Minggu, 18 Oktober 2026
09:33 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten
Cukil kayu

Cukil kayu

Bagikan:
250px-Lune_Ishiyama_Yoshitoshi.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Cukil kayu ukiyo-e, Ishiyama Moon karya Tsukioka Yoshitoshi (1889)

Cukil kayu (bahasa Inggris:woodcut, xylography) adalah teknik cetak paras dalam seni grafis. Gambar dipahat pada permukaan papan kayu dengan bagian yang akan dicetak tetap sejajar dengan permukaan, sementara bagian yang tak dicetak, dicukil atau dipahat dengan tatah/alat cukil. Bagian yang dicukil dengan pisau atau tatah hasilnya menjadi "putih" (warna kertas atau bahan lain), bagian yang tidak dicukil tetap sejajar dengan permukaan aslinya maka hasilnya menjadi "hitam" (warna tinta). Seni cukil kayu disebut juga dengan "xilografi" yang berasal dari bahasa Yunani xylon (kayu) dan graphō (menulis/menggambar), yang secara harfiah berarti "menulis pada kayu".

Sejarah

Jejak awal teknik cukil kayu dapat ditelusuri hingga sekitar 3000 SM di Mesopotamia, ketika cap silinder digunakan untuk membuat impresi pada tanah liat. Namun, perkembangan cukil kayu sebagai teknik cetak gambar terjadi setelahnya. Di Tiongkok, teknik ini berkembang sekitar abad ke-3 M dan digunakan untuk mereproduksi gambar dewa-dewa Buddha. Di Eropa, cukil kayu mulai digunakan secara luas pada akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15, terutama setelah produksi kertas meningkat dan menggantikan perkamen yang lebih mahal. Awalnya, cukil kayu banyak dipakai untuk tujuan religius, seperti mencetak gambar santo dan ikon dalam jumlah besar. Selanjutnya, teknik ini digunakan untuk kartu permainan dan ilustrasi buku.[1]

Teknik

250px-Printing_from_wood_type_at_the_Hamilton_Museum.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Perajin sedang melakukan proses pencetakan menggunakan huruf kayu di Museum Hamilton.

Dalam teknik cukil kayu, seniman terlebih dahulu menggambar desain pada permukaan papan kayu yang rata. Bagian latar kemudian dipahat menggunakan pisau atau tatah, sehingga menyisakan bagian gambar dalam bentuk relief. Setelah itu, tinta digulungkan di atas permukaan yang menonjol, lalu kertas ditekan di atasnya untuk memindahkan gambar.

Referensi

  1. ↑ Tuychievich, Khusanov Nosirdjon (2022-07-16). "The history of woodcut, today, tomorrow". Eurasian Journal of History, Geography and Economics (dalam bahasa Inggris). 10: 12–17. ISSN 2795-7659.

Pranala luar

Ikon rintisan

Artikel bertopik seni ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan