Sabtu, 17 Oktober 2026
02:56 WIB
TERKINI
Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super
Distosia bahu

Distosia bahu

kondisi bahu bayi tersangkut saat persalinan

Bagikan:
Distosia bahu
250px-Shoulder_dystocia_hariadhi.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tindakan penekanan area suprapubic dilakukan untuk menangani kondisi distosia bahu
SpesialisasiObstetri
GejalaRetraction of the babies head back into the vagina[1]
KomplikasiBayi mengalami cedera bahu, patah tulang selangka, robek vagina atau area pireneal, perdarahan post partum[2]
Faktor risikoDiabetes gestasional, sebelumnya ibu pernah mengalami kondisi serupa, proses kelahiran vaginal melalui operasi, obesitas ibu, ukuran kepala bayi terlalu besar, dan bius epidural[3]
Metode diagnostikTubuh bayi gagal keluar dalam waktu 1 menit setelah kepala muncul[3]
PengobatanIbu diminta mendorong kaki ke arah luar dan atas, mendorong perut bawah sedikit di atas tulang pubis, memutar bahu bayi secara manual, dan meminta ibu mengambil pose merangkak[2][3]
Frekuensi~ Sekitar 1 persen dari kelahiran melalui vagina[3]

Distosia bahu adalah kondisi bayi terhalang proses lahirnya melalui vagina, saat bahu bayi terhalang oleh tulang pubis ibu.[4][5] Salah satu gejalanya adalah kepala bayi masuk kembali ke dalam vagina, yang dikenal dengan kondisi "gejala kura-kura".[1] Komplikasi bisa terjadi dalam bentuk cedera brachial plexus (rangkaian gerak di sekitar bahu, termasuk otot, syaraf, sendi, dan tulang), atau patah tulang selangka yang dialami bayi.[3][6] Sementara ibu bisa mengalami robek vagina atau perineal, perdarahan post partum, atau pecah atau robeknya rahim.[2][7]

Kondisi ini digolongkan kedaruratan obstetri, yang berarti bisa mengancam jiwa ibu maupun anak.[8][9] Upaya mengatasi kondisi ini termasuk di antaranya adalah: ibu diminta untuk mendorong kakinya ke arah luar dan atas, tenaga kesehatan mendorong perut bawah, sedikit di atas tulang pubis, atau melakukan Episiotomi.[8] Jika cara-cara ini tidak juga berhasil, maka dilakukan usaha secara manual untuk memutar bahu bayi atau ibu diminta mengambil pose merangkak bisa dicoba. Distosia bahu terjadi di sekitar 0.4% sampai 1.4% kelahiran melalui vagina.[10] Meskipuan digolongkan kedaruratan obstetri, tetapi realitasnya kematian akibat kondisi ini sangat jarang terjadi.[11]

Faktor risiko yang menyertai kondisi ini diabetes gestasional, sebelumnya pernah mengalami kondisi ini, operasi melahirkan melalui vagina, obesitas ibu, ukuran bayi terlalu besar, dan bius epidural.[12] Diagnosis terhadap kondisi ini ditegakkan begitu badan bayi tidak kunjung keluar dalam satu menit sejak kepala bayi keluar.[12] Kondisi ini digolongkan sebagai proses melahirkan yang terhalangi (obstructed labour).[13]

Gejala

Salah satu karakter yang muncul, walau sebenarnya jarang, adalah gejala kura-kura. Dalam kondisi ini, kepala bayi masuk kembali ke dalam vagina setelah sempat keluar, mirip dengan gerakan kura-kura yang memasukkan kepalanya ke dalam tempurung saat merasa terancam. Muka bayi juga terlihat merah dan membengkak.

Referensi

  1. 1 2 Gherman, Robert B.; Gonik, Bernard (2009). "Shoulder Dystocia". The Global Library of Women's Medicine. doi:10.3843/GLOWM.10137.
  2. 1 2 3 "Shoulder dystocia" (PDF). Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. 2013. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 24 Oktober 2020. Diakses tanggal 3 Oktober 2018.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. 1 2 3 4 5 Dahlke, JD; Bhalwal, A; Chauhan, SP (Juni 2017). "Obstetric Emergencies: Shoulder Dystocia and Postpartum Hemorrhage". Obstetrics and Gynecology Clinics of North America. 44 (2): 231–243. doi:10.1016/j.ogc.2017.02.003. PMID 28499533.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ "Shoulder dystocia" (PDF). Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. 2013. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 24 Oktober 2020. Diakses tanggal 3 Oktober 2018.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ Gherman, Robert B.; Gonik, Bernard (2009). "Shoulder Dystocia". The Global Library of Women's Medicine. doi:10.3843/GLOWM.10137.
  6. ↑ Gherman, Robert B.; Gonik, Bernard (2009). "Shoulder Dystocia". The Global Library of Women's Medicine. doi:10.3843/GLOWM.10137.
  7. ↑ Gherman, Robert B.; Gonik, Bernard (2009). "Shoulder Dystocia". The Global Library of Women's Medicine. doi:10.3843/GLOWM.10137.
  8. 1 2 "Shoulder dystocia" (PDF). Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. 2013. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 24 Oktober 2020. Diakses tanggal 3 Oktober 2018.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. ↑ Isabella, CM, dkk (2023-01). "KEGAWATDARURATAN MATERNAL DAN NEONATAL" (PDF). repositori.widyagamahusada.ac.id.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  10. ↑ Dahlke, JD; Bhalwal, A; Chauhan, SP (Juni 2017). "Obstetric Emergencies: Shoulder Dystocia and Postpartum Hemorrhage". Obstetrics and Gynecology Clinics of North America. 44 (2): 231–243. doi:10.1016/j.ogc.2017.02.003. PMID 28499533.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  11. ↑ Gherman, Robert B.; Gonik, Bernard (2009). "Shoulder Dystocia". The Global Library of Women's Medicine. doi:10.3843/GLOWM.10137.
  12. 1 2 Dahlke, JD; Bhalwal, A; Chauhan, SP (Juni 2017). "Obstetric Emergencies: Shoulder Dystocia and Postpartum Hemorrhage". Obstetrics and Gynecology Clinics of North America. 44 (2): 231–243. doi:10.1016/j.ogc.2017.02.003. PMID 28499533.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  13. ↑ Buck, Carol J. (2016). 2017 ICD-10-CM Standard Edition - E-Book (dalam bahasa Inggris). Elsevier Health Sciences. hlm. 108. ISBN 9780323484572. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-04-30. Diakses tanggal 2018-10-03.


Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan