Senin, 02 November 2026
20:54 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare
Cu-chong-kao

Cu-chong-kao

Pastri Tionghoa

Bagikan:
40px-Wiki_letter_w.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Oktober 2022)
Cu-chong-kao (豬腸糕)
250px-%E5%8D%B0%E5%B0%BC%E9%82%A6%E5%8A%A0%E5%B3%B6%E5%AE%A2%E5%AE%B6%E8%B1%AC%E8%85%B8%E7%B3%95.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Cu-chong-kau khas Pulau Bangka yang telah dipotong-potong.
Nama lainCu-chong-kau, cu-chong-kaw, chû-chhòng-kâu
Tempat asalTiongkok, Indonesia
PenciptaMasyarakat Hakka
Bahan utamaBeras ketan, gula
Bahan yang umum digunakanWijen

Cu-chong-kao, cu-chong-kau (豬腸糕; PFS: chû-chhòng-kâu) adalah kue tradisional khas Hakka yang biasa dimakan pada saat perayaan Festival Pertengahan Musim Gugur (Zhōngqiū jié).[1] Kue ini dapat dianggap sebagai salah satu varian kue bulan yang bisa ditemukan di berbagai komunitas Hakka di Indonesia.

Kue ini mempunyai tekstur yang lembut mirip kue mochi.[1] Bahan utamanya adalah adonan tepung ketan dan gula.[1] Untuk mempercantik biasanya ditaburi dengan biji wijen.

Lihat juga

Pranala luar

Referensi

  1. 1 2 3 Ragam Kue Bulan: Sajian Khas untuk Festival Pertengahan Musim Gugur, National Geographic Indonesia. Afkar Aristoteles Mukhaer. Akses: 06-10-2021.
Ikon rintisan

Artikel bertopik makanan ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan