Jumat, 30 Oktober 2026
11:23 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Bahasa Pamona Timur

Bagikan:

Bahasa Pamona Timur atau dialek Timur (bahasa Inggris:Eastern dialect) adalah salah satu dialek dalam bahasa Pamona. Dialek ini —yang menggunakan negasi taa— dituturkan di sepanjang Teluk Tomini bagian timur laut di Tojo, di pedalaman sepanjang Sungai Bongka, dan dari sana ke selatan hingga ke Teluk Tolo. Dialek ini juga dituturkan di Kepulauan Togean. Dialek ini dapat dibagi menjadi dua wilayah subdialek: di daratan, dialek Ampana, termasuk Wana (yang memiliki tare'e 'tidak ada' sebagai negasi untuk eksistensi); dan di kepulauan, dialek Togean (yang menggunakan tanjo'u 'tidak ada'). To Wana dikenal sebagai salah satu dari sedikit suku bangsa Sulawesi yang menolak mengadopsi cara-cara modern, dan dalam beberapa tahun terakhir bahkan telah menjadi daya tarik bagi pengunjung Cagar Alam Morowali.[1]

Ahli bahasa dari Belanda, Nicolaus Adriani, tidak melihat alasan untuk membedakan dialek Ampana dan Wana secara linguistik, dengan menuliskan bahwa Ampana, yang diberi nama sesuai dengan negasinya, juga diucapkan oleh To Wana ("penghuni hutan"), yang tinggal di jalur atas Sungai Bongka. Dialek Togean dan Ampana, di sisi lain sangat berbeda. Dari empat dialek utama Pamona yang dikemukakan Adriani, Ampana adalah yang paling berbeda, dan dalam konsepsi asli dipandang sebagai bahasa yang terpisah:[1]

Menurut persepsi orang-orang Pamona, Ampana adalah bahasa yang terpisah, atau paling tidak: Ampana menggunakan bahasa Taa dan bukan bahasa Bare'e. Di bawah ini, kita akan kembali sedikit mengulas Ampana: biarkan saja anggapan yang telah menyebut bahwa bahasa ini sama dengan bahasa Bare'e dan dianggap sebagai dialeknya, dan biarkan juga anggapan yang menyebut bahwa bahasa ini merupakan bahasa yang terpisah dari bahasa Bare'e.[2]

Referensi

  1. 1 2 Adriani 2012, hlm. 4. sfn error: tanpa target: CITEREFAdriani2012 (bantuan)
  2. ↑ Adriani & Kruyt 1914, hlm. 19. sfn error: tanpa target: CITEREFAdrianiKruyt1914 (bantuan)

Bacaan lebih lanjut

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan