Minggu, 04 Oktober 2026
22:49 WIB
TERKINI
Lampung Musim Hujan Lampung 2026/2027: BMKG Prediksi Puncak Januari, Awalnya Mundur Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 4 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan Ringan Hukum Pakar Hukum Unila: Objektivitas Fakta Krusial dalam Kasus Diksar Mahepel Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Lampung Musim Hujan Lampung 2026/2027: BMKG Prediksi Puncak Januari, Awalnya Mundur Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 4 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan Ringan Hukum Pakar Hukum Unila: Objektivitas Fakta Krusial dalam Kasus Diksar Mahepel Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya
Edelweiss jawa

Edelweiss jawa

Bagikan:
Edelweiss jawa
250px-Bunga_Senduro.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Anaphalis javanica (Javanese Edelweiss), di kawasan "Taman Nasional Bromo Tengger Semeru" disebut "Bunga Senduro".
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Plantae
Klad: Tracheophyta
Klad: Angiospermae
Klad: Eudikotil
Klad: Asteridae
Ordo: Asterales
Famili: Asteraceae
Genus: Anaphalis
Spesies:
A. javanica
Nama binomial
Anaphalis javanica
(Reinw. ex Blume) DC.

Anaphalis javanica, yang dikenal sebagai Edelweis jawa (Javanese edelweiss) atau Bunga Senduro, adalah tumbuhan endemik zona alpina/montana di berbagai pegunungan tinggi di Indonesia yang saat ini dikategorikan sebagai tumbuhan langka. Tumbuhan ini dapat mencapai ketinggian 8 meter dan dapat memiliki batang sebesar kaki manusia, walaupun pada umumnya tidak melebihi 1 meter.

Edelweis berkembang biak dengan cara generatif. Dengan serbuk-serbuk bunga yang ringan, maka mudah terbawa oleh angin.

Bunga edelweis sering juga disebut sebagai Bunga Keabadian karena mampu tumbuh di tempat yang tandus dan bunganya tidak rontok karena pengaruh hormon tertentu. Adapun ciri-ciri dari edelweis adalah sebagai berikut:

  • Edelweis termasuk tumbuhan epifit sehingga batangnya tak membesar.
  • Batang tanaman pada edelweis sekaligus menjadi tangkai bunga.
  • Batang pada edelweis ini tertutupi kulit yang cenderung kasar dan bercelah.
  • Daun pada edelweis berbentuk linear dan lancip. Panjang daun ini berkisar 4 hingga 6 cm, dengan lebar berkisar 0,5 cm.
  • Daun pada edelweis mempunyai bulu bulu halus berwarna putih yang mirip dengan wol.
  • Pada masing-masing tangkai bunga, terdapat 5 hingga 6 kepala bunga edelweis berukuran sekitar 5 mm yang dikelilingi daun daun muda.
  • Kelopak bunga edelweis berwarna putih dengan tekstur yang lembut. Adapun bagian kepala bunga dari edelweis berwarna kuning.
  • Merupakan tumbuhan endemik yang hanya tumbuh di ketinggian 2000 hingga 3000 mdpl.

Edelweis merupakan tumbuhan pelopor bagi tanah vulkanik muda di hutan pegunungan, serta mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya di atas tanah yang tandus. Hal tersebut karena edelweis mampu membentuk mikoriza dengan jamur tanah tertentu, yang secara efektif memperluas jangkauan akar-akarnya dan meningkatkan efisiensi dalam mencari zat hara. Bunga-bunganya, yang biasanya muncul di antara bulan April dan Agustus,[1] menarik lebih dari 300 jenis serangga, seperti kutu, tirip, kupu-kupu, lalat, tabuhan, dan lebah. Jika dibiarkan tumbuh cukup kokoh, edelweis dapat menjadi tempat bersarang burung tiung batu licik Myophonus glaucinus.

Bagian-bagian edelweis sering dipetik dan dibawa turun dari gunung untuk alasan-alasan estetis dan spiritual, atau sekadar kenang-kenangan oleh para pendaki. Pada bulan Februari hingga Oktober 1988, terdapat 636 batang yang tercatat telah diambil dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, yang merupakan salah satu tempat perlindungan terakhir tumbuhan ini. Di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, tumbuhan ini telah dinyatakan punah.[2]

Tempat terbaik untuk melihat edelweis berada di Tegal Alun (Gunung Papandayan), Alun-Alun Surya Kencana (Gunung Gede), Alun-Alun Mandalawangi (Gunung Pangrango), dan Plawangan Sembalun (Gunung Rinjani).

Referensi

  1. ↑ Whitten, Tony and Jane (1992). Wild Indonesia: The Wildlife and Scenery of the Indonesian Archipelago. United Kingdom: New Holland. hlm. 127. ISBN 1-85368-128-8.
  2. ↑ "dlc.dlib.indiana.edu" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2008-08-07. Diakses tanggal 2009-03-04.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan