Rabu, 30 September 2026
09:08 WIB
TERKINI
Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Megapolitan Demo Buruh di DPR Lumpuhkan Gatot Subroto: Simak Jalur Alternatifnya Megapolitan Komunikasi Terputus Jadi Akar Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Regional KPU Batam Musnahkan Ribuan Surat Suara Rusak, Jaga Integritas Pemilu Regional Gagal Menulis Ulang: Konten Berita Tidak Memadai Way Kanan Kepala Toko Alfamart Way Kanan Diduga Gelapkan Rp141 Juta, Dua Pelaku Ditangkap Hiburan Lisa BLACKPINK Ukir Sejarah: Solois Asia Pertama Sabet Best Pop MTV VMAs 2026 Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Turun Drastis Rp17 Ribu, Cek Daftar Lengkap 29 September 2026 Hiburan TXT Gegerkan Penggemar dengan Mini Album 'PERFECT STORM' dan Tur Dunia Termasuk Jakarta Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Megapolitan Demo Buruh di DPR Lumpuhkan Gatot Subroto: Simak Jalur Alternatifnya Megapolitan Komunikasi Terputus Jadi Akar Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Regional KPU Batam Musnahkan Ribuan Surat Suara Rusak, Jaga Integritas Pemilu Regional Gagal Menulis Ulang: Konten Berita Tidak Memadai Way Kanan Kepala Toko Alfamart Way Kanan Diduga Gelapkan Rp141 Juta, Dua Pelaku Ditangkap Hiburan Lisa BLACKPINK Ukir Sejarah: Solois Asia Pertama Sabet Best Pop MTV VMAs 2026 Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Turun Drastis Rp17 Ribu, Cek Daftar Lengkap 29 September 2026 Hiburan TXT Gegerkan Penggemar dengan Mini Album 'PERFECT STORM' dan Tur Dunia Termasuk Jakarta Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang

Dermatomiositis

Bagikan:

Dermatomiositis adalah penyakit langka yang mengakibatkan kelemahan otot dan munculnya ruam pada kulit. Penyakit ini termasuk jenis miopati.[1] Gejala yang muncul antara lain ruam yang mencolok, otot yang lemas, dan radang pada otot yang penyebabnya belum diketahui. Penyakit ini dapat menyerang baik anak-anak maupun dewasa. Pada orang dewasa, dermatomiositis biasanya muncul di usia akhir 40-an hingga awal 60-an, sedangkan pada anak-anak, muncul pada rentang usia 5 hingga 15 tahun. Dermatomiositis lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria.[2]

Gejala

Beberapa tanda dan gejala dermatomiositis yang paling umum yaitu pertama, ruam berwarna keunguan atau kemerahan muncul, terutama pada wajah, kelopak mata, buku jari, siku, lutut, dada, dan punggung. Ruam ini bisa terasa sakit atau gatal dan sering kali merupakan gejala awal dermatomiositis. Kedua, kelemahan otot yang berkembang secara perlahan biasanya dimulai dari pinggul, paha, bahu, lengan atas, serta leher di kedua sisi tubuh. Seiring waktu, kondisi ini akan semakin memburuk.[3]

Penyebab

Penyebab dari dermatomiositis masih belum diketahui hingga saat ini. Hasil riset membuktikan bahwa kondisi ini dilibatkan oleh penyakit autoimun di dalam tubuh manusia. Sistem kekebalan tubuh dapat melemah akibat infeksi virus, kanker, dan penyakit lainnya.[4]

Diagnosis

Diagnosis dermatomiositis dilakukan melalui beberapa pemeriksaan. Pertama, tes darah untuk memeriksa peningkatan kadar enzim otot seperti kreatinin, kinase, dan aldolase. Kadar enzim yang tinggi dapat menunjukkan kerusakan otot. Tes darah juga dapat mendeteksi antibodi yang memicu gejala-gejala dermatomiositis. Kedua, rontgen atau sinar X dada untuk memeriksa kerusakan paru yang sering ditemukan pada pasien dermatomiositis. Ketiga, dokter mungkin memasukkan elektrode jarum tipis ke dalam kulit untuk mengukur aktivitas listrik otot saat dikencangkan dan dilemaskan. Pola aktivitas listrik yang abnormal dapat menunjukkan penyakit otot di lokasi tertentu. Keempat, MRI untuk memantau peradangan di otot. Terakhir, jaringan kulit atau otot akan diambil dan diperiksa di laboratorium untuk memastikan adanya dermatomyositis. Jika biopsi kulit sudah cukup menunjukkan dermatomyositis, maka biopsi otot mungkin tidak diperlukan.[2]

Penanganan

Penanganan dermatomiositis melibatkan pemberian obat-obatan dan tindakan medis. Kortikosteroid sering diresepkan untuk mengurangi respon inflamasi pada otot dan kulit. Obat seperti prednisone harus dikonsumsi sesuai resep dokter, dengan dosis yang dimulai dari yang tertinggi dan diturunkan secara bertahap hingga gejala menghilang. Penggunaan kortikosteroid jangka panjang tidak dianjurkan, terutama pada remaja. Jika muncul efek samping dari prednisone, obat lain seperti azathioprina dan methotrexate dapat digunakan.[4]

Selain obat-obatan, Intravenous Immunoglobulin (IVIG) dapat digunakan untuk memblokade antibodi dan mencegah reaksi autoimun. Tindakan ini dipilih jika pengobatan kortikosteroid tidak berhasil. IVIG dapat bekerja bersama dengan imunosupresan atau sebagai alternatif.[4]

Terapi fisik atau olahraga juga dianjurkan untuk membantu memperbaiki kerusakan otot dan meningkatkan kontraksi serta refleks otot. Otot yang lebih kuat akan lebih mampu mengatasi kerusakan akibat dermatomiositis.[1]

Referensi

  1. 1 2 "Dermatomyositis: Symptoms, Causes & Treatments". Cleveland Clinic (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-03-02.
  2. 1 2 "Dermatomyositis: Gejala, Penyebab, Obat, dll. • Hello Sehat". Hello Sehat. 2017-12-12. Diakses tanggal 2025-03-02.
  3. ↑ "Dermatomyositis-Dermatomyositis - Symptoms & causes". Mayo Clinic (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-03-02.
  4. 1 2 3 "Dermatomyositis Adalah? - Tanda, Penyebab, Gejala, Cara Mengobati". HonestDocs. Diakses tanggal 2025-03-02.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan