Minggu, 27 September 2026
13:22 WIB
TERKINI
Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Bandar Lampung Mantan Gubernur Lampung Disidang Korupsi PI 10 Persen, Begini Respons Uniknya Account Satu Akun, Berbagai Akses: Kemudahan Login Terpadu KG Media ID Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Bandar Lampung Mantan Gubernur Lampung Disidang Korupsi PI 10 Persen, Begini Respons Uniknya Account Satu Akun, Berbagai Akses: Kemudahan Login Terpadu KG Media ID Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda

Do Da Idi

Do Da Idi atau dodaidi adalah tradisi lisan berupa lagu pengantar tidur asal dari provinsi Aceh yang sarat dengan berbagai unsur Islami.[1]

Do da idi disusun dalam empat baris dengan sajak a-a-a-a atau a-b-a-b.[2] Lagu ini biasa dilantunkan oleh seorang ibu dalam menidurkan anaknya. Dalam praktiknya, seorang ibu akan meletakkan anaknya di ija kroeng (kain sarung) atau ija sawak (kain selendang) yang digantung pada batang kayu kemudian diayun secara pelan-pelan. Adakalanya, kain ini juga digantung di pohon depan rumah agar anak dapat tidur lebih nyaman.[1] Perkembangan teknologi yang pesat membuat tradisi ini kini sudah jarang dipraktikkan.[3]

Pada 19-23 Agustus 2023, do da idi ditetapkan bersama 8 budaya Aceh lainnya sebagai warisan budaya takbenda Indonesia.[4]

Etimologi

Do da idi berasal dari dua kata dalam bahasa Aceh, yakni doda dan idi. Doda atau peudoda memiliki arti 'bergoyang', semenatara idi berarti 'berayun'.[2]

Istilah ini juga diambil dari bunyi syairnya yakni "Allah hai do kudoda idi" yang acapkali dilantunkan pada hampir setiap bait. Oleh karena itu, tradisi lisan ini dikenal dengan nama do da idi.[1]

Sejarah

Do da idi tercipta karena terinspirasi dari puisi perang berjudul "Hikayat Prang Sabi" karya adik Teungku Chik di Tiro yang ditulis pada pertengahan abad ke-19. Tradisi ini dipraktikkan oleh ibu-ibu di Aceh pada masa perang Aceh pada akhir abad ke-19. Tak hanya untuk menidurkan anak, syair ini juga dilantukan oleh para ibu untuk menyampaikan pesan kepada anaknya agar berani melawan Belanda yang saat itu menjajah Indonesia.[5]

Tradisi ini kemudian terkenal setelah dipopulerkan oleh Cut Saja Rizka dalam album Nyawoung pertama.[3]

Isi

Syair dalam do da idi biasanya memuat tentang nasihat, akhlak, budi pekerti, dan semangat perjuangan masyarakat Aceh dalam menghadapi penjajah.[3] Adakalanya syair ini juga berisikan tentang sejarah dan akhlak-akhlak para nabi.[2]

Contoh

Berikut adalah syair pengantar tidur dalam do da idi yang berisikan tentang pesan perlawanan:[5]

Allah hai do doda idang

Seulayang blang ka putoh taloe

(Layang-layang di sawah putus tali)

Beurijang rayeuk hai muda seudang

(Cepatlah besar hai anak muda)

Tajak bantu prang bila nanggroe

(Ikut bantu berperang membela negeri)

Wahee aneuk bek taduek le

(Wahai anakku janganlah duduk kembali)

Beudoh sare bela bangsa

(Bangun berdiri bersama membela bangsa)

Bek tatakot keu darah ile

(Jangan takut meski darah harus mengalir)

Adak pih mate poma ka rela

(Sekira engkau mati, ibu merelakan)

Allah hai Po ilahonhaq

(Allah sang pencipta punya kehendak)

Gampong jarak han troh tawoe

(Kampung jauh, kita tak bisa pulang)

Adakan bulee ulon teureubang

(Seandainya punya sayap, aku akan terbang)

Mangat reujang troh u nanggro

(Supaya lekas sampai ke negeri Aceh)

Referensi

  1. 1 2 3 Jannah, Rauzatul; Iswadi (2 Mei 2023). "Tradisi Lisan Aceh Dodaidi dan Media Pembelajaran Nilai-nilai Islami Terhadap Perkembangan Psikologi Anak di Aceh". Jurnal Ilmiah Sains, Teknologi, Ekonomi, Sosial dan Budaya. Vol. 7 (2): 53–54.{{cite journal}}: |volume= memiliki teks tambahan
  2. 1 2 3 Karina, Angga Eka (2022-02-05). "Mengenal Dodaidi, Lullaby dari Aceh". BWCF. Diakses tanggal 2025-11-09.
  3. 1 2 3 Kusumo, Rizky (4 Agustus 2025). "Dodaidi: Lagu Menidurkan Anak di Aceh yang Sarat Nilai Moral dan Religius". Good News from Indonesia. Diakses tanggal 9 November 2025.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ Safrina, Safrina (29 Agustus 2024). "Sembilan Warisan Budaya Aceh Ditetapkan sebagai WBTb Indonesia". Pemerintah Aceh. Diakses tanggal 9 November 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. 1 2 Nuryanti, Reni. "Do Da Idi: Sarana Perempuan Aceh Abad ke-19 Wariskan Semangat Jihad". tirto.id. Diakses tanggal 2025-11-09.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan