Minggu, 27 September 2026
10:29 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG
Sianotoksin

Sianotoksin

250px-Cyanobacterial_Scum.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buih hijau yang diproduksi oleh Sianobakteri saat terjadi ledakan populasi alga

Sianotoksin adalah racun yang diproduksi oleh sianobakteri (juga dikenal sebagai ganggang biru-hijau atau (toska). Sianobakteri ditemukan hampir di seluruh dunia, tetapi populasi yang paling banyak dapat ditemukan di daerah berarair seperti danau dan lautan. Di tempat yang memiliki konsentrasi fosfor yang tinggi sianobakteri dapatbereproduksi secara eksponensial, dalam beberapa kasus ledakan Sianobakteri menimbulkan ledakan populasi alga. Dalam konsentrasi yang tinggi sianotoksin dapat meracuni dan bahkan membunuh hewan dan juga manusia yang. Sianotoksin juga dapat terakumulasi pada hewan lain yang bersentuhan langsung dengan koloni sianobakteria, terutama jenis hewan penyaring seperti beberapa jenis ikan, kerang, udang dan kepiting yang mana akan meyebabkan keracunan bila dikonsumsi.

Sianotoksin merupakan salah satu dari racun alami yang sangat kuat. Sianotoksin secara angresif menyerang sistem saraf (neurotoksin), menghancurkan hati (hepatoksin) , menyerang sel tubuh (sitotoksin) bekerja seperti halnya sel darah putih), dan juga bersifat endotoksin. Meskipun memiliki kesamaan dalam nama, sianotoksin tidak terkait dengan sianida. Paparan dari racun ini dapat menyebabkan gejala gangguan sistem pencernaan dan juga rinitis alergi atau ruam kulit pruritus .[1] Paparan asam amino BMAA dari racun ini dapat menyebabkan penyakit neurodegeneratif seperti Sklerosis Lateral Amiotrofik (ALS), penyakit Parkinson, dan penyakit Alzheimer .[2]


Struktur kimia

Sianotoksin biasanya menargetkan sistem saraf ( neurotoksin ), hati ( hepatotoxins ) atau kulit ( dermatoksin ). Struktur kimia sianotoksin jatuh ke dalam tiga kelompok besar: peptida siklik, alkaloid dan lipopolisakarida.[3]

Struktur kimia sianotoksin [3]
Struktur sianotoksin Organ yang terdampak pada mamalia genus Sianobakteria
Peptida siklik Mikrosistin Hati Microcystis, Anabaena, Planktothrix (Oscillatoria), Nostoc, Hapalosiphon, Anabaenopsis
Nodularin Hati Nodularia
Alkaloid Anatoxin-a sinapsis saraf Anabaena, Planktothrix (Oscillatoria), Aphanizomenon
Guanitoksin sinapsis saraf anabaena
silindrospermopsin Hati Cylindrospermopsis, Aphanizomenon, Umezkia
Lyngbyatoksin-a Kulit, usus Lyngbya
Saksitoksin sinapsis saraf Anabaena, Aphanizomenon, Lyngbya, Cylindrospermopsis
Aetokthonotoksin materi putih otak; toksisitas pada mamalia belum dikonfirmasi aetokthonos
Lipopolisakarida Potensi iritasi; mempengaruhi jaringan yang terbuka Semua
Poliketida Aplysiatoxins Kulit Lyngbya, Schizothrix, Planktothrix (Oscillatoria)
Asam amino BMAA Sistem saraf Semua

Referensi

  1. ↑ Stewart I, Webb PM, Schluter PJ, Shaw GR (2006). "Recreational and occupational field exposure to freshwater cyanobacteria – a review of anecdotal and case reports, epidemiological studies and the challenges for epidemiologic assessment". Environmental Health. 5 (1): 6. doi:10.1186/1476-069X-5-6. PMC 1513208. PMID 16563159.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
  2. ↑ Holtcamp, W. (2012). "The emerging science of BMAA: do cyanobacteria contribute to neurodegenerative disease?". Environmental Health Perspectives. 120 (3): a110–a116. doi:10.1289/ehp.120-a110. PMC 3295368. PMID 22382274.
  3. 1 2 Ingrid Chorus; Jamie Bartram (1999-02-11). Toxic Cyanobacteria in Water: A Guide to their Public Health Consequences, Monitoring and Management. Vol. 45. Taylor & Francis. hlm. 1212. Bibcode:2000LimOc..45.1212C. doi:10.4319/lo.2000.45.5.1212. ISBN 978-0-419-23930-7.{{cite book}}: |work= diabaikanPemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan