Kamis, 29 Oktober 2026
12:44 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Diyar Mudhar

Diyar Mudhar

Bagikan:
330px-Al-Jazira.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peta al-Jazira (Mesopotamia Hulu) dengan provinsi-provinsinya pada abad pertengahan

Diyar Mudhar (bahasa Arab:دِيَارُ مُضَرَ, translit. Diyār Muḍar, har. 'tempat tinggal Mudhar') adalah nama Arab abad pertengahan untuk provinsi paling barat dari tiga provinsi al-Jazira (Mesopotamia Hulu), dua lainnya adalah Diyar Bakr dan Diyar Rabi'ah. Menurut ahli geografi abad pertengahan al-Baladzuri, ketiga provinsi tersebut dinamai menurut suku-suku Arab utama yang menetap di sana oleh Muawiyah bin Abu Sufyan selama penaklukan Muslim awal abad ke-7. Diyar Mudhar dihuni oleh suku Mudhar.

Diyar Mudhar meliputi wilayah di kedua tepian bagian tengah sungai Efrat, dari wilayah Samosata hingga kota Anah, dan meliputi wilayah sungai Balikh dan bagian hilir sungai Khabur. Kota-kota utamanya adalah Raqqa di selatan dan Edessa (al-Ruha dalam bahasa Arab) di utara, dan kota-kota besar lainnya termasuk Harran dan Saruj (sekarang Suruç).

Sejarah

Secara geografis dan politik, pada masa awal Islam, Diyar Mudhar biasanya merupakan bagian dari al-Jazira. Pada pertengahan abad ke-10, wilayah tersebut berada di bawah kendali Hamdaniyah, dan di bawah Saif ad-Daulah, wilayah tersebut dipisahkan dari Jazira dan Hamdaniyah di Mosul dan disubordinasikan ke Keamiran Aleppo yang berpusat di Suriah utara. Pada periode yang sama, wilayah tersebut diserang oleh Kekaisaran Bizantium yang bangkit kembali. Setelah kehilangan kendali dari Hamdaniyah, Diyar Mudhar dan kota-kotanya berada di bawah kekuasaan Bani Numair dengan Watstsab bin Ja'bar an-Numairi menjadi gubernur otonom Harran pada tahun 1002, sementara Edessa ditaklukkan oleh Kekaisaran Bizantium di bawah George Maniakes pada tahun 1032. Setelah itu wilayah tersebut terbagi menjadi bagian utara yang sebagian besar diperintah oleh Kristen, tunduk pada kolonisasi Armenia, sementara daerah dari Harran ke Efrat didominasi oleh suku-suku nomaden Arab. Serangan Seljuk dimulai pada tahun 1060-an dan 1070-an tetapi mereka tidak dapat merebut wilayah tersebut. Setelah pertempuran Manzikert, Philaretos Brachamios menunjuk Thoros sebagai gubernur Edessa dan Diyar Mudhar, tetapi Thoros mundur setelah beberapa waktu ke Melitene (meskipun ia diangkat kembali sebagai gubernur oleh Seljuk pada tahun 1094).[1]

Pada tahun 1086, sultan Seljuk Malik Syah I telah menyatukan provinsi tersebut di bawah kendalinya. Datangnya Perang Salib menegakkan kembali pemisahan antara wilayah utara Kristen (County Edessa) dan wilayah selatan Muslim, yang berlangsung hingga pertengahan abad ke-12. Dinasti Ayyubiyah memperoleh kendali atas wilayah tersebut di bawah Salahuddin, dan mempertahankannya hingga invasi Mongol ke Levant pada tahun 1260.

Referensi

  1. ↑ Dadoyan 2012, hlm. 38.

Sumber

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan