Jumat, 02 Oktober 2026
20:17 WIB
TERKINI
Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Regional Penyaluran Bantuan Logistik Mendesak untuk Korban Banjir di Kalimantan Selatan Regional Antusiasme Warga Banjarmasin Tinggi, Sentra Vaksinasi Covid-19 Ramai Berita Tangki Motor Bocor Picu Kebakaran Hebat Bengkel di Cilincing, Kerugian Capai Rp 75 Juta Berita DPR Tugaskan Komisi III Uji Kelayakan Komjen Suyudi Ario Seto Sebagai Calon Kapolri Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri Berita Jalan Mulus Komjen Suyudi: Komisi III DPR Setujui Pimpin Polri Berita DPR RI Resmi Lantik Komjen Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri Baru Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 1 Oktober 2026: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Regional Penyaluran Bantuan Logistik Mendesak untuk Korban Banjir di Kalimantan Selatan Regional Antusiasme Warga Banjarmasin Tinggi, Sentra Vaksinasi Covid-19 Ramai Berita Tangki Motor Bocor Picu Kebakaran Hebat Bengkel di Cilincing, Kerugian Capai Rp 75 Juta Berita DPR Tugaskan Komisi III Uji Kelayakan Komjen Suyudi Ario Seto Sebagai Calon Kapolri Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri Berita Jalan Mulus Komjen Suyudi: Komisi III DPR Setujui Pimpin Polri Berita DPR RI Resmi Lantik Komjen Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri Baru Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 1 Oktober 2026: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang

Dikromasi

Bagikan:
Dikromasi

Dikromasi (dari kata di yang berarti "dua" dan chroma yang berarti "warna") adalah suatu keadaan ketika mata hanya mempunyai dua reseptor warna saja. Organisme yang dikromatik disebut dikromat. Penglihatan warna dikromat merupakan hasil dari penggabungan dua spektrum cahaya saja, sementara penglihatan trikromat merupakan penggabungan tiga spektrum.

Manusia pada dasarnya adalah organisme trikromat, sehingga dikromasi merupakan suatu kelainan. Dikromasi diturunkan secara genetik dan utamanya memengaruhi laki-laki.[1] Dikromasi muncul ketika salah satu pigmen kerucut pada mata tidak ada dan warna tereduksi menjadi dua dimensi.[2]

Hewan yang dikromat

Meskipun nenek moyang mereka pada masa Triasik merupakan hewan yang trikromat,[3] hewan berplacenta merupakan hewan dikromat;[4] kemampuan untuk melihat panjang gelombang yang panjang (dan maka hijau dan merah yang terpisah) telah hilang pada nenek moyang mereka, walaupun kemampuan ini masih ada pada marsupialia yang umumnya trikromat.[5] Bukti genetik dan perilaku menunjukkan bahwa marsupialia Didelphis albiventris dari Amerika Selatan merupakan hewan dikromat, dan hanya terdapat dua kelompok opsin kerucut yang ditemukan pada genus Didelphis.[6] Kemampuan dikromatik dapat meningkatkan kemampuan hewan untuk membedakan warna dalam cahaya redup;[7] maka, sifat yang nokturnal mungkin mengakibatkan evolusi dikromasi pada hewan berplacenta.[8]

Hewan berplacenta yang tidak dikromat adalah primata yang berkerabat erat dengan manusia (yang biasanya trikromat) dan mamalia laut (baik pinniped maupun cetacea) yang monokromat.[9] Monyet Dunia Baru dapat menjadi pengecualian: pada beberapa spesies, monyet jantan merupakan dikromat, sementara 60% betina merupakan trikromat; tetapi, monyet malam merupakan hewan monokromat, dan monyet howler merupakan monyet trikromat.[10][11][12][13]

Penyelidikan terkini menunjukkan bahwa beberapa tupai tanah merupakan dikromat.[14] Gajah juga merupakan hewan dikromat.[15]

Catatan kaki

  1. ↑ Cassin, B. and Solomon, S. Dictionary of Eye Terminology. Gainesville, Florida: Triad Publishing Company, 1990.
  2. ↑ "Guidelines: Colour Blindness." Tiresias.org. Diakses 29 September 2006.
  3. ↑ Jacobs, G. H. (2009). "Evolution of colour vision in mammals" (PDF). Philosophical Transactions of the Royal Society B. 364 (1531): 2957–67. doi:10.1098/rstb.2009.0039. PMC 2781854. PMID 19720656.
  4. ↑ Bowmaker, JK (1998). "Evolution of colour vision in vertebrates". Eye (London, England). 12 ( Pt 3b): 541–7. doi:10.1038/eye.1998.143. PMID 9775215.
  5. ↑ Arrese, C. A.; Oddy, A. Y.; Runham, P. B.; Hart, N. S.; Shand, J.; Hunt, D. M.; Beazley, L. D. (2005). "Cone topography and spectral sensitivity in two potentially trichromatic marsupials, the quokka (Setonix brachyurus) and quenda (Isoodon obesulus)". Proceedings of the Royal Society of London Series B. 272: 791–796.
  6. ↑ Gutierrez, E.A.; Pegoraro, B.M.; Magalhães-Castro, B.; Pessoa, V.F. (2011). "Behavioural evidence of dichromacy in a species of South American marsupial". Animal Behaviour. 81: 1049–1054.
  7. ↑ Vorobyev, M. (2006). "Evolution of colour vision: The story of lost visual pigments". Perception. 35. ECVP Abstract Supplement. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-10-06. Diakses tanggal 2014-04-26.
  8. ↑ Neitz, GH (1996). "Mutations in S-cone pigment genes and the absence of colour vision in two species of nocturnal primate" (PDF). Proceedings of the Royal Society B. 263 (1371): 705–10. Bibcode:1996RSPSB.263..705J. doi:10.1098/rspb.1996.0105. PMID 8763792. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2013-05-31. Diakses tanggal 19 Januari 2013.{{cite journal}}: Parameter tidak dikenal |coauthors= diabaikan (|author= disarankan)Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. ↑ Vorobyev, M (Jul 2004). "Ecology and evolution of primate colour vision" (PDF). Clinical & experimental optometry : journal of the Australian Optometrical Association. 87 (4–5): 230–8. doi:10.1111/j.1444-0938.2004.tb05053.x. PMID 15312027. Diakses tanggal 7 Januari 2013.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  10. ↑ Jacobs, G. H.; Deegan, J. F. (2001). "Photopigments and colour vision in New World monkeys from the family Atelidae. Proceedings of the Royal Society of London". , Series B,. 268: 695–702.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
  11. ↑ Jacobs, G. H.; Deegan, J. F.; Neitz; Neitz, J.; Crognale, M. A. (1993). "Photopigments and colour vision in the nocturnal monkey, Aotus". Vision Research. 33: 1773–1783. doi:10.1016/0042-6989(93)90168-V.
  12. ↑ Mollon, J. D.; Bowmaker, J. K.; Jacobs, G. H. (1984). "Variations of colour vision in a New World primate can be explained by polymorphism of retinal photopigments. Proceedings of the Royal Society of London". , Series B,. 222: 373–399.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
  13. ↑ Sternberg, Robert J. (2006) Cognitive Psychology. 4th Ed. Thomson Wadsworth.
  14. ↑ Jacobs, G. H. (Juli 1969). "Dichromacy in the ground squirrel". Nature. 223 (5204): 414–415. doi:10.1038/223414a0. PMID 5823276.{{cite journal}}: Parameter tidak dikenal |coauthors= diabaikan (|author= disarankan)Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  15. ↑ Yokoyama, S.; Takenaka, N.; Agnew, D. W.; Shoshani, J. (2005). "Elephants and human color-blind deuteranopes have identical sets of visual pigments". Genetics. 170 (1): 335–44. doi:10.1534/genetics.104.039511. PMC 1449733. PMID 15781694.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)

Referensi

  • Scheibner, H.; Cleveland, S. (1997). "Dichromacy characterized by chrominance planes". Vision Research. 38 (1): 3403–3407.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan