Senin, 26 Oktober 2026
16:46 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung

Dina Wadia

Bagikan:
Dina Wadia
Lahir(1919-08-15)15 Agustus 1919
Meninggal2 November 2017(2017-11-02) (umur 98)
Pasangan menikahNeville Wadia
AnakNusli Wadia
Orang tuaMuhammad Ali Jinnah
Rattanbai Petit
KeluargaKeluarga Jinnah (melalui kelahiran)
Keluarga Wadia (melalui pernikahan)

Dina Wadia (lahir sebagai Dina Jinnah; 15 Agustus 1919 – 2 November 2017) adalah putri dan anak tunggal pendiri Pakistan, Muhammad Ali Jinnah dan istrinya Rattanbai Petit. Ayahnya adalah bagian dari keluarga Jinnah, sementara ibunya adalah anggota baronet Petit.[1][2][3] Melalui pernikahannya dengan Neville Wadia, ia masuk keluarga Wadia.

Kehidupan awal dan latar belakang

Artikel utama: Keluarga Jinnah dan Keluarga Petit

Wadia lahir di London tak lama setelah tengah malam pada pagi 15 Auustus 1919 dari pasangan pendiri Pakistan, Muhammad Ali Jinnah (yang secara tak resmi dikenal sebagai "Jinnah"), dan istri keduanya Rattanbai Petit.

Kakek buyut pihak ayah Dina, Premjibhai “Meghji” Thakkar, adalah seorang Hindu berkasta Lohana, yang berpindah ke agama Islam, dan menjadi Syiah Khoja, pada abad ke-19. Sementara itu, kakek-nenek pihak ibunya adalah orang Parsi, yang berpisah dengan ibunya, Rattanbai, saat ia menikah dengan Jinnah dan berpindah ke Islam.[4] Kakek-nenek pihak ayahnya berasal dari Gujarat, yang berpindah ke Karachi untuk berbisnis pada pertengahan 1870an, dimana ayahnya, Jinnah lahir.[4] Ayahnya, Jinnah, dan bibinya, Fatima, merupakan figur paling penting dan menonjol di Pakistan, yang memulai gerakan Pakistan.[1] Perjuangan Jinnah untuk umat Muslim kemudian berujung pada pembentukan Pakistan pada 1947. Jinnah menjadi pendiri serta Gubernur Jenderal Pakistan pertama.[3][3] Jinnah dan Fatima masing-masing digelari "Bapak Bangsa" dan "Ibu Bangsa".[2][5]

Bibi Dina, Fatima Jinnah, adalah figur penting dalam pendirian Pakistan. Ibunya, Rattanbai, lahir dalam dua keluarga Parsi kelas elit di India, baronet Petit dan keluarga Tata.[6][7] Dari Petit, kakek buyutnya, Dinshaw Maneckji Petit, adalah baronet pertama Petit dan pendiri pabrik kapas pertama di India.[8] Sementara, dari Tata, kakek buyutnya, Ratanji Dadabhoy Tata, dan saudara kakeknya, Jehangir Tata, adalah ketua Tata Group.[9] Nenek buyutnya, Suzanne Brière, adalah wanita pertama di India yang mengendarai sebuah mobil. Istri pertama Jinnah, Emibai Jinnah, adalah ibu tirinya.[2][5]

Setelah Rattanbai meninggal, Fatima tinggal dengan Jinnah, dan membesarkan kemenakannya, Dina.[6][7] Jinnah membesarkan putrinya sebagai seorang Muslim.[4] Menurut supir Jinnah, Bradbury, Jinnah berkata kepada saudarinya, Fatima, "untuk mengajari kemenakannya, Dina tentang Islam dan Kitab Suci al-Qur'an".[10]

Referensi

  1. 1 2 Biography of Muhammad Ali Jinnah
  2. 1 2 3 The story of Pakistan
  3. 1 2 3 Gujrats gifts to India and Pakistan
  4. 1 2 3 "Muslim law doesn't apply to Jinnah, says daughter". Indian Express. Oktober 14, 2008.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. 1 2 Guriro, Amar (30 Juni 2009). "Aslam Jinnah's claim of being Quaid's family disputed". Daily Times. Diakses tanggal 11 September 2012.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. 1 2 "Closed fist worth millions". Diarsipkan dari asli tanggal 2016-06-24. Diakses tanggal 2016-11-07.
  7. 1 2 Dr. Babasaheb Ambedkar, Writings and Speeches, Volume 17, Issue 2, Education Department, Government of Maharashtra, 2003, p. 339
  8. ↑ Business baron Nusli Wadia attends to his ailing mother
  9. ↑ The truth about Aslam Jinnah, Dawn, Liaquat Merchant, (the grandson of Maryam Bai, one of Quaid-e-Azam’s sisters), JUL 10, 2009
  10. ↑ "Jinnah & Islam" - Mr. Qutbuddin Aziz quoting Bradbury who had been chauffeur during his London years (1930-35)

Bacaan tambahan

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan