers' ratings of disruptive behaviors: The influence of halo effects". Journal of Abnormal Child Psychology. 21 (5): 519–533. doi:10.1007/BF00916317. PMID 8294651. S2CID 46270488.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Dion, Karen; Berscheid, Ellen; Walster, Elaine (1972). "What is beautiful is good". Journal of Personality and Social Psychology. 24 (3): 285–290. CiteSeerX 10.1.1.521.9955. doi:10.1037/h0033731. PMID 4655540. S2CID 10152052.
{{cite journal}}: Kutipan menggunakan parameter usang|citeseerx= - Efran, Michael G. (Juni 1974). "The effect of physical appearance on the judgment of guilt, interpersonal attraction, and severity of recommended punishment in a simulated jury task". Journal of Research in Personality. 8 (1): 45–54. doi:10.1016/0092-6566(74)90044-0.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Foster, Glen; Ysseldyke, James (Januari 1976). "Expectancy and halo effects as a result of artificially induced teacher bias". Contemporary Educational Psychology. 1 (1): 37–45. doi:10.1016/0361-476X(76)90005-9.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Kanazawa, Satoshi; Kobar, Jody L. (Mei 2004). "Why beautiful people are more intelligent". Intelligence. 32 (3): 227–243. CiteSeerX 10.1.1.106.8858. doi:10.1016/j.intell.2004.03.003.
{{cite journal}}: Kutipan menggunakan parameter usang|citeseerx=Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Landy, David; Sigall, Harold (1974). "Beauty is talent: Task evaluation as a function of the performer's physical attractiveness". Journal of Personality and Social Psychology. 29 (3): 299–304. doi:10.1037/h0036018.
- Monahan, F. (1941). Women in Crime. New York: Washburn.
- Murphy, Kevin R.; Jako, Robert A.; Anhalt, Rebecca L. (April 1993). "Nature and consequences of halo error: A critical analysis". Journal of Applied Psychology. 78 (2): 218–225. doi:10.1037/0021-9010.78.2.218. S2CID 6394309.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Palmer, Carl L.; Peterson, Rolfe D. (2012). Beauty and the Pollster: Interviewer Bias in Subjective Evaluations of Respondent Characteristics (PDF). Annual Meeting of the Midwest Political Science Association. Chicago IL. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2014-03-09.
- Thorndike, E.L. (1920). "A constant error in psychological ratings". Journal of Applied Psychology. 4 (1): 25–29. doi:10.1037/h0071663.
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Lain-lain | |