Senin, 26 Oktober 2026
08:23 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung
Penyebaran biologis

Penyebaran biologis

Bagikan:
250px-%28MHNT%29_Taraxacum_sect._Ruderalia.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Biji dandelion, disebar oleh angin.

Penyebaran biologis merujuk kepada pergerakan individu (hewan, tumbuhan, jamur, bakteri, dan lainnya) dari tempat kelahirannya ke tempat berkembang biaknya ("penyebaran natal"), serta pergerakan dari satu tempat berkembang biak ke tempat berkembang biak lainnya ("penyebaran pembiakan"). Dalam biologi, istilah ini juga digunakan untuk mendeskripsikan pergerakan propagul seperti biji dan spora.

Secara teknis, penyebaran biologis didefinisikan sebagai pergerakan apapun yang memiliki potensi untuk mengarah kepada aliran gen.[1] Peristiwa ini meliputi tiga fase: keberangkatan, transfern dan penetapan, masing-masing tahap memiliki kekurangan dan kelebihannya sendiri.[2] Meski perpindahan ini berwujud sesederhana perpindahan satu biji dari satu lahan ke lahan lainnya, sebuah penyebaran individu memiliki konsekuensi (pengaruh) bukan hanya untuk kecocokan individu tersebut, tetapi juga pada dinamika populasi, genetika populasi, dan distribusi spesies.[3][4][5] Memahami penyebaran dan akibatnya baik untuk strategi evolusioner pada skala spesies dan untuk proses-proses pada tingkat ekosistem, membutuhkan pengertian pada jenis dan jarak penyebaran dari suatu spesies, beserta dengan mekanisme-mekanisme yang memengaruhi penyebaran tersebut. Penyebaran biologis dapat dihubungkan dengan kepadatan populasi. Jarak variasi lokasi spesies menentukan jarak penyebarannya.[6]

Referensi

  1. ↑ Ronce O (2007). "How does it feel to be like a rolling stone? Ten questions about dispersal evolution". Annual Review of Ecology, Evolution, and Systematics. 38: 231–253. doi:10.1146/annurev.ecolsys.38.091206.095611.
  2. ↑ Bonte D, Van Dyck H, Bullock JM, Coulon A, Delgado M, Gibbs M, Lehouck V, Matthysen E, Mustin K, Saastamoinen M, Schtickzelle N, Stevens VM, Vandewoestijne S, Baguette M, Barton K, Benton TG, Chaput-Bardy A, Clobert J, Dytham C, Hovestadt T, Meier CM, Palmer SC, Turlure C, Travis JM (Mei 2012). "Costs of dispersal". Biological Reviews of the Cambridge Philosophical Society. 87 (2): 290–312. doi:10.1111/j.1469-185X.2011.00201.x. PMID 21929715. S2CID 30660996.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ Dunning JB, Stewart DJ, Danielson BJ, Noon BR, Root TL, Lamberson RH, Stevens EE (1995). "Spatially explicit population models: current forms and future uses" (PDF). Ecological Applications. 5 (1): 3–11. Bibcode:1995EcoAp...5....3D. doi:10.2307/1942045. JSTOR 1942045.
  4. ↑ Hanski I, Gilpin ME, ed. (1997). Metapopulation biology : ecology, genetics and evolution. San Diego: Academic Press. ISBN 978-0-12-323446-9.
  5. ↑ Hanski I (1999). Metapopulation Ecology. Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-854065-6.
  6. ↑ Smayda, Theodore J. (2007-08-01). "Reflections on the ballast water dispersal—harmful algal bloom paradigm". Harmful Algae. 6 (4): 601–622. doi:10.1016/j.hal.2007.02.003. ISSN 1568-9883.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan