Sabtu, 03 Oktober 2026
11:33 WIB
TERKINI
Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan

Sibagariang

salah satu marga Batak Toba

Bagikan:

Sibagariang (Surat Batak: ᯘᯪᯅᯎᯒᯪᯀᯰ) adalah salah satu marga Batak Toba yang masuk ke dalam kelompok marga-marga keturunan Naipospos.

Rumpun keturunan Naipospos

Artikel utama: Naipospos

Dalam silsilah Batak, marga Sibagariang masuk dalam rumpun keturunan Raja Naipospos. Marga ini diwariskan langsung oleh putera sulung si Raja Naipospos bernama Donda Hopol. Sibagariang masuk dalam rumpun marga-marga keturunan Raja Naipospos bersama dengan marga Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang, Marbun Lumbanbatu, Marbun Banjarnahor, dan Marbun Lumbangaol.[1]

Berikut ini bagan silsilah keturunan Naipospos sesuai dengan penuturan para tetua dan tokoh adat keturunan Naipospos di Dolok Imun, Hutaraja, sebagai sentral Naipospos.[2]


Raja
Naipospos

Sibagariang
Hutauruk
Simanungkalit
Situmeang
Marbun
Lumban Batu
Banjar Nahor
Lumban Gaol

Kisah Donda Hopol dan keturunannya

Sejarah Donda Hopol

Donda Hopol merupakan nenek moyang pertama pewaris marga Sibagariang. Donda Hopol sendiri adalah putera sulung dari lima bersaudara keturunan si Raja Naipospos dan dilahirkan oleh istri pertama boru Pasaribu. Konon, nama Donda Hopol adalah nama yang langsung diberikan oleh si Raja Naipospos dengan doa semoga Donda Hopol dapat manghopol, yang dalam bahasa Batak mempunyai arti harapan dapat mengayomi adik-adiknya kelak.[3]

Gelar Marga

Bermula dari sifat Donda Hopol yang dikenal ulet dan pekerja keras oleh orang-orang di sekitarnya, sehingga Donda Hopol digelari sipanggariang. Julukan ini didapatkan oleh Donda Hopol karena keuletan dan kerja kerasnya mengolah lahan pertaniannya. Pada masa itu, peralatan pertanian masih sangat minim, maka orang-orang di sekelilingnya heran, bagaimana dia dapat mengolah lahannya. Oleh karena itu, orang-orang pun menjulukinya sipanggariang, yang dalam bahasa Batak berarti sipencakar. Gelar atau julukan sipanggariang ini kemudian diperhalus menjadi Sinagabariang. Hal ini berarti, Donda Hopol diibaratkan seperti naga yang memiliki cakar kuat karena kerja keras dan keuletannya. Di kemudian hari gelar Sinagabariang diubah oleh para tetua keturunan Donda Hopol menjadi Sibagariang.[1]

Sinagabariang Menjadi Sibagariang

Artikel utama: Sinagabariang

Pada awalnya keturunan Donda Hopol bermarga Sinagabariang, namun di kemudian hari oleh karena pertimbangan-pertimbangan tertentu para tetua menyepakati untuk mengubahnya menjadi Sibagariang.

Kurang dapat diketahui pasti waktu perubahan marga Sinagabariang menjadi Sibagariang. Diperkirakan perubahan ini diberlakukan secara umum setelah tahun 1900-an.

Menurut para tetua keturunan Donda Hopol, perubahan marga Sinagabariang menjadi Sibagariang dilatarbelakangi oleh kekhawatiran para tetua bahwa marga Sinagabariang akan diidentikkan sama dengan marga Sinaga. Padahal dalam silsilah Batak, antara marga Sinagabariang dan Sinaga tidak lagi dalam rumpun marga yang sama. Sinagabariang masuk dalam rumpun marga keturunan Raja Naipospos sedangkan Sinaga masuk dalam rumpun marga keturunan Si Raja Lontung. Memang masih perlu pembuktian lebih lanjut, tetapi beberapa tetua menyatakan pernah menemukan beberapa marga Sinaga yang sebenarnya adalah marga Sinagabariang tetapi pada akhirnya menghapus kata bariang dan mengaku marga Sinaga. Maka mengantisipasi agar tidak terjadi kesalahpahaman di kemudian hari, para tetua sepakat mengubah Sinagabariang menjadi Sibagariang.[4]

Pada perkembangannya kini, keturunan Donda Hopol secara umum memakai marga Sibagariang. Dalam berbagai tulisan dan penyebutan dalam acara adat termasuk dalam keturunan Raja Naipospos, keturunan Donda Hopol disebut dengan marga Sibagariang. Namun di beberapa daerah masih ada sebagian kecil tetap memakai marga Sinagabariang.[5]

Daerah Induk

330px-Tugu_Donda_Hopol_Sibagariang.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tugu Donda Hopol (Sibagariang)

Setelah keturunan Raja Naipospos tersebar dari Dolok Imun, maka Donda Hopol membuka perkampungan pertama kali di Desa Hutaraja dekat kaki Dolok Imun. Saat ini, secara administrasi Hutaraja merupakan sebuah nama desa di Kecamatan Sipoholon, Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara. Maka Hutaraja merupakan tanah ulayat marga Sibagariang karena secara historis merupakan daerah induk atau sentral asal-mula perkembangan keturunan Donda Hopol.

Pada tahun 1998, di Desa Hutaraja didirikan sebuah tugu bertuliskan Donda Hopol marga Sibagariang.

Keturunan Donda Hopol

Donda Hopol merupakan generasi pertama marga Sibagariang, selanjutnya anak Donda Hopol dihitung sebagai generasi kedua, cucu Donda Hopol sebagai generasi ketiga dan demikian seterusnya. Penyebutan nomor generasi ini sering dilakukan ketika sesama keturunan Donda Hopol bertemu untuk mengetahui letak hubungan kekerabatan dalam silsilah. Diperkirakan keturunan Donda Hopol sudah mencapai nomor generasi ke-19.

Donda Hopol memiliki satu orang putera bernama Ompu Soungkapon. Dalam penomoran generasi, maka Ompu Soungkapon menjadi generasi nomor dua dalam silsilah marga Sibagariang.

Ompu Soungkapon kemudian memiliki dua orang putera, yakni: Raja Unggun dan Ompu Sodunggaron. Dalam penomoran generasi, maka Raja Unggun dan Ompu Sodunggararon menjadi generasi nomor tiga dalam silsilah marga Sibagariang.

Raja Unggun kemudian pergi membuka perkampungan ke daerah Aek Godang, Arbaan. Umumnya marga Sibagariang yang berasal dari daerah tersebut merupakan keturunan Raja Unggun. Saat ini, secara administrasi Aek Godang merupakan sebuah nama desa di Kecamatan Onan Ganjang, Kabupaten Humbang Hasundutan, Provinsi Sumatera Utara.

Khusus Ompu Sodunggaran menetap di Hutaraja dan memiliki dua orang putera, yakni : Namora Silambok dan Guru Sohalompoan. Dalam penomoran generasi, maka Namora Silambok dan Guru Sohalompoan menjadi generasi nomor empat dalam silsilah marga Sibagariang.

Namora Silambok menetap dan berketurunan di Hutaraja. Saat ini, umumnya marga Sibagariang yang bermukim di Hutaraja merupakan keturunan Namora Silambok.

Sedangkan Guru Sohalompoan tidak menetap di Hutaraja namun pergi ke daerah Pulau Samosir untuk mengadu kesaktiannya. Konon, Guru Sohalompoan memiliki kesaktian khusus dan mampu mengobati penyakit. Keturunannya saat ini pada umumnya bermarga Naipospos dan bermukim di Lumban Tanding, Desa Pananggangan, Kecamatan Nainggolan, Kabupaten Samosir.[4]

Berikut ini para nenek moyang generasi awal marga Sibagariang dalam bagan silsilah keturunan Donda Hopol sesuai dengan penuturan para tetua dan tokoh adat keturunan Donda Hopol di Hutaraja, sebagai sentral marga Sibagariang.[6]


Donda Hopol
(Sibagariang)
Ompu Soungkapon
Raja Unggun
Ompu Sodunggaron
Raja Tinogaan
Namora Silambok
Guru Sohalompoan
Datu Sibukkuk
Raja Manarak
Pamona Raja
Panjalahi
Ama Solindungon
Ompu Munggu Raja
Ompu TinonjolDatu Rondang
Barita Mopul
Ompu Tama
Datu LanggatanAma ni Bona Huta
Ompu Ganda
Ompu Nialoban
Ompu Raja NonorOmpu Borotan

Pendapat lain

Putra Toga Sipoholon

Artikel utama: Toga Sipoholon

Dalam beberapa literatur yang beredar menyebutkan bahwa Donda Hopol adalah putra sulung Toga Sipoholon.[7]

Para tetua dan tokoh adat marga Sibagariang tidak setuju akan tulisan tersebut. Tidak pernahnya keturunan Donda Hopol memakai marga Sipoholon menjadi salah satu alasan utama para tetua menolak nama Sipoholon dituliskan sebagai ayah kandung Donda Hopol. Bagi para tetua marga Sibagariang secara khusus yang bermukim di Desa Hutaraja, Kecamatan Sipoholon, menganggap Sipoholon hanyalah sebagai nama daerah dan bukan nama nenek moyang.

Penamaan Toga Sipoholon ini menjadi kisah yang cukup banyak menuai perdebatan juga di kalangan marga-marga Naipospos hingga kini.[8]

Referensi

  1. 1 2 "Tarombo dohot Turiturian ni si Raja Naipospos". Scribd, buku tulisan Haran Sibagariang pada tahun 1953, mantan Kepala Negeri Hutaraja (dalam bahasa Batak).{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  2. ↑ Situmeang, Doangsa P. L. BUKU SAKU MARGA BATAK, Si Raja Naipospos.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ↑ "BUKTI-BUKTI HAK SULUNG SIBAGARIANG". tulisan Ricardo Parulian Sibagariang.
  4. 1 2 "Tarombo Sibagariang". tulisan Ricardo Parulian Sibagariang.
  5. ↑ "Tarombo Sibagariang". Halaman Facebook Silsilah Sibagariang.
  6. ↑ "Media Komunikasi Marga Sibagariang". website marga Sibagariang.
  7. ↑ Hutagalung, W. M. (1991). PUSTAHA BATAK, Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak. Tulus Jaya.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  8. ↑ "Toga Sipoholon bukanlah putera Naipospos". tulisan Ricardo Parulian Sibagariang.
Ikon rintisan

Artikel bertopik Batak ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan