Senin, 19 Oktober 2026
22:51 WIB
TERKINI
Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global

Bahasa Jawa Madiun-Kediri

bagian dari rumpun bahasa Austronesia

Bagikan:
Bahasa Jawa Madiun-Kediri
ꦧꦱꦗꦮꦩꦢ꧀ꦲꦶꦪꦸꦤ꧀ꦏꦢ꧀ꦲꦶꦫꦶ
Basa Jawa Madhiyun-Kadiri
Dituturkan di40px-Flag_of_Indonesia.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Indonesia
Wilayah

20px-Coat_of_arms_of_East_Java.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Jawa Timur

Penutur
± 15 juta
Tampilkan klasifikasi manual
Tampilkan klasifikasi otomatis
Posisi bahasa Jawa Madiun-Kediri dalam dialek-dialek bahasa Jawa Sunting klasifikasi ini

Catatan:

Simbol "†" menandai bahwa bahasa tersebut telah atau diperkirakan telah punah
Kode bahasa
ISO 639-3–
Glottologmadi1264
20px-Globe_of_letters.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Portal Bahasa
L •B •PW   
Sunting kotak info  Lihat butir Wikidata  Info templat
Tentang artikel
Pemberitahuan
Templat ini mendeteksi bahwa artikel bahasa ini masih belum dinilai kualitasnya oleh ProyekWiki Bahasa dan ProyekWiki terkait dengan subjek.
Perhatian: untuk penilai, halaman pembicaraan artikel ini telah diisi sehingga penilaian akan berkonflik dengan isi sebelumnya. Harap salin kode dibawah ini sebelum menilai.

{{PW Bahasa|importance=|class=}}

Terjadi [[false positive]]? Silakan laporkan kesalahan ini.

03.07, Minggu, 18 Oktober, 2026 (UTC) • Sebanyak 1.636 artikel belum dinilai
Artikel ini belum dinilai oleh ProyekWiki Bahasa
Cari artikel bahasa
Cari artikel bahasa
 
Cari berdasarkan kode ISO 639 (Uji coba)
 
Kolom pencarian ini hanya didukung oleh beberapa antarmuka
Artikel bahasa sembarang
Halaman bahasa acak

Bahasa Jawa Madiun-Kediri (bahasa Jawa:ꦧꦱꦗꦮꦩꦢ꧀ꦲꦶꦪꦸꦤ꧀ꦏꦢ꧀ꦲꦶꦫꦶ translit. Basa Jawa Madhiyun-Kadhiri) adalah dialek bahasa Jawa modern yang dituturkan di wilayah Kebudayaan Mataraman, Jawa Timur, meliputi bekas wilayah keresidenan Madiun dan keresidenan Kediri di Jawa Timur.[1][2] Istilah "Mataraman" merujuk pada suatu wilayah kebudayaan di Jawa Timur bagian barat daya, karena wilayah tersebut menjadi wilayah provinsi Jawa Timur modern yang paling akhir diserahkan ke pemerintah kolonial Hindia Belanda sampai berakhirnya Perang Diponegoro oleh Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta yang merupakan 2 entitas kerajaan pecahan Kesultanan Mataram.[3] Walaupun dialek ini mirip dengan dialek baku (dialek Surakarta) akibat invasi dari Mataram Islam, akan tetapi dialek ini juga mempunyai beberapa perbedaan kosakata dengan dialek baku dan dialek lainya, hal ini diduga merupakan sisa-sisa peninggalan Bahasa Jawa era Kerajaan Wengker yang sudah berdiri jauh sebelum munculnya Mataram Islam. dari segi budaya seperti Reog dan Jaranan pun berasal dari era Wengker.

Dialek Madiun-Kediri (Mataraman) juga dituturkan diluar wilayah Mataraman seperti sebagian barat daya Kabupaten Malang, sebagian kecil Jombang, sebagian selatan Jember, dan seluruh kecamatan di Banyuwangi selatan. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun 2020, jumlah persentase penutur bahasa Jawa dialek Mataraman mencapai 34,62% dari jumlah penduduk Jawa Timur secara keseluruhan.[4][5] Dengan demikian, dialek Mataraman menjadi dialek dengan jumlah penutur terbesar di Jawa Timur.[5]

Hal yang paling terlihat dari bahasa Jawa dialek ini adalah penggunaan bahasa yang masih terkesan halus, meskipun tidak sehalus dialek Surakarta.[6] Selain itu, bahasa Jawa dialek Madiun-Kediri ini juga terdapat perbedaan pada intonasi dan beberapa kosakata dengan bahasa Jawa standar karena sering memberi tekanan pada suku kata pertama, sebagai contoh "Byuh-byuh, uayuné cah iki" ("Waduh, cantiknya anak ini").[7]

Penyebaran wilayah kebudayaan

Menurut budayawan dan dosen Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono, dalam penelitian mengenai Jawa Mataraman, wilayah kebudayaan Mataraman di Jawa Timur terbagi menjadi dua, yaitu Mataraman Kulon (meliputi wilayah Ngawi, Madiun, Magetan, Pacitan, dan Ponorogo), Mataraman Wétan (meliputi wilayah Kediri, Blitar, Nganjuk, Trenggalek, dan Tulungagung) di Jawa Timur.[8][9][10] Kepekatan kebudayaan sosial Mataraman lebih mudah dijumpai di Mataraman Kulon daripada Mataraman Wétan.[2][11][8][10]

Bahasa Jawa Mataraman juga dituturkan oleh sebagian kecil masyarakat di Kabupaten Jombang maupun sebagian selatan-barat Kabupaten Malang karena wilayahnya berbatasan dengan Blitar, Kediri dan Nganjuk, walaupun juga terdapat pengaruh dari dialek Arekan.[12][13]

Beberapa kecamatan di Jombang bagian barat dan selatan , seperti Bandarkedungmulyo, sebagian barat Perak, sebagian Gudo dan sebagian Ngoro, memiliki pengaruh kebudayaan campuran Mataraman dan Arekan.[14][15] Sementara itu, penutur Mataraman (tercampur dialek Arekan) di Kabupaten Malang tersebar di wilayah bagian barat, barat-selatan antara lain wilayah Kasembon, sebagian Ngantang, Donomulyo, Sebagian Bantur, sebagian Gedangan, sebagian Pagak, sebagian Sumberpucung dan sebagian Kalipare.[16] Sedangkan masyarakat suku jawa di wilayah Kecamatan Kepanjen ke arah timur hingga Ampelgading (perbatasan Lumajang) menggunakan Dialek Arekan khususnya Dialek Malangan.

Fonologi dan Pengaruh Dialek Lain

Bahasa Jawa dialek Mataraman dari segi kosakata dan pengucapan memiliki banyak kemiripan dengan bahasa Jawa dialek Surakarta/Yogyakarta daripada bahasa Jawa Surabaya/Malang yang berlogat Arekan

Pengaruh dialek Arekan lebih terkonsentrasi di perbatasan antar kabupaten penutur dialek Mataraman dengan Arekan (Jombang/Malang), seperti beberapa kecamatan di Kabupaten Nganjuk bagian timur, Kabupaten Kediri bagian timur laut, Kabupaten Blitar bagian timur, Sebagian besar kecamatan-kecamatan lain di Kabupaten Kediri, Nganjuk, dan Blitar menggunakan dialek Mataraman dengan sedikit / minim pengaruh Arekan, terutama kecamatan yang jauh dengan perbatasan Jombang maupun Malang.[17]

Sementara wilayah Tulungagung dan Trenggalek terdapat beberapa ciri khas, seperti penyisipan konsonan [i] atau [y] pada sebagian kecil kata semisal kiabur (beterbangan), madhyang (makan).

Tidak hanya di Di Wilayah Mataraman Timur saja di Wilayah Mataraman Barat pun juga terdapat sedikit pengaruh dari Dialek Arekan maupun Dialek Bojonegoroan contohnya seperti penggunaan kata luwe/lesu (lapar) dan jedhing (kamar mandi) yang masih umum digunakan berbeda halnya dengan Masyarakat Jawa Tengah yang lebih sering menggunakan kata Ngelih dan Kolah.

Pengaruh Dialek Bojonegoro pada dialek Mataraman lebih kuat lagi di Madiun utara dan Ngawi utara (Mataraman Barat) dan juga di Nganjuk utara (Mataraman Wetan), karena wilayahnya berada di Pegunungan Kendeng dan berbatasan langsung dengan Bojonegoro.

Kosakata

Dialek Madiun-Kediri Dialek Lain
Bahasa Indonesia
aku (umum), kulå, ingsun (jarang digunakan) saya
sampeyan kamu
awak dewe kitå, mami, awak dewe kami
dewean, dewekan dewean sendirian
bocah, cah,

lare (versi halus)

arek (arekan) anak
batur, kåncå kåncå teman
mbaturi, ngancani ngancani menemani
iki, ki iki ini
kuwi, iku kuwi, iku itu
kae (ika+e) kae itu (jauh)
åpå åpå apa
pirå pirå berapa
såpå såpå siapa
ning endi ing endi dimana
kapan kapan kapan
nyapå, nyangåpå, napå ngåpå mengapa / kenapa
awit, kawit, kat, ket awit sejak
ruh/weruh tahu / ngerti
iyå, heeh, hooh iyå iya
ora, ndak, gak ora tidak
ora enek, ndenek, gak enek, genek ora ånå tidak ada
meneh, maneng, meneh, engkas lagi
kenek kenå (surakarta) dapat
enek, ånå ånå ada
bar, mari bar, rampung (surakarta) selesai
sedhelut, sedhilut sedhelå (surakarta) sebentar
dhisik, dhikik dulu
biyen

bengen (sebagian nganjuk utara)

biyen dahulu
sesuk besok
suk emben, mbesuk iki besok lusa
masiyå (umum),

senajan (jarang digunakan)

senajan, sanadyan walaupun
manjing (serapan kawi), masuk kerja
mlebu mlebu masuk
panggah, ajeg panced (arekan) tetap
tekå, tekan datang, sampai
sångkå, tekå dari
celuk, nyeluk memanggil
tuwek tuwå (surakarta) sepuh
sawise, sajog'e sesudah / baru saja
lagek baru saja
gek sedang, segera
dewean, dewekan dewean sendirian
ijik, jik, isih/isik masih
tas baru saja
nemen, eram sangat
pisan,sisan sekali/sekalian
nek, nak, lek, lak, lamun (beberapa wilayah di Trenggalek) yen (surakarta) kalau
kadung terlanjur
dhong-dhonge, basan ketika
delok, deleng, nyawang melihat
ngangge, gae, gawe, nganggo memakai
gawe buat
ndang, gek, age ayo/segera
wayuh diduakan
mblithuki, ngapusi bujuk/goroh (arekan) berbohong
tog, losne, jarne, umbar biarkan
kademen, katisen katuken (arekan) kedinginan
cegeh, wegah enggan
aras-arasen malas
budhal (umum), mangkat(jarang digunakan) berangkat
ngeloyong, nglayab, mblarah, ngluyur keluyuran
terah, patrah, nyatu pancen memang
mek, mung, gur hanya, cuma
polah, lewo tingkah
girap-girap, keweden ketakutan
njegeg, ndegeg membusungkan dada
nyilih nyelang (arekan) meminjam
genteni, gajuli menggantikan
gumun heran
wirang malu yang keterlaluan
dhelikan singidan (arekan),

umpetan (surakarta)

bersembunyi
kepung, uber, buru, odag kejar
lungguh, dodok, lingguh duduk
dodok jongkok, duduk
mbegegeg diam ditempat dan tidak mau bergerak
ideg pidak (surakarta) injak
kebeg kebak (surakarta) penuh
jogan, mester lantai
latar halaman
ratan, dalan jalan
jedhing kolah (surakarta) kamar mandi
jumbleng, kakus WC Tradisional yang ditutup anyaman bambu
mbale ruang tamu
emper teras
pawon dapur
latar halaman
kalenan sungai kecil
galengan pematang sawah
kedokan cekungan di sawah
iringan samping
ngarep depan
guri, buri belakang
longan bawah kasur
dhimar, ublik lampu minyak
jongkas sisir
sawang sarang laba-laba, melihat
ladhing

pangot/pengot (pengaruh dari dialek Bojonegoro/Aneman)

pisau
gendhul botol
lodhong toples
tewel gori (surakarta) nangka muda
kates pepaya
bothe/tales talas
telå / pohung singkong
cecek kulit sapi
pitik, ayam ayam
kirik anjing
kethek, bedhes, munyuk monyet
demek, demok memegang/meraba
jukuk, jikuk, jupuk mengambil
candhak, cekel menangkap/mengambil
koyah, jagongan mengobrol
klejingan tidak bisa diajak serius
kranjingan, dlogok kurang ajar
kasut kaus kaki
kebeteng terjebak hujan
keblondrok ketipu harga
keblegong jatuh ke dalam kubangan air/lumpur
kedadug terbentur tembok
luwe (umum), kaliren

lesu (sebagian Nganjuk dan sebagian Madiun Utara, pengaruh dari dialek Bojonegoro)

lapar
gelis cepat
magak, nanggung tanggung
kagok canggung
tonjok(an), ater-ater menghantar makanan dengan maksud mengundang ke hajatan
mbecek, buwuh jagong (surakarta) pergi ke kondangan
lempoh, kesel capek
pegel capek, muak
mangkel, kacel kecewa, muak
arang kadhing jarang
ora gedug tidak sampai (karena ketinggian)
bakul ethek penjual sayur
jangan sayur
kelan masak sayur
blendrang sayur sisa kemarin yang dihangatkan
sejinah sepuluh biji (benda)
ritèk (Kediri, Pacitan, Trenggalek, Tulungagung)

ritak (Ponorogo, Madiun)

berarti "saja"; bisa diartikan sebagai ungkapan penekanan.
Ora ritèk/ritak: "tidak usah"
dilokne, diece, dipoyoki dipoyoki (surakarta) dijelek-jelekan
nginggati silik menghindari
wira-wiri, uyar-uyur, sludar-sludur kesana kemari
plarak-plorok, plirak-plirik tatapan tajam kemana-mana
plonga-plongo, dlongap-dlongop bengong
peh, biyuh, yungalah ungkapan wah
ualon mên alon banget (surakarta) pelan sekali
guedi pol, guede gede banget (surakarta) besar sekali
ngrungokne ngrungokake (surakarta) mendengarkan
jukukne jupukake (surakarta) mengambilkan
jukuken, jikuken, jupuken ambilah
gawakne, gawaknå bawakan
gåwånen, gåwåen bawalah
krungon-krungonen mendengar suara tanpa tahu asalnya

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ E.M., Uhlenbeck (1964). A Critical Survey of Studies on the Languages of Java Madura. The Hague: Martinus Nijhoff. OCLC 469418172.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Lokasi penerbit (link)
  2. 1 2 Ignatius Kristanto; Yohan Wahyu, ed. (21 Juli 2008). "Kuali Peleburan di Tlatah Jawa Timur". Kompas.com. Diakses tanggal 11 Maret 2021.
  3. ↑ Basuki, Ribut. (2010). "Negosiasi Identitas dan Kekuasaan dalam Wayang Kulit Jawa Timuran". Disertasi. Depok: Universitas Indonesia
  4. ↑ Kota Madiun Dalam Angka. Madiun: Badan Pusat Statistik Kota Madiun. 2021. hlm. 241–242. ISSN 0215-5966.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. 1 2 "Kelompok Mataraman Mendominasi Jumlah Penduduk di Jawa Timur". Times Indonesia. 25 Januari 2021
  6. ↑ Budi, Arifina (27 Desember 2016). "Ini Keunikan yang Hanya Dimiliki Masyarakat Jawa Timur". Good News From Indonesia. Diakses tanggal 28 Januari 2020.
  7. ↑ Paryono, Yani (2014). Sistem Kata Ulang Bahasa Jawa Subdialek Madiun. doi:10.31503/madah.v5i2.515.
  8. 1 2 Satrya, I Dewa Gde (16 Agustus 2016). "Belajar Nilai dari Keluarga Jawa Mataraman". Universitas Ciputra. Diakses tanggal 28 Januari 2020.
  9. ↑ "Kuasai Dua Wilayah Ini, Paslon Menangi Pilgub Jatim". PublikSatu. 19 Maret 2018
    "Peta demografi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jawa Timur 2018 dibagi menjadi 5 sub-kultural wilayah, meliputi Arek, Mataraman, Mataraman Pesisir, Madura dan Tapal Kuda."
  10. 1 2 Fuad, A. Jauhar. (2019). Tlatah dan Tradisi Keagamaan Islam Mataraman. Kediri: Institut Agama Islam Tribakti
  11. ↑ "Ditentukan di Mataraman". Kompas.com. 24 Juli 2008. Diakses tanggal 11 Maret 2021.
  12. ↑ "Bahasa di Jombang Beragam, Ada Matraman dan Arek". Kabar Jombang. 2020-08-11. Diakses tanggal 2020-10-05.
  13. ↑ "Kisah Kota Malang, Calon Ibu Kota Negara". Terakota. 2018-01-02. Diakses tanggal 2020-02-27.
  14. ↑ "Kebudayaan Masyarakat Jombang". Pusaka Jawatimuran. Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur. 28 Juli 2012
  15. ↑ Cahyono, Heru. 2008. Wayang Jombangan: Penelusuran Awal Wayang Kulit Gaya Jombangan. Jombang: Pemerintah Kabupaten Jombang, Hal: 1-3
  16. ↑ Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Kabupaten Malang 2011-2015: Gambaran Umum dan Kondisi Wilayah Kabupaten Malang (PDF). Malang: Pemerintah Kabupaten Malang. hlm. 2–28. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2020-01-11. Diakses tanggal 2020-10-05.{{cite book}}: Parameter tidak dikenal |dead-url= diabaikan (|url-status= disarankan)
  17. ↑ Ningsih, Faridha Sadik Purwita (2013). "Pemetaan Bahasa Jawa Dialek Mataraman di Kecamatan Puncu (ex Kawedanan Pare), Kabupaten Kediri, Jawa Timur". Universitas Muhammadiyah Malang: hlm. 3.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan