
Dasar awan merupakan bagian terendah dari awan yang tampak jelas ketika terjadi perubahan keadaan atmosfer. Ketinggian dasar awan biasanya diukur menggunakan meter di atas permukaan laut atau permukaan bumi atau dinyatakan dalam bentuk tingkat tekanan Udara yang sesuai dengan ketinggiannya dalam satuan hektopascal (hPa, yang setara dengan milibar).
Pengukuran
Ketinggian suatu dasar awan diukur dengan sebuah alat bernama ceilometer. Alat ini memantulkan berkas cahaya dari dasar awan, kemudian menghitung jaraknya menggunakan metode triangulasi atau waktu tempuh pantulan cahaya.[1] Selain itu, ketinggian dasar awan dapat pula diperkirakan dengan pengukuran suhu dan kelembapan udara di permukaan dengan menghitung tingkat kondensasi yang terangkat. Metode pengukurannya mencakup:[2]
- Temukan perbedaan antara suhu permukan dan titik embun yang kemudian hasil temuannya disebut "spread".
- Lalu, nilai "spread" dibagi 2,5 jika suhu udara dinyatakan dalam Celsius (°C), kemudian hasil pembagian dikalikan 1000. Hasil perhitungan itulah yang menunjukkan ketinggian dasar awan.
- Dari perhitungan sebelumnya, tambahkan dengan ketinggian permukaan guna memperoleh ketinggian dasar awan dari atas permukaan laut.
Rujukan
- ↑ National Weather Service Glossary (dalam bahasa Inggris). The National Oceanic and Atmospheric Administration. 16 November 2012. hlm. 60. ISBN 978-1-300-41402-5. Diakses tanggal 28 Desember 2021.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Bradbury, Tom (1997). Meteorology and Flight. A&C Black Publishers Ltd. ISBN 0713668318.
Artikel bertopik meteorologi dan klimatologi ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya. |