Rabu, 28 Oktober 2026
15:18 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Cura Annonae

Cura Annonae

Bagikan:
330px-Nero_Lugdunum_sestertius_691535.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sekeping uang logam dari masa pemerintahan Kaisar Nero, sisi ekornya bergambar Dewi Anona (personifikasi pasokan gandum) dan Dewi Seres (kuilnya merupakan pusat pencatuan gandum)

Cura Annonae (Penyelenggaraan Anona) adalah istilah yang digunakan pada zaman Romawi Kuno, sebagai tanda bakti kepada Dewi Anona, salah satu sembahan bangsa Romawi, untuk menyifatkan kegiatan impor dan distribusi gandum kepada warga kota Roma, dan kemudian hari kepada warga kota Konstantinopel, sesudah kota itu didirikan. Pemerintah Roma mengimpor sebagian besar gandum yang dikonsumsi warganya, yang diperkirakan berjumlah satu juta jiwa pada abad ke-2 Masehi. Salah satu unsur penting di dalam kegiatan ini adalah pencatuan gandum, yakni program pemerintah untuk membagi-bagikan gandum cuma-cuma atau bersubsidi, yang kemudian hari diganti dengan roti, kepada warga termiskin kota Roma. Program pembagi-bagian jatah gandum kepada kira-kira 200.000 orang tersebut merupakan salah satu contoh program jaring pengaman sosial yang paling awal dan yang paling lama berjalan.

Memasok dan mencatu gandum secara teratur dan terprediksi merupakan bagian dari strategi pemerintah Roma untuk memelihara ketenteraman di tengah-tengah populasi kota yang mudah resah dengan menyediakan sesuatu yang disindir pujangga Yuvenalis dengan istilah "roti dan gelanggang". Pada tahun 22 Masehi, Kaisar Tiberius mengemukakan pandangannya bahwa penelantaran Cura Annonae bakal mengakibatkan "kehancuran telak negara".[1]

Sumber-sumber utama gandum, kebanyakan gandum durum, adalah Mesir, Afrika Utara (sekarang Libya, Tunisia, Aljazair, dan Maroko), dan Sisilia. Logistik pengangkutan gandum lewat laut dari daerah-daerah tersebut ke kota Roma membutuhkan ratusan kapal, beberapa di antaranya sangat besar, dan membutuhkan pula suatu sistem ekstensif untuk mengumpulkan gandum dan mendistribusikannya di kota Roma. Jarang sekali ada rekam arkeologis perdagangan gandum, karena sifat gandum yang mudah rusak menjadikannya sukar dideteksi para arkeolog.[2]

Tidak diketahui kapan Cura Annonae berakhir. Kegiatan yang mirip dengan Cura Annonae mungkin masih terus dijalankan untuk kota Roma sampai selambat-lambatnya abad ke-6 Masehi, tetapi jumlah gandumnya tidak lagi sebanyak dulu; sementara di Konstantinopel, kegiatan semacam Cura Annonae dalam skala yang diperkecil bertahan sampai selambat-lambatnya abad ke-7 Masehi. Omongan Kaisar Tiberius terbukti benar, Cura Annonae memang berkaitan erat dengan kemaslahatan Roma. Populasi kota itu merosot tajam pada tahun-tahun menjelang runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat. Sesudah Roma terpuruk, tidak ada lagi kota di Eropa yang mampu membina jaringan pengangkutan yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pangan satu juta penduduk sampai dengan abad ke-19.

330px-Europe_180ad_roman_trade_map.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Jalur-jalur dagang Romawi pada tahun 180 Masehi

Catatan

  1. ↑ Rickman, G.E. (1980). "The Grain Trade Under the Roman Empire". Memoirs of the American Academy in Rome. 36: 263. doi:10.2307/4238709. JSTOR 4238709. Diunduh dari JSTOR.
  2. ↑ Tidak seperti, misalnya, sisa-sisa arkeologis buyung atau bejana (amfora) untuk mengirimkan anggur dan minyak zaitun yang sudah ditemukan sampai ribuan banyaknya.

Sumber

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Cura Annonae.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan