| Datuk Kahfi | |
|---|---|
| As-Syekh Syarif Maulana Idhofi Mahdi | |
| Gelar | Sunan Gunung Jati I |
| Nasab | bin Ahmad |
| Nisbah | Al Qodiri |
| Lahir | Maulana Idhofi Mahdi Semenanjung Malaka |
| Meninggal | Kesultanan Cirebon |
| Dimakamkan di | Astana Gunung Sembung |
| Nama lain | - Syekh Nurjati - Syekh Datuk Barul |
| Kebangsaan | - Kerajaan Sunda - Kesultanan Cirebon |
| Pekerjaan | Pendiri Ponpes Amparan Jati |
| Denominasi | Sunni |
| Murid dari | Datuk Ahmad, Guru-gurunya |
| Istri |
|
| Keturunan | Pernikahan dengan Halimah :
Pernikahan dengan Hadijah :
|
| Orang tua | Datuk Ahmad (ayah) |
Datuk Kahfi merupakan tokoh Penyebar agama Islam di Wilayah Cirebon dan sekitarnya. Beliau adalah Putra dari Datuk Ahmad dan juga sepupu dari Syekh Siti Jenar.[1][2]
Syekh Nurjati lahir di Semenanjung Malaka. Setelah berusia cukup dewasa pergi ke Mekah untuk menuntut ilmu dan berhaji. Kemudian pergi ke Baghdad dan menikah dengan Halimah.
Dari Baghdad ia pergi berdakwah sampai di Pesambangan, bagian dari Nagari Singapura (sekarang Desa Mertasinga, Kabupaten Cirebon). Disinilah Beliau menikah lagi dengan Hadijah (Cucu Haji Purwa Galuh). Ia wafat dan dimakamkan di Giri Amparan Jati.[1][2]
Riwayat tentang Syekh Nurjati terungkap dalam berbagai manuskrip, diantaranya, Carita Purwaka Caruban Nagari, Babad Tanah Sunda, Sejarah Cirebon, Carub Kanda, Babad Cirebon, Wawacan Sunan Gunung Jati, Naskah Mertasinga, Naskah Kuningan dan Naskah Pulasaren.[1][2]
Keluarga
Silsilah
Ini adalah Silsilah yang divalidasi oleh Lembaga Kekancingan Rabithah Babad Kesultanan Banten :
Syekh Nurjati bin Ahmad bin Isa bin Abdul Qadir Al-Kailani bin Junaid bin Abdul Qadir bin Syu'aib bin Abdul Jabbar bin Abdurrazaq bin Abdul Aziz bin Ahmad bin Sholih bin Abdul Qadir al-Jailani.[3]
Istri dan Anaknya
Setelah Syekh Datuk Kahfi menuntut ilmu di Mekah, Syekh Nurjati mencoba mengamalkan ilmu yang diperoleh dengan mengajarkannya di wilayah Baghdad. Di Baghdad Syekh Nurjati menikah dengan Halimah, putri dari Ali Nurul Alam.
Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai empat orang anak, yakni:
- Syekh Abdurakhman yang kelak di Cirebon bergelar Pangeran Panjunan (ayah Pangeran Tubagus Angke, dan Pangeran Pamelekaran kakek Pangeran Santri),
- Syekh Abdurakhim (kelak bergelar Pangeran Kejaksan),
- Fatimah (yang bergelar Syarifah Bagdad menikah dengan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati), dan
- Syekh Datul Khafid (kadang-kadang disebut juga sebagai Syekh Datul Kahfi, sehingga membuat rancu dengan sosok ayahnya yaitu Syekh Datuk Kahfi, atau Syekh Nurjati di beberapa manuskrip yang lebih muda umurnya, contohnya Babad Cirebon Keraton Kasepuhan).
Keempat anak tersebut dijamin nafkahnya oleh kakak Syarifah Halimah, Syarif Sulaiman yang menjadi raja di Bagdad. Syarif Sulaiman menjadi raja di Bagdad karena menikahi putri mahkota raja Bagdad.
Saudara
Syekh Datuk Kahfi memiliki dua orang adik, yaitu laki-laki Syekh Bayanullah atau Syekh Maulana Akbar yang mempunyai pondok di Mekah, yang kemudian mengikuti jejak kakaknya berdakwah di Cirebon.
Syekh Bayanullah memiliki putra Syekh Maulana Arifin menikah dengan Nyai Ratu Selawati dari pernikahannya dikaruniai putri Nyi Mas Kencanawati yang menikah dengan Adipati Kuningan putra Ki Gedeng Luragung (seorang kepala daerah di Luragung) yang masih saudara sepupu Nyai Ratu Selawati (putri Pangeran Surawisesa cucu Prabu Siliwangi).
Dan seorang adik Syekh Datuk Kahfi wanitanya menikah dengan Raja Upih Malaka. Lalu dari perkawinan tersebut lahir lah seorang putri yang kelak menikah dengan Dipati Unus dari Demak.
Sepupu Syekh Siti Jenar
Maulana Isa, Kakek dari Syekh Nurjati, adalah seorang tokoh agama yang berpengaruh pada zamannya.
Putranya bernama Syekh Datuk Ahmad (ayah dari Syekh Nurjati) dan Syekh Datuk Sholeh.
Syekh Datuk Sholeh, adik dari ayah Syekh Nurjati, memiliki putra yang selanjutnya dikenal dengan nama Syekh Siti Jenar.[4][5]
Daftar Murid

Syekh Datuk Kahfi merupakan guru dari Pangeran Walangsungsang dan Nyai Rara Santang (Syarifah Muda'im), yaitu putera dan puteri dari Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi), raja Kerajaan Pajajaran, Jawa Barat. Syekh Datuk Kahfi wafat dan dimakamkan di Gunung Jati, bersamaan dengan makam Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), Pangeran Pasarean, dan raja-raja Kesultanan Cirebon lainnya.
Syekh Nurjati adalah tokoh utama penyebar agama Islam yang pertama di Cirebon. Tokoh yang lain adalah Maulana Magribi, Pangeran Makhdum, Maulana Pangeran Panjunan, Maulana Pangeran Kejaksan, Maulana Syekh Bantah, Syekh Majagung, Maulana Syekh Lemah Abang, Mbah Kuwu Cirebon (Pangeran Cakrabuana), dan Syarif Hidayatullah. Pada suatu ketika mereka berkumpul di Pasanggrahan Amparan Jati, dibawah pimpinan Syekh Nurjati. Mereka semua murid-murid Syekh Nurjati. Dalam sidang tersebut Syekh Nurjati berfatwa kepada murid-muidnya:
“Wahai murid-muridku, sesungguhnya masih ada suatu rencana yang sesegera mungkin kita laksanakan, ialah mewujudkan atau membentuk masyarakat Islamiyah. Bagaimana pendapat para murid semuanya dan bagaimana pula caranya kita membentuk masyarakat islamiyah itu?”.
Para murid dalam sidang mufakat atas rencana baik tersebut. Syarif Hidayatullah berpendapat bahwa untuk membentuk masyarakat islam sebaiknya diadakan usaha memperbanyak tabligh di pelosok dengan cara yang baik dan teratur. Pendapat ini mendapat dukungan penuh dari sidang, dan disepakati segera dilaksanakan. Sidang inilah yang menjadi dasar dibentuknya organisasi dakwah dewan Walisongo.
Keharmonisan dakwah antara Cirebon dan Karawang
- Cucu Syekh Ahmad dari Nyi Mas Kedaton, bernama Musanudin. Kelak Musanudin menjadi lebai di Cirebon, memimpin Masjid Agung Sang Cipta Rasa pada masa pemerintahan Susuhunan Jati (Sunan Gunung Jati). Sedang Syekh Ahmad merupakan anak dari Syekh Quro dengan Ratna Sondari, putri Ki Gedeng Karawang.
- Puteri Karawang memberikan sumbangan hartanya untuk mendirikan sebuah masjid di Gunung Sembung (Nur Giri Cipta Rengga) yang bernama Masjid Dog Jumeneng/ Masjid Sang Saka Ratu, yang sampai sekarang masih digunakan dan terawat baik.
- Pengangkatan juru kunci di situs makam Syekh Quro dikuatkan oleh pihak Keraton Kanoman Cirebon.
Kutipan
- Biografi Syekh Nurjati Situs resmi IAIN Nurijati Cirebon
- para santri dan sejarah cirebon yang terlupakan
- Silsilah Pangeran Santri Koesoemadinata
- Arkeologi Islam Nusantara Oleh Uka Tjandrasasmita
- Untold Story Syekh Nurjati oleh Dodi Nurdjaja
- Sejarah Kuningan oleh Adiyta guru SMA Negeri 1 Kuningan
- Asy Seikh Datul Kahfi / Syekh Nurjati / Maulana Idhofi Mahdi
- Biografi Syekh Nurjati H. R. Bambang Irianto, BA dan Dra. Siti Fatimah, M.hum. 2009. Syekh Nurjati (Syekh Datul Kahfi) perintis Dakwah dan Pendidikan. Cirebon: Zulfana Cirebon
Referensi
- 1 2 3 (Indonesia)
Biografi Syekh Nurjati
"www.iaincirebon.ac.id". Diarsipkan dari asli tanggal 2016-02-02. Diakses tanggal 12-04-12.
{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam:|accessdate= - 1 2 3 (Indonesia)
Syekh Nurjati Mahaguru dari Cirebon
"www.koran.republika.co.id". Diakses tanggal 12-04-12.
{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam:|accessdate=[pranala nonaktif permanen] - ↑ Syadzarat Adz-Dzahab (4/198) oleh Ibnul Imad Al-Hanbali)
- ↑ (Indonesia) Biografi Syekh Nurjati Diarsipkan 2015-01-20 di Wayback Machine. Situs resmi IAIN Nurijati Cirebon.
- ↑ (Indonesia) Biografi Syekh Nurjati Drh. H. R. Bambang Irianto, BA dan Dra. Siti Fatimah, M.hum. 2009. Syekh Nurjati (Syekh Datul Kahfi) perintis Dakwah dan Pendidikan. Cirebon: Zulfana Cierbon.