Jumat, 23 Oktober 2026
05:45 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Jejak Multidisiplin Anshori Djausal Terekam dalam Pameran Kayu Ara di Lampung Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Jejak Multidisiplin Anshori Djausal Terekam dalam Pameran Kayu Ara di Lampung Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal
Dermatitis atopik

Dermatitis atopik

Bagikan:
250px-Atopic_dermatitis.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Dermatitis atopik pada pipi anak-anak.

Dermatitis atopik (DA) atau yang biasa disebut sebagai eksem atopik adalah penyakit kulit menahun (kronik), inflamasi, sangat gatal, dapat kambuh lagi setelah dinyatakan sembuh (residivistis), dan remisi.[1][2] Kejadian DA paling sering terjadi pada bayi dan anak-anak.[1] Interaksi faktor genetik, disfungsi imun, disfungsi sawar kulit, serta faktor penyebab lainnya, seperti faktor lingkungan dan agen infeksius, diduga merupakan dasar dari patogenesis DA[1][2]

Anak-anak dengan riwayat atopi dalam keluarga seperti asma dan rinitis alergi lebih berisiko menderita DA.[2] Alergi makanan merupakan gejala yang juga sering timbul bersamaan dengan DA selama 2 tahun pertama kehidupan anak, yang akan membaik pada usia prasekolah.[1]

Sekitar 10-20% anak dan 1-3% dewasa di dunia menderita DA dengan angka kejadian yang cenderung meningkat di berbagai belahan dunia.[1] Dermatitis atopik merupakan penyakit kulit yang paling banyak ditemukan di negara berkembang.[3] Prevalensinya meningkat dua hingga tiga kali lipat di negara industri selama tiga dekade terakhir, yaitu 15-30% pada anak dan 2-10% pada dewasa.[3] Sekitar 85% pasien dengan DA adalah anak berusia 3 hingga 5 bulan, dengan 60% kasus berkembang pada tahun pertama kehidupan dan 90% pada usia 5 tahun.[3] Sekitar 70% dari kejadian DA pada pasien berlanjut menjadi asma atau rhinitis alergi.[3]

Tanda dan gejala

Gejala utama yang sangat khas dan terpenting yang dapat ditemukan pada penderita DA adalah rasa gatal (pruritus).[2] Gatal pada kasus DA dapat mengganggu tidur sehingga memengaruhi kualitas hidup, terutama pada anak-anak. [2]

Patofisiologi

Dermatitis atopik dapat diklasifikasikan menjadi dua tipe, yaitu tipe ekstrinsik dan intrinsik. DA ekstrinsik yang juga dikenal dengan DA alergi, ditandai dengan terjadinya peningkatan nilai serum IgE. DA ekstrinsik juga sering dikatikan dengan kejadian asma bronkial dan rinitis alergi, sedangkan DA tipe intrinsik (DA nonalergi) memiliki nilai IgE normal.[2]

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 Movita, Theresia (2014). "Tatalaksana Dermatitis Atopik". Cermin Dunia Kedokteran. 41 (11): 828–831. doi:10.55175/cdk.v41i11.1074. ISSN 2503-2720. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-10-18. Diakses tanggal 2022-10-16.
  2. 1 2 3 4 5 6 Earlia, Nanda; Lestari, Wahyu; Prakoeswa, Cita R. S. (2021). Dermatitis Atopik. Aceh: Syiah Kuala University Press. hlm. 13, 14, 15, 36, 37. ISBN 978-623-264-461-8.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. 1 2 3 4 Eliska, Noviyanti; Thaha, M. Athuf; Anwar, Chairil (2015). "Faktor Risiko pada Dermatitis Atopik". Jurnal Kedokteran dan Kesehatan: Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. 2 (1): 143–149.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan